Filsafat Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/artikel-filsafat/ Buah-Buah Pikiran Thu, 09 Nov 2023 10:27:58 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.2 https://steveelu.satutenda.com/wp-content/uploads/2023/04/cropped-Favicon-1-32x32.png Filsafat Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/artikel-filsafat/ 32 32 230899615 Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/ https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/#respond Thu, 09 Nov 2023 09:57:48 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=318 Belakangan minat terhadap filsafat meningkat. Orang-orang, terutama di kalangan Gen Z, filsafat banyak dirujuk dalam obrolan di tongkrongan. Dan, tak sedikit yang mulai melirik peluang untuk belajar filsafat. Obrolan di warung kopi pun sering nyerempet tokoh-tokoh filsafat. Aroma kopi jadi lebih bernilai kalau ada bau-bau filsafatnya. Di media sosial, apalagi. Konten-konten seputar filsafat menjamur, dengan […]

The post Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Belakangan minat terhadap filsafat meningkat. Orang-orang, terutama di kalangan Gen Z, filsafat banyak dirujuk dalam obrolan di tongkrongan. Dan, tak sedikit yang mulai melirik peluang untuk belajar filsafat. Obrolan di warung kopi pun sering nyerempet tokoh-tokoh filsafat. Aroma kopi jadi lebih bernilai kalau ada bau-bau filsafatnya.

Di media sosial, apalagi. Konten-konten seputar filsafat menjamur, dengan kolom diskusi penuh dengan tanggapan, atau sekadar kiriman jempol. Quotes dan potongan video obrolan filsafat tersebar di berbagai kanal media sosial.

Melihat fenomena filsafat jadi obrolan masyarakat maya tersebut, saya jadi tertarik bikin asumsi. Setidaknya saya berpendapat bahwa ada dua kelompok yang terlibat dalam hiruk-pikuk obrolan filosofis ini. Yang pertama adalah kelompok yang memang memutuskan secara sadar, dalam pikiran dan tindakan, untuk belajar filsafat melalui lembaga pendidikan formal. Sementara yang kedua diisi oleh mereka yang mau belajar filsafat hanya lewat konten-konten yang berseliweran di media sosial.

Buat mereka yang pilih jalur akademis buat menekuni filsafat, saya kategorikan sebagai orang-orang yang memang serius mau mencicip ilmu paling tua di muka bumi ini. Tidak mungkin kan seseorang mau kuliah filsafat karena iseng. Selain ada nominal yang harus ia korbankan, waktu tempuhnya pun panjang. Buat yang ambil S1 ya harus delapan semester atau empat tahun minimal. Dan buat yang ambil S2 filsafat, waktunya mungkin lebih singkat, hanya dua tahun. Tapi jangan lupa, beban belajar filsafat itu berat. Bisa bikin kepala pusing tujuh keliling. Ancaman rambut uban atau kepala botak mengintai di halaman terakhir literatur-literatur filsafat.

Sementara buat mereka yang belajar filsafat hanya karena melihat konten keren di media sosial dan obrolan filsafat yang sedang tren, sebaiknya periksa ulang motivasimu. Menurut saya, kamu harus berpikir lebih matang, apakah betul kamu pengen belajar filsafat? Atau, mungkin juga kamu kepengen belajar filsafat karena di TikTok sedang banyak potongan omongan seputar filsafat? Atau mungkin ada quotes filsafat yang kebetulan nyambung dengan suasana hatimu? Atau karena tokoh idolamu sering muncul di YouTube atau TV dan bicara seputar filsafat?

Apa pun motivasimu, pesan saya coba pikir baik-baik. Karena kalau salah jalur nanti bukan tambah bijaksana tapi malah berisik sana – berisik sini. Ingat, filsafat tidak segenit yang kamu banyangkan. Filsafat bukan alat buat menyerang pribadi tertentu. Filsafat bukan untuk membantumu tampil makin keren, dapat tepuk tangan meriah saat manggung di kampus. Kualitas filsafat tidak ditentukan oleh jumlah viewers dan banyaknya like. Jangan reduksi filsafat untuk alasan humanis rendahan.

Lihat Mereka

Lihat tuh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, Profesor Emeritus STF Driyarkara dan salah satu filsuf paling dihormati di Indonesia. Dia dapat banyak apresiasi karena konsisten dalam mengajarkan dan menerapkan prinsip dan ajaran filsafat. Sejumlah penghargaan tanah air, ia sabet. Misalnya, Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, menganugerahinya penghargaan Philosophy Award sebagai Filsuf Terkemuka Indonesia 2017.

Saat penganugerahan tersebut, Dekan Fakultas Filsafat, Dr. Arqom Kuswanjono mengatakan, “Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan atas dedikasi, kontribusi, dan pengaruh positif Romo Magnis terhadap pengenalan dan perkembangan studi filsafat”.

Katanya lagi, Prof. Magnis-Suseno terima penghargaan ini setelah dilakukan proses verifikasi empiris atas karya-karyanya dalam bidang kefilsafatan Indonesia dan pengaruhnya dalam perkembangan keilmuan filsafat di Indonesia.

Karyanya dalam bentuk buku filsafat pun mudah kita temukan. Misalnya, “Keagamaan Masa Depan – Modernitas – Filsafat: Harkat Kemanusiaan Indonesia Dalam Tantangan” (Kompas, 2021), “Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern” (Gramedia Pustaka Utama, 2016), “Menalar Tuhan” (Kanisius, 2006), “Etika Jawa. Sebuah Analisa Falsafi” (Gramedia, 1984), dan masih banyak lagi.

Atau, coba tengok Prof. Dr. Francisco Budi Hardiman. Ia adalah filsuf sekaligus pengajar di Universtias Pelita Harapan. Ia banyak melahirkan buku-buku filsafat dengan kualitas mumpuni, yang banyak digunakan di fakultas atau jurusan filsafat. Beberapa bukunya yang bisa saya sebut adalah “Aku Klik Maka Aku Ada. Manusia dalam Revolusi Digital” (Kanisius 2021), “Demokrasi Deliberatif” (Kanisius, 2016), “Alam Moncong Oligarki” (Kanisius, 2013), dan masih banyak lagi.

Dan ada juga Dr. Budhy Munawar Rahman, dosen Islamologi dan Filsafat Islam yang mengajar di kelas saya di STF Driyarkara. Sebagai seorang tokoh dan pemikir Islam progresif, ia adalah sosok yang punya nama besar lewat kontribusi dan karya-karyanya. Jabatan akademisnya pun seabrek, yang bisa saya klasifikasikan sebagai salah satu pemikir Islam yang patut diperhitungkan.

Di luar tiga nama yang saya sebut ini, masih banyak filsuf dan tokoh pemikir di Indonesia yang secara akademis sangat mumpuni. Namun, lihatlah. Mereka tidak menjadikan filsafat sebagai alat untuk gaya-gayaan di ruang publik. Mereka tidak sekadar bicara kutip sana-kutip sini biar terlihat keren. Mereka bahkan melahirkan karya-karya terbaiknya dalam ruang-ruang senyap. Mereka mengajarkan kebijaksaan kepada generasi penerus tanpa justifikasi. Mereka berkontribusi mendidik generasi milenial dan Gen Z untuk tetap menjaga tradisi kritis dan kuat dalam berargumentasi, bukan dengan kata-kata profokatif, tapi dengan suara lantang penuh adab.

Filsafat yang sesungguhnya

Saya sepakat. Di satu sisi, filsafat tidak boleh lari dari dunia. Filsafat jangan sampai hanya bertengger di menara gading. Filsafat jangan mengawang-ngawang. Namun, di lain sisi, filsafat juga tidak perlu datang ke pasar lalu mengobrak-abrik pasar supaya jadi pusat perhatian. Filsafat tidak perlu bikin gaduh dengan dalih membangkitkan kesadaran.

Justru filsafat mengajarkan agar mereka yang mempelajarinya tetap berjarak dengan realitas sehingga punya point of view yang lebih luas. Ia harus suka masuk ke ruang-ruang reflektif yang intens. Karena dari ruang-ruang seperti itulah ia akan keluar menjangkau realitas sosial, mengoreksi dengan nalar kritis, dan mengajak peminatnya untuk mengambil keputusan yang solutif-humanis. Filsafat berada di dunia, berjalan-jalan di pasar, namun menjaga ritme bicara agar tidak menimbulkan kegaduhan.

Kalau merujuk pada muasalnya yakni filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan, maka mengutip Boni Hargens, filsafat bukan alat untuk bergenit ria. Filsafat adalah ilmu yang merapikan pikiran dan menjernihkan hati sehingga sanggup melahirkan tindakan dan perkataan yang bijaksana dan menyejukkan. Inilah level filosifis yang mumpuni dan dapat kamu jadikan acuan.

*Pernah dipublikasikan di Geotimes.id, pada 22 Oktober 2023

The post Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/feed/ 0 318
Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/ https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/#comments Fri, 12 May 2023 05:07:03 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=260 Strukturalisme merupakan sebuah teori umum dalam berbagai kajian disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, filsafat, dan linguistik. Strukturalisme mengkaji budaya dan metodologi yang menekankan bahwa unsur-unsur budaya manusia harus dipahami dalam hubungannya dengan sistem yang lebih luas. Strukturalime bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal dalam masyarakat. Secara etimologis struktur berasal dari kata […]

The post Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Strukturalisme merupakan sebuah teori umum dalam berbagai kajian disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, filsafat, dan linguistik.

Strukturalisme mengkaji budaya dan metodologi yang menekankan bahwa unsur-unsur budaya manusia harus dipahami dalam hubungannya dengan sistem yang lebih luas. Strukturalime bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal dalam masyarakat.

Secara etimologis struktur berasal dari kata bahasa Latin yakni structura, artinya bentuk atau bangunan. Struktur sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lain.

Struktur menjadi aspek utama dalam strukturalisme. Strukturalisme juga beranggapan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia.

Kalau kita lihat latar belakang perkembangannya, strukturalisme mengalami evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis. Dan tercatat, strukturalisme hadir dengan menentang teori mimetic yang berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan, teori ekspresif yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang, dan teori-teori yang menganggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.

Di daratan Eropa, strukturalisme berkembang pada awal 1900-an. Francois Dosse dalam bukunya Histoire du Structuralisme menggambarkan strukturalisme pada tahun 1966 sebagai tahun memancarnya strukturalisme di Eropa, khususnya di Prancis.

Sementara strukuralisme tahun 1967-1978 digambarkan sebagai masa penyebaran gagasan strukturalisme dan penerangan tentang konsep strukturalisme serta perannya dalam ilmu pengetahuan.

Dua tokoh strukturalisme

Pembahasan kita kali ini tentu bukanlah tentang strukturalisme secara umum, atau setidak-tidaknya strukturalisme masyarakat ala Marxisme.

Meski tak dapat dipungkiri bahwa pola berpikir Marxisme tentang struktur sosial masyarakat tetap menjadi frame berpikir atau setidaknya menjadi cantelan ketika kita membahas struktur sosial masyarakat dalam tatanan ilmu komunikasi.

Kita juga tidak membahas secara detail perihal strukturalisme sebagai sebuah teori dalam ilmu sosial. Pembahasan kita fokus pada pandangan strukturalisme dalam ilmu komunikasi.

Untuk membantu kita dalam memahami strukturalisme dalam ilmu komunikasi, saya mengajak kita untuk mengarahkan pandangan pada dua sosok berikut: Ferdinand de Saussure dan Pierre Bourdieu.

Mengapa dua tokoh ini saja, sementara tokoh strukturalisme dalam komunikasi cukup banyak? Saya berpendapat, sebagai langkah awal mengenal strukturalisme, baik kalau menjadikan dua tokoh ini sebagai referensi.

Ferdinand de Saussure sebagai “Bapak Strukturalisme dan Linguistik”, sementara Pierre Bourdieu adalah tokoh komunikasi yang mengkaji dan mengelaborasi struktur dalam tatanan masyarakat universal. Pandangan kedua orang ini penting untuk dipelajari dengan lebih cermat.

Sementara tokoh strukturalime lain, semisal Roland Barthes yang semula mengikuti pandangan Saussure namun pada akhirnya menentang Saussure, saya lebih gemar membahas pemikirannya dalam tema semiotika.

Lalu Claude Levi-Strauss, dalam hemat saya lebih banyak mengelaborasi strukturalisme dari sudut pandang antropologi, sampai ia dijuluki “Bapak Antropologi Modern”. Tokoh-tokoh lain bisa kita pelajari pemikirannya di lain kesempatan.

Ferdinand de Saussure

Ferdinan de Saussure lahir di Jenewa, Swiss, pada 26 November 1857. Keluarganya merupakan keluarga terpandang di Jenewa, sebab kontribusi mereka dalam ilmu pengetahuan sangat besar.

Semula, Saussure menempuh kuliah fisika dan kimia di Universitas Jenewa. Tapi dia hanya bertahan di sana kurang dari satu tahun. Pada 1875, ia pindah ke Universitas Leipzig untuk belajar bahasa.

Lalu, pada usia 21 tahun ia mulai belajar bahasa Sansekerta selama 18 bulan, dan pada saat itulah ia menerbitkan memoirnya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le systeme primitif des voylles dans les langues indo-europeennes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa) (Sobur, 2003:45).

Sekitar tahun 1960, nama Saussure sangat jarang terdengar. Di lingkungan akademik, tidak banyak orang yang mendengar namanya. Tapi sesudah tahun 1968, detak intelektual Eropa dipacu oleh buah pemikiran Saussure melalui karya-karyanya yang mulai beredar dan dibaca luas.

Karyanya, Course in General Lunguistics, kian melambungkan nama Saussure hingga ke luar lingkungan linguistik. Maka tidak heran kemudian Saussure dinobatkan sebagai Bapak Strukturalisme dan Linguistik (Sobur, 2003:45).

Mengapa ia dijuluki demikian? Saussure diyakini sebagai orang pertama yang merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat digunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural.

Saussure berpendapat, linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom.

Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya.

Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistem-sistem ini. Jadi, kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh Saussure sebagai semiologi.

Alex Sobur (2003: 46) menulis, ada lima padangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yakni:

a. Siginifier dan signified

Pandangan Saussure menegaskan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda. Dan setiap tanda tersusun dari dua bagian yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). Penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Sementara petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Kata Saussure penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas.

Contoh, kalau kita mendengar kata “rumah” atau melihat tulisan “rumah”, maka dalam bayangan kita langsung muncul konsep tentang “rumah”.

b. Form dan content

Untuk menjelaskan form (bentuk) dan content (meteri, isi) Saussure menunjuk permainan catur. Dalam permainan catur, papan dan bidak catur tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah fungsinya yang dibatasi dan aturan permainannya. Jadi bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya.

Contoh lain untuk semakin memahami hal ini. Misalnya, kita menumpang KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Cikini. KRL tersedia pada pukul 09.30, 09.42, dan 09.52. Hari Senin kita naik KRL Manggarai – Cikini, pukul 09.30. Selasa kita naik KRL pada jam yang sama, dan kita mengatakan “kita naik KRL yang sama”.

Namun faktanya, nomor keretanya berbeda, masinisnya berbeda, gerbong berbeda, dll. Maka, yang tetap di sini adalah “wadah” KRL tersebut, sementara isinya berbeda-beda.

c. Langue dan parole

Langue adalah sistem bahasa. Sementara parole adalah kegiatan ujaran. Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya dan diterima oleh kalangan masyarakat tertentu. Sementara parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu atau praktik berbahasa setiap individu.

d. Synchronic dan Diachronic

Dua kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni khronos (waktu), dan dua awalan yakni syn artinya bersama dan dia artinya melalui.

Jadi, Synchronic artinya bersama waktu dan diachronic artinya melalui waktu. Yang dimaksud dengan sinkronik sebuah bahasa adalah deskripsi tentang keadaan tertentu bahasa tersebut (pada suatu massa).

Sinkronik mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Perhatian ditujukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara. Misalnya, menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965.

Sementara diakronik adalah menelusuri waktu. Jadi studi diakronik atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan sejarah (melalui waktu). Misalnya, studi diakronik Bahasa Indonesia dari tahun 1965 – 2023. Apa saja perkembangannya, apa perubahannya, dll.

e. Syntagmatic dan Associative

Sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah konsep bahasa yang tersusun secara rapi dan punya makna tertentu. Sementara asosiatif atau paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah bahasa atau konsep di mana belum muncul kalau kita belum melihat keseluruhannya.

Misalnya, secara sintagamtik kata “K-A-T-A” ini sudah tersusun rapi dan punya makna tertentu. Ketika sebuah huruf hilang atau pindah tempat maka ia tidak bermakna lagi. Sementara untuk memahami asosiatif atau paradigmatik, kita bisa menggunakan beberapa kata yang bunyinya hampir sama, seperti RATA – KATA – BATA.

Secara fonemik, kata-kata ini punya hubungan paradigmatik karena huruf terakhir pada setiap kata sama. Memang, huruf awal berbeda tapi ketiganya memiliki kemiripan bunyi.

Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu lahir di Denguin, Prancis, pada 1 Agustus 1930. Dia merupakan salah satu filsuf, sosiolog, dan antropolog penting di paruh abad ke-20; yang berpengaruh besar dalam ilmu sosial seperti kajian filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, ilmu politik, ekonomi politik, teori pendidikan, feminisme, teori sastra, kritik seni, dan teori komunikasi.

Bourdieu mengambil kuliah jurusan filsafat di Ecole Normale Supérieure, yaitu sebuah universitas prestisus bagi calon intelektual di Prancis. Setelah menamatkan kuliahnya, dia bekerja sebagai pengajar di Lycée de Moulins, kemudian menjadi asisten Raymond Aron, sambil mengajar secara paralel di Universitas Lille dan Universitas Paris. Ia meninggal karena kanker paru-paru pada 23 Januari 2002 di Paris.

Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme, dan eksistensialisme, di bawah pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser.

Pada tahun 1960an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori objektivis dan teori subjektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul Outline of A Theory of Practice di mana di dalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.

Dalam karyanya ini ia menyerang kaum strukturalis yang menciptakan objektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial.

Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbagai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.

Ada tiga konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus, Field dan Modal. Mari kita elaborasi satu per satu.

a. Habitus

Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial.

Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan lalu diwujudkan”.

Habitus mencerminkan pembagian objektif dalam struktur kelas seperti umur, jenis kelamin, kelompok dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki.

Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial; tidak setiap orang sama kebiasaannya; orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial, cenderung mempunyai kebiasaan yang sama.

b. Field

Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu.

Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field-lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri.

Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain.

Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, di mana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status.

c. Modal

Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan penting, karena modal-lah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada empat modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial.

Pertama, modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubungan-hubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Keempat, adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu pengetahuan objektif tentang seni dan budaya, cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi, kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelar-gelar universitas), kemampuan-kemampuan budaya dan pengetahuan praktis.

Simpulan

Saussure dan Bourdieu telah memperlihatkan kontribusi mereka dalam strukturalisme. Saussure secara jelas melihat linguistik atau bahasa terdiri dari struktur-struktur yang perlu dikaji.

Struktur-struktur tersebut bisa jadi terbentuk dari kebiasaan, budaya, status sosial, dan lain sebagainya. Lima pandangan Saussure itu secara jelas memperlihatkan bagaimana bahasa terbentuk dari struktur-stuktur yang membawa kesan dan pesan tertentu dalam relasi sosial manusia.

Sementara dari Bourdieu kita melihat bahwa fokus Bourdieu adalah lingkungan masyarakat di mana lingkungan itu turut mempengaruhi komunikasi orang-orang yang berada di lingkungan itu.

Bagi Bourdieu pada akhirnya komunikasi itu memperlihatkan struktur kehidupan sosial, tempat di mana seseorang tumbuh dan berkembang, dan kesanggupan seseorang menguasai modal sehingga bisa menguasai komunikasi.

Rujukan

  1. Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Pustakan Gramedia
  2. Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005. (Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra.
  3. Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Depok: Prenada Media Grup.
  4. Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno; Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Artikel ini dibuat sebagai pegangan dan panduan belajar untuk mahasiswa.

The post Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/feed/ 1 260
Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/ https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/#respond Sun, 07 May 2023 18:11:12 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=255 Filsafat dipahami sebagai jalan mencari kebenaran. Sebuah ilmu yang menuntun kita untuk mencintai kebijaksanaan. Kebenaran yang menjadi kajian utama filsafat adalah “kebenaran akal”. Uraian dalam artikel ini akan membahas mengenai tiga aspek fundamental dalam ilmu komunikasi yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Harapannya, kajian ketiga aspek ini dapat mengantar kita untuk semakin memahami hakikat filsafat komunikasi. […]

The post Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Filsafat dipahami sebagai jalan mencari kebenaran. Sebuah ilmu yang menuntun kita untuk mencintai kebijaksanaan. Kebenaran yang menjadi kajian utama filsafat adalah “kebenaran akal”.

Uraian dalam artikel ini akan membahas mengenai tiga aspek fundamental dalam ilmu komunikasi yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Harapannya, kajian ketiga aspek ini dapat mengantar kita untuk semakin memahami hakikat filsafat komunikasi.

Pada intinya, filsafat komunikasi merefleksikan aktivitas komunikasi manusia yang melibatkan komunikator, komunikasi, isi pesan, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decoding dan encoding.

Muhamad Mufid (2009:83) menulis, dari komunikasi yang begitu kompleks dan tidak sederhana tersebut, refleksi komunikasi diperlukan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan komprehensif. Dan refleksi proses komunikasi tersebut merupakan bagian penting dalam disiplin filsafat komunikasi.

Ketika aspek fundamental komunikasi dalam pembahasan ini membantu kita untuk kian memahami apa itu filsafat komunikasi dan nilai gunanya bagi manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan komunikasi dalam membangun dan menata relasi sosialnya.

Pembahasan mengenai ontologi, epistemologi, dan aksiologi ini merujuk pada dua pemikir komunikasi yakni Richard L. Lanigan dan Stephen W. Littlejohn.

Kita akan melihat bagaimana mereka menguraikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pembahasan akan setiap tokoh akan dimulai dari penjelasan singkat siapa tokoh tersebut dan bagaimana kontribusinya bagi perkembangan ilmu komunikasi.

Richard L. Lanigan

Richard Leo Lanigan lahir di Santa Fe, New Mexico, AS, pada 31 Desember 1943. Bisa dikatakan, pendidikan intelektual Lanigan secara keseluruhan selalu bersinggungan dengan filsafat dan komunikasi.

Ia meraih gelar Bachelor of Arts (B.A) pada Communicology and Philosophy dari University of New Mexico, Amerika Serikat, pada 1967. Hanya setahun berselang, ia meraih gelar Master of Arts (M.A) pada Communicology dengan peminatan filsafat dari University of New Mexico, Amerika Serikat, 1968.

Tak berhenti di situ, tahun 1969, ia memperoleh gelar Doktor bidang Filsafat (Ph.D) Jurusan Communicology, School of Communication, Southern Illinois University, Amerika Serikat. Gelar ini ia raih di usianya yang sangat muda, yakni 25 tahun.

Sementara Postdoctoral-nya, di bidang filsafat dari University of Dundee, Skotlandia (1970-1972) dan juga tentang filsafat dari University of California, Amerika Serikat (1982). Dan gelar profesornya ia peroleh pada umur 35 tahun.

Dengan demikian, jenjang akademik dan pencapaian Lanigan di bidang filsafat dan komunikasi sangat lengkap.

Kontribusi signifikan Lanigan pada perkembangan ilmu komunikasi dapat kita temukan dalam bukunya, “Communication Models in Philosopy Review and Commentary”.

Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

a. What do I know? (Apa yang aku ketahui?)
b. How do I know it? (Bagaimana aku mengetahuinya?)
c. Am I sure? (Apakah aku yakin?)
d. Am I Right? (Apakah aku benar?)

Selain itu, ia juga menulis buku yang membahas tentang fenomena komunikasi. Beberapa buku yang telah ia publikasikan antara lain: The Human Science of Communicology (1992), Phenomenology of Communication (1988), Semiotic Phenomenology of Rhetoric (1984), Speech Act Phenomenology (1977), dan Speaking and Semiology (1972).

Sekarang, mari kita lihat penjelasan Richard L. Lanigan tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang sebagian besar saya sarikan dari buku Etika dan Filsafat Komunikasi karya Muhammad Mufid (2009).

  1. Metafisika (ontologi)

Lanigan menjelaskan bahwa aspek ontologi sama dengan metafisika yang berakar pada pertanyaan ‘apa yang aku ketahui?’. Menurutnya, metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas.

Dalam metafisika, kata Lanigan, kita merefleksikan hubungan manusia dengan alam, sifat dan fakta kehidupan manusia, problem pilihan manusia, dan soal kebebasan pilihan tindakan manusia.

Berkaitan dengan teori komunikasi, metafisika bertalian dengan hal-hal seperti sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam semesta, sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan, dan problem pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia.

  1. Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih mendasar lagi berkaitan dengan kriteria penilaian atas kebenaran.

Dalam epistemologi terdapat beberapa teori kebenaran berdasarkan koherensi, korespondensi, pragmatisme, dan legalisme.

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah.

Metode ilmiah pada dasarnya dilandasi oleh kerangka pemikiran yang logis, penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran, dan verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

Lanigan mengatakan, dalam prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran.

  1. Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filasafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika, estetika, dan agama. Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan. Bagi Lanigan, aksiologi merupakan studi tenang etika dan estetika.

Hal ini mengartikan bahwa aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya.

Masalah ini sangat penting bagi komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai lambang. Jadi perlu bagi komunikator mempertimbangkan nilai (value judgement) dari pesan yang akan disampaikan apakah etis atau tidak.

  1. Logika

Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar. Karena itulah dalam komunikasi, logika amatlah penting karena pemikiran yang akan dikomunikasikan kepada orang lain haruslah merupakan keputusan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis.

Secara ringkas (Mufid, 2009:89), ontologi berkaitan dengan asumsi-asumsi mengenai objek atau realitas yang diteliti. Sementara epistemologi dapat dipahami sebagai proses untuk mendapatkan ilmu. Ini terkait cara, teknik, dan sarana apa yang membantu dalam memperoleh ilmu.

Dan, aksiologi berkaitan dengan posisi value judgment, etika, dan pilihan moral peneliti dalam sebuah penelitian. Ini terkait kegunaan dan manfaat ilmu dalam kehidupan masyarakat.

Stephen W. Littlejohn

Bagi mahasiswa komunikasi Stephen W. Littlejohn bukan sosok baru. Namanya menjadi refren wajib tiap kita membicarakan pengertian komunikasi dan teori-teori komunikasi. Kontribusinya terhadap ilmu komunikasi amat besar, dengan berbagai buku yang sudah ia tulis dan publikasikan.

Salah satu buku yang umum kita kenal dan gunakan adalah buku Teori Komunikasi yang ia tulis bersama Karen A. Foss.

Littlejohn adalah seorang konsultan managemen, mediator, fasilitator, dan trainer. Dia adalah seorang konsultan pada Public Dialogue Consortium dan partner pada Domenici Littlejohn, Inc.

Ia adalah seorang professor komunikasi di Humboldt State University di California, Amerika Serikat, dan Adjunct Professor (sebuah gelar kehormatan) Komunikasi dan Jurnalisme pada the University of New Mexico (us.sagepub.com, diakses 11 April 2023, pukul 20.00 WIB).

Terkait ontologi, epistemologi, dan aksiologi, Littlejohn punya penjelasan sebagai berikut.

  1. Ontologi

Menurutnya, ontologi adalah cabang filsafat yang berhubungan dengan alam, lebih sempitnya alam benda-benda di mana kita berupaya untuk mengetahuinya.

Pada hakitanya, ontologi berkaitan dengan usumsi kita terhadap objek atau realitas sosial yang diteliti.

  1. Epistemologi

Littlejohn menjelaskan bahwa epistemologi berkaitan dengan pengetahuan, atau bagaimana seseorang mengetahui apa yang mereka klaim sebagai pengetahuan.

Epistemologi pada hakikatnya menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan apa yang diteliti dalam proses untuk memeperoleh pengetahuan.

Berdasarkan keragaman cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, dan berakar pada standar epistemologi, maka kita mengenal setidaknya ada tiga kategori perspektif atau paradigma dalam ilmu komunikasi.

Ketiga paragima tersebut adalah paradigma klasik (positivisme dan post-positivisme), paradigma kritis, dan paradigma konstruktivis. Perbedaan fokus dan landasan pikiran pada ketiga paradigma tersebut sebagai akibat adanya perbedaan perspektif tentang cara memperoleh ilmu pengetahuan.

  1. Aksiologi

Menurut Littlejohn, aspek aksiologi berhubungan dengan nilai-nilai. Di bidang komunikasi, ada tiga persoalan askiologi, yakni:

a. Apakah teori bebas nilai?

Para penganut perspektif klasik berpendapat bahwa teori dan penelitian bebas nilai. Ia bersifat netral karena berusaha memperoleh fakta sebagaimana tampak dalam realitas.

Sementara di sisi yang lain, sebagian ilmuwan komunikasi (terutama yang berpadangan kritis) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai.

Itu karena setiap peneliti dipandu oleh suatu kepentingan dalam cara-cara tertentu dalam melaksanakan penelitian.

b. Pengaruh praktik penelitian terhadap objek yang diteliti?

Persoalan kedua ini berkutat pada pertanyaan apakah para ilmuwan ikut mempengaruhi proses yang sedang diteliti?

Pandangan ini secara tradisional menunjukkan bahwa para ilmuwan melakukan pengamatan secara berhati-hati, tetapi tanpa interpretasi dengan tetap memelihara kemurnian pengamatan.

c. Sejauhmana ilmu berupaya mencapai perubahan sosial?

Banyak ilmuwan berpendapat bahwa peranan yang sesuai untuk ilmuwan adalah menghasilkan ilmu. Meski ilmuwan lain menentang pendapat ini. Kata mereka, kaum intelektual bertanggung jawab untuk mengembangkan perubahan sosial yang postif.

Simpulan

Merujuk pada pendapat Lanigan dan Littlejohn yang sudah kita bahas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aspek ontologi selalu berkaitan dengan apa yang kita ketahui tentang sesuatu. Atau apa asumsi dasar kita terhadap sebuah realitas tertentu.

Sementara epistemolgi berakitan dengan cara, metode, atau langkah yang kita tempuh untuk memperoleh pengetahuan. Dalam sebuah penelitian, cara tersebut berkaitan dengan perspektif yang kita gunakan dan teori yang kita jadikan rujukan.

Lantas, aspek kemanfaatan dari sebuah pengetahuan merupakan bagian dari aksiologi. Ini berkaitan dengan nilai-nilai yang hendak ditawarkan oleh sebuah ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.

Littlejohn juga menjelaskan, sebagai seorang intelektual kita bertanggung jawab dalam menginisiasi perubahan sosial ke arah yang positif.

Rujukan

  1. Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Depok: Prenada Media Grup.
  2. Suriasumantri, Jujun S.. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  3. Biografi Richard L. Lanigan, https://richardlanigan.academia.edu/. Diakses pada Selasa, 11 April 2023, pukul 13.58 WIB.
  4. Heru. “Ontologi, Epeistemologi, dan Askiologi dalam Filsafat Ilmu”. https://pakarkomunikasi.com/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi. Diakses pada Selasa 11 April 2023, pukul 14.20 WIB.
  5. Littlejohn, Stephen Ward. https://us.sagepub.com/en-us/nam/author/stephen-ward-littlejohn. Diakses pada 11 April 2023, pukul 20.00 WIB.

* Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno; Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Artikel ini dibuat sebagai pegangan dan panduan belajar untuk mahasiswa.

The post Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/feed/ 0 255
Filsafat dan Pertanyaan-pertanyaan yang Belum Terjawab https://steveelu.satutenda.com/sejarah-dan-pertanyaan-filsafat/ https://steveelu.satutenda.com/sejarah-dan-pertanyaan-filsafat/#respond Fri, 05 May 2023 04:49:24 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=252 Saya anggap kata filsafat bukan kata yang baru kita dengar. Entah sengaja atau pun tidak, saya percaya, istilah filsafat harusnya pernah singgah di pendengaran kita. Sebagai sebuah ilmu, filsafat memang banyak dibicarakan di area kampus. Kampus-kampus yang memiliki Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Hukum, dan Fakultas Humaniora, filsafat banyak mendapat tempat untuk dipelajari […]

The post Filsafat dan Pertanyaan-pertanyaan yang Belum Terjawab appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Saya anggap kata filsafat bukan kata yang baru kita dengar. Entah sengaja atau pun tidak, saya percaya, istilah filsafat harusnya pernah singgah di pendengaran kita.

Sebagai sebuah ilmu, filsafat memang banyak dibicarakan di area kampus. Kampus-kampus yang memiliki Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Hukum, dan Fakultas Humaniora, filsafat banyak mendapat tempat untuk dipelajari oleh mahasiswanya.

Di luar lingkungan kampus, ada komunitas-komunitas kecil yang secara independen menunjukkan minat pada filsafat dengan menggelar diskusi-diskusi rutin. Biasanya diskusi itu dipandu oleh seseorang yang lulusan Jurusan Filsafat, atau setidak-tidaknya oleh mereka yang sudah mempelajari filsafat dengan cukup serius.

Di media sosial Indonesia, perbincangan seputar filsafat juga kian berkembang. Filsafat rupanya menjadi topik hangat dan punya daya tarik di dunia virtual. Banyak orang muda yang menaruh minat serius pada disiplin ilmu yang satu ini.

Sebut saja, channel YouTube “Ngaji Filsafat” yang dipelopori Dr. Fahruddin Faiz. Melalui channel ini, Dr. Fahruddin Faiz menyampaian hasil bacaan dan belajarnya dengan monolog dan jarang sekali menampilkan wajah.

Namun pembahasan pada tiap videonya ditonton hingga ribuan kali. Demikianpun tayangan diskusi-diskusi filsafat yang digagas oleh Salihara, Komunitas Utan Kayu, dan Majalah Basis. Tiap materi yang diunggah selalu mendatangkan banyak pengunjung.

Hal-hal ini bisa kita jadikan indikator minimal bahwa filsafat rupanya mulai menemukan tempat di hati masyarakat Indonesia, dan dari berbagai kalangan. Meski tidak terafiliasi dengan lembaga tertentu yang membahas membahas filsafat, keingintahuan orang muda untuk mencicipi filsafat tumbuh di mana-mana.

Saya sendiri pernah merekomendasikan buku “Dunia Sophie” melalui akun TikTok yang saya buat, @dunia.dosen. Dan itu juga direspon dengan sangat baik.

Ada yang berkomentar bahwa ia sudah membaca buku itu, ada yang bertanya di mana ia bisa membeli bukunya, dan ada juga yang mengatakan ia sudah membeli buku tersebut dan mulai membacanya.

Minat akan filsafat memang layak menjangkau semakin banyak orang. Sebab, dalam sejarah perkembangannya filsafat telah meletakan dasar yang sangat kuat bagi orang-orang yang mempelajarinya untuk mencermati, mengolah, menilai, dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi dalam keseharian hidup manusia.

Filsafat menuntut orang untuk mempertanyakan sekaligus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam kehidupannya.

Apa itu Filsafat?

Sebagai langkah awal mengenali filsafat, ada baiknya kita melihat pengertian filsafat dengan pertanyaan apa itu filsafat?

Filsafat berasal dari Bahasa Yunani, yakni “philosophia”. Kata ini merupakan gabungan dari dua kata yakni, philos atau philein dan sophia. Philos berarti cinta (dalam arti yang luas), sementara sophia berarti bijaksanaan.

Jadi, seraca etimologis filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Sejak ribuan tahun yang lalu, banyak sekali filsuf yang mencoba mengartikan filsafat. Kita bisa menemukan banyak sekali rumusan pengertian dengan penekanan-penekanan tertentu.

Plato (427-347 SM) mengartikan filsafat sebagai kritik atas pendapat-pendapat yang ada. Menurutnya, kearifan dan pengetahuan intelektual diperoleh melalui proses pemeriksaan secara kritis, diskusi, dan penjelasan.

Muridnya yang termasyur, Aristoteles (384-322 SM) mengatakan, sebagai sebuah ilmu filsafat menyelidiki hal ada sebagai hal ada yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau lainnya.

Francis Bacon (1561-1626) menyebut filsafat sebagai induk agung dari ilmu-ilmu. Filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.

Rene Descartes (1590-1650) menulis bahwa filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.

Sementara Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, dalam bukunya Berfilsafat dari Konteks (Jakarta: Gramedia, 1999) mengartikan filsafat sebagai usaha tertip metodis yang dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan apa yang sebetulnya diharapkan dari setiap orang yang tidak mau hanya membebek saja, yang tidak mau menelan mentah-mentah apa yang sebelumnya sudah dikunyah oleh pihak-pihak lain. Yaitu untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkiritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan dalam pengalaman sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu.

Perkembangan filsafat sebagai sebuah tradisi keilmuan memiliki karakteristik sesuai dengan tempat di mana ia tumbuh dan berkembang. Tentu saja sangat dipengaruhi oleh budaya dan tradisi di mana ia tumbuh. Pada umumnya, para filsuf sepakat untuk membagi sejarah filsafat menjadi empat tradisi besar, yakni filsafat India, Cina, Islam, dan Barat (Mufid, 2009:11).

Namun dalam pembahasan kali ini, saya hanya akan menyinggung tentang perkembangan filsafat di Barat. Saya mencoba untuk mengklasifikasikan ciri filsafat Barat awal ini ke dalam tiga bagian kecil yakni masa Pra-Socrates, masa Socrates, dan masa Pasca Socrates.

Masa Pra-Socrates

Umumnya filsuf-filsuf Pra-Socrates memfokuskan konsentrasinya pada alam semensta. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti apa itu alam semesta, mengapa alam semesta berbentuk seperti ini, siapa yang menciptakan alam semesta, dan lain sebagainya, menjadi pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab dengan filsafat.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, para filsuf berusaha untuk mengesampingkan peran dewa-dewi yang menjadi ciri khas masyarakat Yunani pada masa itu.

Seorang filsuf yang dapat kita sebut sebagai filsuf pertama yang mencoba untuk mendeskripsikan alam semesta ini adalah Thales. Ia berasal dari Miletus, sebuah koloni Yunani di Asia Kecil (Gaarder, 2010: 70).

Menurutnya, bumi atau alam raya ini terbuat dari air. Pemikiran ini ia dapatkan setelah berkeliling ke berbagai tempat dan menemukan bahwa alam raya, termasuk manusia, sangat bergantung hidupnya pada air.

Setelahnya, muncul filsuf yang sangat diperhitungkan pemikirannya, yakni Parmenides (kira-kira 540-480 SM). Parmenides memikirkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak muncul dari ketiadaan. Segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada.

Selanjutnya, Heraclitus (540-480 SM) dari daerah Efesus, mengatakan bahwa segala sesuatu terus mengalir, bergerak terus-menerus, dan tidak ada yang tetap. Lalu, Empedocles yang hidup kira-kira 490-430 SM yakin bahwa alam terdiri dari empat unsur atau akar yakni tanah, udara, api, dan air.

Masa Socrates

Lalu petualangan kita tiba pada filsuf besar dan terkenal hingga hari ini, yakni Socrates. Di era Socrates, kajian filsafat bukan lagi soal alam semesta, melainkan bergeser ke manuasia. Manusia sebagai pusat diskusi dan pertanyaan-pertanyaan filsafat.

Socrates dilahirkan di Athena, Yunani, dan hidup antara 470-399 SM. Socrates dapat disebut sebagai filsuf yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa (Gaarder, 2010: 115).

Ia adalah pelopor atau pemikir yang terus-menerus mengganggu manusia untuk berpikir terhadap dirinya sendiri.

Di masa Socrates inilah filsafat dibawa ke pasar atau alun-alun kota (agora) untuk didiskusikan. Ia berbicara, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi dengan siapa saja yang ia temui. Di pasar, Socrates bisa berbicara berjam-jam tanpa henti.

Meski demikian, Socrates tidak pernah menulis. Ia meninggal tanpa meninggalkan catatan apa pun, termasuk pemikiran-pemikirannya. Buah-buah pemikirannya justru kita dapatkan dari Plato, muridnya. Dari karya-karya Plato inilah kita mengenal dialektika Socrates, yang kemudian dikembangkan oleh Plato dan filsuf-filsuf setelahnya.

Masa Pasca Socrates

Plato sendiri kemudian menjadi seorang filsuf besar, yang oleh banyak ahli dianggap filosof paling besar segala zaman (Magniz-Suseno, 2006: 11). Dan filsuf ulung setelah Plato adalah Aristoteles yang mempunyai peran penting dalam perkembangan ilmu dan kebudayaan Eropa.

Aristoteles adalah murid Plato yang termasyur dari zamannya hingga sekarang. Itu karena ia telah menciptakan terminologi-terminologi yang masih digunakan hingga saat ini. Ia adalah seorang organisator ulung yang mendirikan dan mengklasifikasikan berbagai ilmu (Gaarder, 2010: 178).

Pertanyaan yang belum Terjawab

Pada dasarnya filsafat mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia. Filsafat tidak menjawab pertanyaan bagaimana mendapatkan baju baru, bagaimana cara naik bus menuju ke kampus, bagaimana menanak nasi, dan lain-lain.

Filsafat mencoba untuk menjawab pertanyaan mendasar semisal apa itu kebenaran? Apa itu keadilan? Mengapa harus bersikap adil? Mengapa manusia perlu bahagia? Apa tujuan hidup manusia? Apa yang dicari oleh manusia di dunia? Aya yang terjadi setelah kematian?

Berbagai filsuf lintas zaman mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Meski harus diakui bahwa hingga sekarang tidak pernah ada jawaban final dan komprehensif. Justru pertanyaan-pertanyaan tersebut kian berkembang dan jawaban-jawaban yang dikemukakan pun kian beragam.

Lalu buat apa kita mempelajari filsafat, padahal ia sendiri belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasarnya?

Tujuan belajar filsafat tidak melulu soal kepastian jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu. Justru dengan mempelajari pemikiran dan argumentasi para filsuf inilah kita dapat merangkai argumentasi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai konteks dan kondisi kita saat ini.

Berdasarkan pemikiran para filsuf itu kita melatih diri untuk kritis terhadap segala sesuatu yang ada di sekitar kita sehingga kita tidak hanya menjadi pribadi yang pasif menerima apa adanya. Tapi aktif mencari dan menemukan alasan dan jawaban-jawaban hakiki atas kehidupan kita.

Ruang Lingkup Kajian Filsafat

Dalam perkembangannya, filsafat berkembang pesat sebagai ilmu dan mengkaji berbagai macam hal dan isu yang ada di dunia. Jika kita ingin melihat dari segi pokok permasalahan, filsafat mengkaji tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (Logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (Etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (Estetika) (Suriasumantri, 2007: 32).

Dari tiga pokok persoalan ini, kajian filsafat merangsek masuk ke dalam berbagai persoalan, baik itu persoalan yang terkait hakekat hidup bersama, politik, tujuan hidup, hingga penyelesaian berbagai problematika kehidupan.

Secara umum, cabang-cabang filsafat yang terlibat dan membicarakan kehidupan manusia di antaranya Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), Etika (Filsafat Moral), Estetika (Filsafat Seni), Metafisika, Politik (Filsafat Politik), Filsafat Agama, Filsafat Ilmu, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum, Filsafat Sejarah, dan Filsafat Matematika (Suriasuamantri, 2007: 32-33). Juga, Filsafat Komunikasi, Filsafat Akuntasi, Filsafat Timur, Filsafat Jawa, Filsafat Pancasila, dan lain sebagainya.

Inspirasi

Kita telah melihat minat masyarkat kita terhadap filsafat dan bagaimana filsafat menorehkan perjalanan panjang sebagai sebuah ilmu yang hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup manusia.

Tokoh-tokoh filsafat mencoba menganalisa berbagai peristiwa di muka bumi, juga manusia sebagai makhluk rasional atau makhluk yang berpikir.

Kiranya, pemikiran-pemikiran para filsuf yang sudah kita bahas bisa menginspirasi kita untuk bertanya dan berdiskusi lebih giat untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup kita.

Setidaknya, dengan demikian kita memaksimalkan fungsi dan peran kita sebagai manusia, (sekaligus mahasiswa) di mana nantinya kita bisa membawa pemikiran-pemikiran yang kritis, arif, dan bijaksana ke dalam masyarakat kita.

Ingat filsafat menuntun orang untuk merenung, mencintai, dan menggapai kebijaksaan. Bukan untuk menimbulkan kegaduhan, apalagi dimanfaatkan untuk mendiskreditkan, menindas, dan menyerang sesama manusia.

Rujukan

  1. Gaarder, Jostein (Penerj. Ramhani Astuti). Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat. Bandung: Penerbit Mizan.
  2. Magniz-Suseno, Franz. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  3. Mufid, Muhammad. 2010. Etika dan Filsafat Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
  4. Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno; Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Artikel ini dibuat sebagai pegangan dan panduan belajar untuk mahasiswa.

The post Filsafat dan Pertanyaan-pertanyaan yang Belum Terjawab appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/sejarah-dan-pertanyaan-filsafat/feed/ 0 252