18 Agustus 2025. Bikin riset dengan pendekatan semiotika, mungkin sudah biasa. Anak skripsi S1 sudah biasa. Tapi bagaimana kalau yang bikini riset itu anak SMA? Inilah yang dilakukan oleh anak SMA Gonzaga Jakarta.
Di sela-sela ikut membantu kepanitiaan turnamen mini soccer lintas iman yang digagas Pengurus Pusat Pemuda Katolik, saya melayani wawancara untuk tema semiotika.
Hillary dan Calista. Dua anak SMA Gonzaga tersebut lagi menyiapkan riset semiotika untuk sebuah event perlombaan.
Katanya, kami sudah sampai tahap semifinal Pak. Kalau ini kami lolos maka kami akan masuk final.
Dua siswi SMA Gonzaga Jakarta ini menulis tentang microtargeting kampanye Pemilu 2024, dengan pendekatan semiotika. Tokoh semiotik yang dipilih adalah Semiotika Roland Barthes.
Yang sangat menarik bagi saya adalah keduanya ini baru duduk di bangku SMA. Tapi mereka sudah berani untuk menulis dengan teori dan pendekatan yang umum dilakukan anak kuliahan semester akhir.
Dan lebih lagi, tema politik yang mereka bahas. Umumnya, orang selalu berpadangan anak Gen Z tidak suka politik. Mereka elergi kalau ngomong politik.
Tapi dua anak Gen Z ini berbeda. Mereka sangat tertarik untuk menulis tentang semiotika politik. Bahkan, mereka coba untuk memprediksi bagaimana nanti rupa kampanye politik 2029?
Kalau dari pasangan Probowo-Gibran pada 2024 lalu pakai AI untuk desain alat peraga kampanyenya, bagaimana nanti 2029? Apakah masih akan sama atau malah harus lebih lagi?
Ini yang sangat menarik. Mulai memprediksi sisi komunikasi politik pada 2029 mendatang.
Hampir 2 jam kami bicara. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang kritis dan lugas. Dalam hati, keren juga kalau punya murid atau mahasiswa seperti ini.
Adrenali untuk belajar banyak jadi terpacu karena bisa saja pertanyaan yang datang di luar bayangan saya sebelumnya.

