Buku Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/buku/ Buah-Buah Pikiran Sun, 05 Jan 2025 04:29:21 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.1 https://steveelu.satutenda.com/wp-content/uploads/2023/04/cropped-Favicon-1-32x32.png Buku Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/buku/ 32 32 230899615 Buku Pesanan Pengusaha Katolik https://steveelu.satutenda.com/menulis-buku-pukat-kaj/ https://steveelu.satutenda.com/menulis-buku-pukat-kaj/#respond Sat, 04 Jan 2025 07:57:59 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=477 Selain menulis buku ilmiah, saya juga menulis buku “pesanan” dari klien yang ingin mendokumentasikan kegiatan, ide, atau jalan hidupnya. Tentu saja, penulisan buku jenis ini sumber utamanya adalah dari klien itu sendiri. Dua bulan sebelum tahun 2024 menutup pintu, saya dihubungi seorang kawan baik, untuk menyelesaikan buku tersebut. Sebetulnya, ia dan timnya sudah mengerjakan draft […]

The post Buku Pesanan Pengusaha Katolik appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Selain menulis buku ilmiah, saya juga menulis buku “pesanan” dari klien yang ingin mendokumentasikan kegiatan, ide, atau jalan hidupnya. Tentu saja, penulisan buku jenis ini sumber utamanya adalah dari klien itu sendiri.

Dua bulan sebelum tahun 2024 menutup pintu, saya dihubungi seorang kawan baik, untuk menyelesaikan buku tersebut. Sebetulnya, ia dan timnya sudah mengerjakan draft awal buku itu.

Namun, karena ada sejumlah revisi dan ada juga naskah yang harus ditambahkan, sementara timnya lagi pada sibuk semua, saya pun diundang untuk ikut menulis dan merapikan draft tersebut supaya sesuai dengan keinginan klien.

Buku PUKAT KAJ

Buku PUKAT KAJ

Buku ini berasal dari sebuah kelompok kategorial Katolik yakni Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Agung Jakarta.

Setelah perjalanan panjang mereka sebagai sebuah komunitas, dengan melakukan berbagai kegiatan, mereka ingin mendokumentasikan kegiatan mereka. Jadilah kami diminta untuk menuliskannya.

Saya dan kawan tadi mengerjakan buku tersebut dua hari penuh, dengan menyewa penginapan agar terhindar dari gangguan yang lain. Di sinilah kami mengerjakan buku tersebut.

Karena sebelumnya sudah ada tim yang mengumpulkan bahan, wawancara, dan menyusun draft kasarnya, maka di sini saya bertindak sebagai editor.

Secara pribadi, saya harus berterima kasih untuk semua peluang dan harapan yang diberikan oleh teman, sahabat, dan kenalan saya selama 2024 kemarin.

Dengan caranya masing-masing, mereka telah menambah dan memperkaya pengalaman saya, terutama dalam menulis buku.

Tahun 2025 ini, harapannya, akan lebih banyak buku yang bisa saya tulis. Termasuk buku personal sesuai dengan keilmuan yang saya tekuni selama ini.

The post Buku Pesanan Pengusaha Katolik appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/menulis-buku-pukat-kaj/feed/ 0 477
Buku Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden https://steveelu.satutenda.com/buku-komunikasi-politik-ksp/ https://steveelu.satutenda.com/buku-komunikasi-politik-ksp/#respond Sat, 04 Jan 2025 07:24:50 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=473 Ini adalah sebuah buku dokumentasi. Isinya tentang apa yang sudah dikerjakan oleh Tim Komunikasi Politik yang menjadi bagian dari kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Saya mengerjakan buku ini, kurang lebih tiga bulan sebelum akhir masa kerja Tim Komunikasi Politik KSP, yang bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Joko Widodo dan Ma’aruf Amin. Mulanya, saya dihubungi oleh […]

The post Buku Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Ini adalah sebuah buku dokumentasi. Isinya tentang apa yang sudah dikerjakan oleh Tim Komunikasi Politik yang menjadi bagian dari kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Saya mengerjakan buku ini, kurang lebih tiga bulan sebelum akhir masa kerja Tim Komunikasi Politik KSP, yang bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Joko Widodo dan Ma’aruf Amin.

Mulanya, saya dihubungi oleh kenalan saya, minta untuk mengerjakan buku ini. Namun, tenggat waktu yang diberikan cukup terbatas. Setelah berdiskusi dan melihat bahan yang sudah tersedia, saya menyanggupi.

Kami menggelar beberapa kali pertemuan di Kantor Staf Presiden, sembari saya melakukan wawancara dan konfirmasi data. Pengerjaan yang dilakukan dalam waktu singkat tersebut saya kebut.

Saya bersyukur bahwa Tim Komunikasi Politik KSP sangat kooperatif. Selain tatap muka di kantor, mereka juga terbuka untuk saya hubungi setiap waktu bila saya membutuhkan data.

Mereka juga terus mensuplai data yang sangat lengkap sehingga memudahkan saya untuk menulis secara cepat. Kurang lebih saya butuh empat minggu untuk mengerjakan draft buku ini.

Setelah itu, saya mengirimkan draft buku tersebut untuk dibaca oleh Tim Komunikasi Politik KSP. Lalu, kami bertemu secara langsung untuk membahas detail.

Di sinilah yang cukup menguras energi. Tiga hari dalam dua minggu, kami duduk bersama dari siang sampai sore untuk mengedit buku tersebut secara bersama-sama.

Ini di luar catatan-catatan yang ditinggalkan, yang harus segera dilengkapi setelah pulang ke rumah.

Akhirnya, kerja maraton ini selesai. Cover yang saya tampilkan di sini adalah versi paling terakhir yang rilis hanya beberapa hari pasca pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.

Buku Komunikasi Politik Istana

Isi buku

Seperti yang sudah saya katakatan di awal bahwa buku ini semacam dokumentasi. Ia berisi tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Tim Komunikasi Politik KSP.

Dan itu adalah fakta karena berdasarkan data yang mereka catat dan himpun selama kerja mereka lima tahun terakhir.

Bagi saya pribadi, setelah mengetahui “kerja senyap” Tim Komunikasi Politik KSP tersebut, saya jadi paham apa “pergerakan” yang setiap hari terjadi di dalam Istana RI.

Dengan demikian, perspektif saya jadi lebih utuh. Di satu sisi saya adalah orang yang cukup jauh dari Istana. Di lain sisi, melihat apa yang sudah dikerjalan oleh tim ini, jadi paham pilihan dan sikap pemerintah selama ini.

The post Buku Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/buku-komunikasi-politik-ksp/feed/ 0 473
Seandainya Saya Wartawan Tempo https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/ https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/#respond Fri, 13 Oct 2023 08:20:55 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=294 Coba deh baca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”. Begitu kata seorang kawan, menganjurkan. Kala itu, tahun 2013, tahun ketiga saya aktif jadi wartawan di sebuah majalah kecil di Jakarta Barat. Namun, karena tak punya cukup uang untuk beli buku itu, juga tak pernah saya jumpai, jadilah saya belum dapat kesempatan untuk membacanya. Baru sekarang, saat […]

The post Seandainya Saya Wartawan Tempo appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Coba deh baca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”. Begitu kata seorang kawan, menganjurkan. Kala itu, tahun 2013, tahun ketiga saya aktif jadi wartawan di sebuah majalah kecil di Jakarta Barat.

Namun, karena tak punya cukup uang untuk beli buku itu, juga tak pernah saya jumpai, jadilah saya belum dapat kesempatan untuk membacanya.

Baru sekarang, saat saya sudah tidak lagi jadi wartawan aktif, saya dipertemukan dengan buku anjuran kawan, sepuluh tahun silam. Buku itu ada di meja seorang dosen senior di kampus. Si senior tak ada saat saya menengok sejumlah tumpukan buku di mejanya. Dan “Seandainya Saya Wartawan Tempo” ada di antara tumpukan buku itu.

Saya mengambilnya. Lalu saya kirim pesan kepada si senior, izin untuk meminjam dan membaca. Sebetulnya sih waktu mengirim pesan, saya sudah di jalan pulang. Jadi kalau pun ia tidak mengizinkan, saya sudah terlanjur mambawanya. Hehehehe.

Seminggu setelah buku itu di tangan, saya tiba di halaman terakhir. Saya mambacanya saat pagi sebelum ke kampus, di kereta dalam perjalanan, atau saat jeda mengajar. Saya niatkan betul untuk menyelesaikan buku ini secepatnya. Itu karena saya menikmati betul buku terbitan tahun 90-an ini.

Ya. Buku ini memang sudah lama beredar. Dan, hampir setiap wartawan tulis yang mulai karir di tahun 90-an, menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib. Referensi buat mereka yang baru mulai mau menapaki jalan panjang menjadi wartawan.

Panduan menulis

Setelah membaca buku ini, apa pendapat saya? Sebagai pembaca aktif majalah Tempo lebih dari delapan tahun, kalimat dan diksi yang ada di buku ini langsung saya kenali. Ya, ini memang ciri khas dan gaya menulis Tempo. Kalimatnya saya kenali betul. Pilihan diksinya tidak asing. Sangat khas.

Perihal isi, buku ini tak banyak bercerita tentang impian seorang yang ingin jadi wartawan Tempo. Atau, bukan juga berisi curhatan seseorang karena gagal gabung jadi awak redaksi Tempo. Isinya lebih kepada panduan menulis. Utamanya menulis berita feature.

Teknik menulis feature dijelaskan panjang lebar. Pun ada contoh yang menyertai. Entah feature gaya biasa atau wartawan pemula maupun feature ala Tempo. Dan itu membuat saya sangat menikmati isi dalam buku ini.

Delapan tahun saya jadi pembaca setia majalah Tempo. Beberapa rubrik punya tempat khusus di hati. Salah satunya adalah rubrik Catatan Pinggir. Rubrik ini diasuh oleh wartawan senior, juga salah satu sastrawan ternama Indonesia, Goenawan Muhammad. Saya menikmati betul tulisan dia.

Selain itu, salah satu tulisan favorit saya di majalah yang pernah dibredel di era Orde Baru ini adalah liputan investigatif. Tiap kali membaca liputan investigatif Tempo, serasa waktu berjalan terlalu cepat dari biasanya. Dan saya lupa akan yang lain. Selain terus bergerak dari halaman satu ke halaman lain.

Saya ingat, suatu hari di kantor, saya membaca liputan investigatif Tempo soal kasus Bank Century. Saya tersadar hari sudah sore ketika saya tiba di halaman terakhir. Artinya, sejak tiba di kantor menjelang sing, saya tidak mengerjakan apa pun selain membaca liputan itu.

Dan kejadian seperti ini berulang kalau saya sudah baca Tempo. Saya jatuh cinta betul dengan tulisan-tulisan di Tempo. Sihir yang sama kembali saya cicipi saat membaca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”.

Di Kelas

Semester Ganjil 2023 ini, di Universitas Bung Karno, kebetulan saya mengasuh dua kelas terkait jurnalistik, yakni Etika Jurnalistik dan Penulisan Karya Jurnalistik. Dua mata kuliah ini diambil oleh para mahasiswa yang pilih konsentrasi Jurnalistik.

Di kelas, saya ajurkan kepada para mahasiswa untuk membaca buku ini. Seandainya Saya Wartawan Tempo. Saya minta mereka untuk membacanya dengan cermat. Siapa tahu mereka pun merasakan sihir yang sama, seperti yang saya alami sepekan terakhir. Mungkin, mereka tidak lagi tertarik membaca majalah Tempo. Tapi, melalui buku ini, saya yakin, daya tarik itu tetap ada dan hidup dalam tiap halamannya.

Kepada mereka juga saya berpesan untuk tidak hanya bercita-cita wartawan yang biasa-biasa saja. Jadilah wartawan yang punya karakter. Jadilan penulis berita yang bermimpi, sepuluh tahun yang akan datang tulisannya akan menyihir pembacanya. Tulisan mereka diminati. Nama mereka disebut, sekaligus dikagumi.

Hari ini, terutama setelah menjamurnya media online, juga muncul Jurnalisme Warga, pekerjaan wartawan sepertinya tak lagi istimewa. Yang dikerjakan para wartawan, bisa juga dikerjakan masyarakat biasa. Yang diliput anak S satu, disiarkan langsung oleh tukang sayur depan gang.

Lantas apa yang akan kamu banggakan? Yang akan membuatmu bangga adalah karakter tulisanmu. Dan pembacamu jatuh cinta kepadanya. Seperti saya, jatuh cinta pada tulisan di majalah Tempo. Seperti saya yang terpukau di hadapan buku ini: Seandainya Saya Wartawan Tempo.

*Pernah dipublikasikan di Thecolumnist.id, pada 8 Oktober 2023.

The post Seandainya Saya Wartawan Tempo appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/feed/ 0 294
Dan Kita pun Diundang ke ‘Timor’ https://steveelu.satutenda.com/dan-kita-pun-diundang-ke-timor/ https://steveelu.satutenda.com/dan-kita-pun-diundang-ke-timor/#respond Fri, 28 Apr 2023 12:22:38 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=239 (Steve Elu, “Parinseja” dan Anamnetik Jiwa) Mungkin, di antara barisan penyair yang dilahirkan oleh Timor, Steve Elu dalam kumpulan sajak terbarunya Parinseja (Tasikmalaya: Motion Publishing, 2015) adalah yang paling obsesif menghadirkan karakter anamnetik jiwa dalam sebuah kembara yang dihela oleh kekuatan imajinatifnya, dan berhasil mengajak kita untuk selalu pulang. Ya, pulang kepada asal-mula kita, pulang […]

The post Dan Kita pun Diundang ke ‘Timor’ appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
(Steve Elu, “Parinseja” dan Anamnetik Jiwa)

Mungkin, di antara barisan penyair yang dilahirkan oleh Timor, Steve Elu dalam kumpulan sajak terbarunya Parinseja (Tasikmalaya: Motion Publishing, 2015) adalah yang paling obsesif menghadirkan karakter anamnetik jiwa dalam sebuah kembara yang dihela oleh kekuatan imajinatifnya, dan berhasil mengajak kita untuk selalu pulang.

Ya, pulang kepada asal-mula kita, pulang kepada apa yang oleh Julia Kristeva disebut sebagai dimensi melankolik dari jiwa seseorang (1). Tentu pulang tidak dalam pengertian fisik.

Memang, banyak penyair, cerpenis maupun novelis telah menulis dengan warna romantisme semacam itu, tetapi yang khas pada puisi-puisi Steve adalah karakter anamnetik itu tidak sebatas dihadirkan sebagai tanda (signifier) dan apa yang hendak ditandai (signified), lebih jauh merupakan sebuah peristiwa tentang keberadaan diri, tentang kehadiran dan tempat dalam bahasa sebagai sebuah peristiwa (event). Dan sebagai peristiwa, ia memerlihatkan aisthēsis khas Timor yang saya masukkan dalam kategori estetika tragedi. Saya akan kembali kepada ini sebentar lagi.

Menurut saya, untuk mampu menyelam ke dalam benak si Parinseja, yang harus kita telisik sebenarnya bukan hanya tentang isu yang dihadirkan oleh Steve, melainkan juga bagaimana ia mengatakannya, apa yang ia pilih, apa yang harus digabungkan antarsatu sama lain.

Ini disebabkan karena posisi Steve bukan sebagai seorang yang berbicara sebagai satu orang kepada semua orang, tetapi lebih sebagai suara bahkan peristiwa reflektif anamnetik, yang menghadirkan sebentuk reenactment bahwa dirinya, diri saya, diri kita, keberadaan kita dibentuk secara mendalam oleh peristiwa apropriatif (Ereignis) yang menyertai saat-saat penting dalam hidup.

Hegel menyebutnya kehadiran langsung dan merupakan prinsip (arche) pengalaman (der Mensch selbst dabei sein müsse) (2). Oleh sebab itu, Parinseja tidak hadir sebagai teks hasil dialektisasi imajinasi dan pengalaman, yang biasa kita sebut sebagai lingkaran hermeneutis tetapi sebagai hasil relasi hermeneutis dalam pengertian Heidegger akhir (3).

Dengan demikian bersama Kipling kita bisa mengatakan bahwa –nine and twenty ways of studying tribal lays, and every single one of them is right ~ banyak jalan memelajari madah suatu suku bangsa, dan masing-masing jalan itu benar.”

Kita dapat memelajarinya karena ia tidak hadir sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai sesuatu yang dapat kita alami sebagai peristiwa. Parinseja tampil sebagai sebuah peristiwa pikiran tentang pikiran sebagai peristiwa.

Parinseja adalah pikiran yang berada dalam sebuah perjalanan (Gedanken-gang), sebuah pikiran yang berkata-di-dalam-antara (Zwiesprache), sebagai pikiran di dalam sebuah epos yang berulang (Übergang) (4).

Dengan begitu, terlihat bahwa Parinseja menyangkut peristiwa yang dapat terus dihidupi, yang pada level imanen-transendental merujuk pada karakter anamnetik dari pikiran dan jiwa kita (5).

lengking sene mengudara
semisal pekik bocah telanjang kaki pagi hari berlari-lari ke masa depan
tempat guru menulis mimpi-mimpi

ditabuh dari batu penghancur jagung katemak

dan ia mulai menari. Ia menari

dan ia mulai menari. Ia menari
bersama tetua yang telah menyemburkan puah manus
sewaktu ritual perutusan ke medan tempur,
yaitu ladang petualangan

(sajak ―ia terus menari‖)

Steve dalam Parinseja serupa anti-tesis Sutardji Calzoum Bachri menurut garis pembacaan saya. Jika Sutardji bilang bahwa dengan puisi-puisinya ia bermaksud menceraikan setiap teks dari warisan usang yang menuntutnya seperti makna dan pesan yang sebenarnya dibebankan kepadanya oleh masyarakat, Steve sebaliknya mewakili apa yang pernah ditulis oleh Edward Said bahwa:

―[T]exts are worldly … a part of the social world, human life, and of
course the historical moment in which they are located and interpreted.
… The realities of power and authority – as well as the resistances offered by men, women and social movements, to institutions authorities and orthodoxies – are the realities that make texts possible, that deliver them to their readers, that solicit the attention of criticism.‖(6)

Steve tangkas menautkan karakter anamnetik jiwa dengan bahasa sebagai peristiwa melalui kekuatan imajinasi sehingga berhasil menghadirkan tradisi bukan sebagai fatalisme fakta, ke dalam bahasa yang membahasakan dirinya sendiri.

Memang, sajak-sajaknya pada saat tertentu begitu menghasut ingin, ingin ke sana, membangkitkan dalam diri suatu inkrementalitas kedekatan tetapi pada lain saat membuat orang perlu berpikir ulang dan kalau mungkin menanggalkan keinginannya.

Parinseja oleh Steve ditempatkan dalam suatu spiral antara imajinasi dan pengalaman sehingga menjadi serupa laboratorium estetis pengalaman-pengalaman religius dan atau kuasi-religius. Dalam puisi-puisinya, bersitumpang tindih rindu dan takut, berganti asa dan putus asa serupa tenunan.

Oleh karena itu, secara tipologis menjadi inskripsi puitis dari semua intensitas yang meningkat menggetarkan tentang lika-liku religio-eksistensial yang dengan padat dirumuskan oleh Rudolf Otto sebagai kombinasi rasa tremendum et fascinosum. Tentang menggoda ingin, Steve menghadirkan demikian:

bait-bait perayu musim
melingkar di kepala ibu-ibu nonmeob
sementara bapak-bapak terkatup kalbu ungu

kepada Nossa Senhora di selatan, segala kalbu menuju
kepada Antonio Lagnio di utara, semua harap mengarah
kepada Fransisco Xavier di timur, sekalian mohon menumpu
kepada Don Louis IX di barat, segenap puja-puji memanjat

serupa rindu membiak
begitulah doa kami akan butir-butir hujan,
ketika musim tanam tiba. mengucur deras.

rogare ialah rayu paling purba
dalam kemasan ujud merdu
di antara debur ombak faefnafu

(sajak ―rogare‖)

Pada bagian lain, Steve ingin menunjukkan daerahnya seperti apa adanya, dan tidak bermaksud mengusulkan sebuah dunia kemungkinan, sebuah proposed world dalam pengertian Ricoeur. Ia menghadirkan dunia yang bisa membuat orang meriding dan bisa takut untuk pergi kepadanya.

Persis di sini, dengan mengakarkannya pada Timor, kejujuran tentang tradisi berkultur yang menduduki teks seperti tertuang dalam Parinseja agak berbeda bila dibandingkan dengan Novel Likurai untuk Sang Mempelai dari Robertus Fahik.

Dalam Likurai untuk Sang Mempelai ada kesengajaan ‘untuk menggelapkan (verdunkelt) fakta sosial mengenai―suanggi lewat mulut Manek Mesak bahwa perilaku kultural semacam itu tidak ada, walaupun bukan hal utama dalam keseluruhan alur peristiwa novel tersebut membangun dirinya (7).

desa yang gulita itu kini berdentang
mengiang ke pucuk-pucuk bibir

nenek mati tanpa sakit, bapa tua
sesak napas, adik bungsu badan panas,
mama muda mengerang di kamar, tapi tak jua beranak.
sudah tiga malam mereka bergulat di tangan tim doa

kalau akhirnya mereka semua mati
tim doa ialah pembantu tuhan yang kalah
di tangan suanggi
dan hidung suanggi kembang kempis
karena memenangkan pertarungan

(sajak ―Oepoli)

tak ada yang mampu melampaui
suanggi di tanah kami.
tidak juga kau, Tuhan,
pun deras limpah ampun-Mu

(sajak ―Suanggi)

Dengan demikian, esensi puisi yang nampak di sini adalah memisahkan sekaligus menyatukan, di dalam sebuah peristiwa bahasa tentang imbal-hubung antara realitas yang mengatasi dan suara dari bawah, antara sesuatu yang dicari dengan penuh harap sekaligus sesuatu yang dengan penuh kecemasan coba dihindari.

Parinseja seolah berdiri di antara tuhan dan umatnya, antara tuhan dan para suanggi, dan lebih dari itu antara bahasa dengan suara, antara pembaca dengan bahasa. Sebagai contoh, sajak ―Oepoli‖ dan ―suanggi‖ memerlihatkan bahwa puisilah yang dapat mengeluarkan kita ke dalam sebuah “antara‟ (8) antara tuhan dan umat atau antara tuhan dan suanggi sebuah imajinasi sebagai peristiwa.

Namun, yang pertama dan hanya dalam‗yang-antara‘ ini – sebab itu saya menyebut relasi hermeneutis -kita dapat memilah secara jelas mana manusia dan di mana ia menempatkan kehadirannya: kita dalam dunia tapi bukan dari dunia, bukan dari dunia tetapi faktanya dalam dunia. Puitisasi peristiwa dengan karakter anamnetik sedemikian membuat manusia tinggal (embedded in) dalam dunianya, ke dalam dirinya.

Di sinilah, orisinalitas anamnetik dalam puisi-puisi Steve terlihat. Parinseja ingin menyatakan bahwa tentu saja kita dapat mengakui dari mana kita berasal, seperti apa kita sebenarnya dalam hubungan dengan akar kita dan kepadanya kita dapat menimba kekuatan yang selalu baru bagi kembara kita, tetapi untuk itu kita sedapat mungkin mengalaminya sebagai sesuatu yang baru, sesuatu yang selalu hadir sebagai awal.

Karakter anamnetik ini memertemukan dimensi subjektivitas seseorang dengan tempatnya. Mental subjek, karakter identitas-diri dari subjek, dan konsepsi diri adalah hal-hal yang dapat ditemukan oleh subjek dalam hubungan dengan tempat. Parinseja itu – a path for engaging the exilic character of thought as well as for exploring the exilic grounds of the configurations of self, community, and the phenomenon called world (9).

Parinseja itu thinking on the way, perjuangan untuk melawan ketercerabutan eksistensial. Tentu saja tempat atau dunia dalam pengertian Heidegger tidak hanya suatu ruang fisik dalamnya suatu entitas bisa diposisikan, tetapi wilayah, suatu cakrawala anamnetik tempat kita bisa menemukan diri kita yang diberikan kepada dunia dan kepada eksistensi kita dalam dunia (10).

Dengan demikian, bisa disebut bahwa apa yang menyata lewat Parinseja bukanlah suara yang harus dihadapkan dengan apa yang disuarakan, sebaliknya suara itu sendiri yang bersuara tentang suara, sebagai suatu tarian ada (Seyn) di jalannya, a poetry of kinesis. Kalau berangkat dari cakrawala semacam itu, lewat Parinseja kita bisa memahami signifikansi dari apa yang ditulis oleh Hölderlin bahwa:

―it is the land of your birth, the soil of your homeland, what you seek, it is near, already comes to meet you… Gate, and sees and seeks loving names for you,… This is one of the land’s hospitable portals, Enticing us to go out into the much-promising distance.‖(11)

Tentu saja, Steve punya banyak cara ketika mengungkap karakter anamnetik tersebut. Dalam sajak ―merdeka‖, Ia menghadirkan tiga pertanyaan: ―adakah kau lebih biru/dari hamparan Laut Sawu?/ adakah kau lebih tegar dari/ haluan kapal nelayan di Selat Ombai?/ adakah kau lebih lapang/dari sabana di tanah Timor?/‖.

Di sini terlihat bahwa puitisasi ada (being) berupa pertanyaan dapat menjadi cara seorang penyair menghadirkan karyanya sebagai sebuah simbol anamnetik. Ia sekaligus membuka dan menutup (concealment- revelation).

Selain itu, pengkontemplasian atas alam turut memprovokasi jeritan kekaguman sekaligus penegasan diri, siapakah kami sebenarnya. Penegasan semacam ini dapat terjadi melalui puisi sebagai kehadiran anamnetik. Cara ini bersifat spiritual, dan karena spiritual maka ia mengakar dalam dunia, punya Sitz im Leben atau setting kulturalnya.

Itulah mungkin alasannya mengapa Steve menghadirkan tiga hal sebagai penanda dalam kaitan dengan karakter anamnetik: laut, selat dan padang sabana. Dalam pemahaman saya, ketiganya menyimbolkan keterbukaan tak terbatas jiwa untuk pulang kepada dirinya sendiri.

Kita memang dilahirkan untuk laut, selat dan padang- padang sabana, tetapi hal tersebut hanya mungkin kita pahami secara paling intens jika kita selalu kembali pada apa yang paling dalam dari jiwa kita.

Di sana, diperlukan keterbukaan untuk menerima apa yang diberikan kepada jiwa kita oleh diri kita, sekaligus kerendahan hati untuk mengambil apa yang bisa kita ambil.

Derrida menulis bahwa di hadapan ―samudera kata-kata—sea of words‖ sebagaimana ungkap Plato12 atau ―padang kata-kata‖ dalam istilah saya, kita dituntut mengembangkan kapabilitas tertentu kalau ingin ―mengambil‖ dari dalam laut, selat atau padang sabana tersebut apa yang kita inginkan: sebuah kata, sebuah kalimat, surat, isi atau makna tertentu dengan tujuan menopang maksud kita.

Derrida lalu mengungkapkan bahwa membaca mengandaikan being capable of reading a writing. Capable itu datang dari kata capere yang berarti mengambil. Maka membaca bersangkut paut dengan kemampuan, kapabilitas, kapasitas jiwa dalam tindakan mengambil (13).

Jadi pertama- tama menyangkut tindakan mengambil, sehingga menjadi peristiwa dan bukan menyangkut apa yang mau diambil. Tentu saja kita membutuhkan hasil atau objek, apa itu sebagai sesuatu, tetapi jika

hasil diutamakan maka kapasitas mengambil itu menjadi instrumental. Inilah yang membentuk jiwa seseorang. Jiwa adalah hamparan maha tak-berhingga yang menerima apa saja yang dihujankan kepadanya oleh mata dan tangan: berjiwa hunters, atau pastoralist, atau ranchers dalam dunia semasa yang berlogika teknologi ini (14).

Kalau demikian, dalam lain hal, Parinseja menjelma antitesis atas wajah paling ‗representatif‘ berdasarkan setting kekuasaan- pengetahuan-institusional tentang Timor secara umum. Wajah kemiskinan membentuk sedemikian rupa imajinasi masyarakat luar Timor tentang tanah dan orang-orang setanahnya, karena yang diutamakan adalah apa yang bisa diambil darinya.

Hasil yang paling nyata dari prasangka kultural-politis yang mengeras meringkus nalar: bahwa Timor sebagai satu identitas tak lebih dari kumpulan orang miskin yang terjebak dalam tradisi, adat, mistisisme, suanggi dan sejenisnya.

Modernitas lalu hadir sekadar tempelan yang menyelubungi orang-orang setanahnya. Maka Timor yang di Timur Indonesia adalah geografi imajinatif mengenai taman kemiskian yang tetap eksotis bagi kekuasaan yang melayani dirinya sendiri.

aku mencium bibirmu yang asin
di kerikil pantai yang purba
celah segala miskin berakar

aroma pembunuh menjilat-jilat
mengitari tiang-tiang harapan
penopang duduk para tetua kampung

mereka mendaraskan doa
dari kisah masa lalu
semisal mimpi hanya untuk dikenang
setelah malam dipecah-belah pagi

kata mereka,
kemiskinan itu seumpama matahari
yang memanggang langit hingga arang
dan kita menyebutnya malam

ia masih akan kembali, esok
bersiaplah!
sekali lagi kita masih harus mengarunginya

(sajak ―mengarungi kemiskinan‖)

Secara semiotis, penempatan sajak ―mengarungi kemiskinan‖ di antara sajak ―rogare‖ dan sajak ―suanggi‖ memerlihatkan sesuatu yang menarik. Bila dicermati dalam pertalian dengan pengalaman-pengalaman religio-eksistensial terlihat bahwa kemiskinan semacam titik inklusio konsentris (titik gepe-gepe ~ istilah RD. Michael Valens Boy, Pr. Lic. Biblicum), pusat, nexus, atau pusaran berlangsungnya intensitas tentang yang tremendum e t fascinosum (khiastik).

Kemiskinan dapat menciptakan pendoa yang setia dalam arti eksistensial, bukan materialisme, tetapi pada sisi lain kemiskinan menjadi lahan subur bagi keberadaan ‗suanggi‘. Artinya, dalam kemiskinan seseorang diposisikan untuk dengan

keberanian menentukan tempatnya: menjadi pengikut tuhan atau menjadi suanggi, mengikuti hantu.
Lalu di mana atau mana yang bisa kita sebut sebagai estetika tragedi? Kemiskinan membuat kehidupan menjadi sangat sulit.

Hidup menjadi keras. Mengada dalam situasi demikian, momen-momen peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan menjadi saat-saat orang sejenak melepaskan/melupakan apa yang memberatkan. Kegembiraan sebagai ekstasis-transendensi adalah momen katarsis bahkan dapat muncul dalam situasi yang paling mencekam sekalipun.

Dalam habitus orang Timor, mengental apa itu estetika tragedi. Pesta adalah saat orang melupakan sejenak penderitaannya. Di dalam pesta, lagu dengan syair dan musik yang bernada sedih bisa membuat orang menari gembira.

Kesedihan yang menggembirakan, sebuah peralihan yang serta-merta dan berlangsung: sedih ke gembira ke sedih ke gembira itulah yang saya maksud sebagai estetika tragedi. Secara literer dapat dibandingkan dengan mazmur-mazmur tepĭllâ dalam tradisi biblis.

pesan dari asap di ujung sarungmu
ialah santapan lezat bagi tunas-tunas harapan
yang sudah kami sebut-sebut dalam mohon

di setiap kibarannya
gelisah tak kepalang tanggung menimpa
serupa detik-detik jelang lector melesatkan flagra

tapi bukan untuk segenggam dera
melainkan pijakan untuk mengejar cita
yang terus memanggil dari bubungan rumah

di balik lekukan sarungmu berjubel ribuan tanah
yang saban subuh siap mengucur ke pusar embun
yang lugu cerah

(sajak ―di ujung sarungmu‖)

Bahwa orang tetap hidup, menghayati keadaannya, menerimanya tanpa sebuah penyelidikan akademis kalkulatif kuasi-ilmiah terlebih dahulu serupa di televisi-televisi, ‗mengarungi kemiskinan‘ dengan kesetiaan sambil sekali ‗pesta hujan‘ adalah sesuatu yang membuat orang tetap kuat setia dalam ziarahnya.

Dengan karakter anamnetik jiwa dalam perspektif estetika tragedi inilah bisa kita pahami mengapa masyarakat kita dicap senang membuat pesta. Pesta membuat orang tetap hidup, menatap esok dengan gembira dan berani, walau itu berarti membuat mereka tetap miskin.

Pesta itu serupa ―imaging‖ yakni dimensi yang terus muncul, karakter melankolistik seseorang. Tentu saja dari perspektif yang berbeda, semua orang tidak ingin miskin sehingga barangkali benar kata Aristoteles bahwa mereka yang serakah sering kali adalah orang yang terus-menerus membicarakan orang miskin.

Puisi-puisi dalam Parinseja adalah olahan bahasa, yakni bahasa yang membahasakan dirinya, bahasa yang menghadirkan diri sebagai peristiwa anamnetik. Maka, Parinseja tidak hanya menyangkut subjek, ya subjek yang terbuang. Lebih dari itu, ia adalah peristiwa itu sendiri, peristiwa yang membuat seseorang menjadi ada.

Ini tidak berarti saya mendukung cara pandang dan cara hidup yang menimpa Parinseja yang sebagai perempuan tidak diinginkan kehadirannya oleh ayahnya sendiri. Tetapi bahwa Parinseja adalah peristiwa dan sebagai peristiwa, ia menyangkut diri kita sendiri, bagaimana kita menemukan diri dan menjadi diri sendiri dalam setiap keterbatasan yang kita alami.

Parinseja sebagai sebuah perjalanan anamnetik adalah sebuah estetika tragedi: pergi kepada ‗Timor‘,15 pergi kepada diri sendiri, kepada luka diri kita, menemukan diri sendiri ‗pada fajar dan senja‘ di sane.

Catatan-catatan akhir:

  1. Cf. Julia Kristeva, Black Sun: Depression and Melancholia, trans. Leon S. Roudiez, (New York: Columbia University Press, 1989), p. 9.
  2. Hegel sebagaimana dikutip oleh John Sallis, Force of Imagination: The Sense of Elemental, (Bloomington: Indiana University Press, 2000), p. 29.
  3. Tentang pembedaan ini sudah pernah saya ulas dalam Yasintus T. Runesi, -John D. Caputo tentang Hermeneutika dan Etika Diseminasi‖ dalam Frans Asisi Datang, dkk (peny.), Persembahan bagi Harimurti Kridalaksana: Peneroka Linguistik Indonesia, (Depok: Departemen Linguistik FIB – UI, 2014), p. 265.
  4. Alejandro A. Vallega, Heidegger and the Issue of Space, (Pennsylvania: The Pennsylvania State University Press, 2003), p. 169.
  5. Cf. Johann Baptist Metz, ―Anamnestic Reason: A Theologian‘s Remarks of the Crisis in the Geisteswissenschaften” dalam Axel Honneth, et al. (eds.), Cultural- Political Interventions in the Unfinished Project of Enlightenment, trans. Barbara Fultner, (Cambridge, MA: The MIT Press, 1992), pp. 189-196.
  6. Edward Said, ―Secular Criticism‖, dalam The World, the Text and the Critic, (London: Faber, 1984), pp. 3-5.
  7. Tentang problem penggelapan ini sudah saya ulas dalam Yasintus T. Runesi, Tarian, Pengakuan dan Politik dalam Novel Robertus Fahik Likurai untuk Sang Mempelai‖ dalam Fakultas Seni Rupa dan Desain, Prosiding Seminar Nasional Seni Tradisi: Keragaman Tradisi sebagai Warisan Budaya, 16 & 17 Desember 2014, (Jakarta: Universitas Trisakti, 2014), pp. 499-512.
  8. Frase ini dijelaskan dengan cara yang menawan oleh Derrida sebagai ―la chance de la rencontre” yakni kesempatan mengenai kesempatan bertemu, suatu kemungkinan untuk bertemu namun pertemuan itu tak dapat direduksi kepada kehadiran atau ketidakhadiran. Pengalaman religius sebenarnya memerlihatkan hal itu. Jacques Derrida dalam Sean Gaston, Derrida, Literature and War: Absence and the Chance of Meeting, (London: Continuum, 2009), p. 62.
  9. Vallega, Heidegger and the Issue of Space, p. xii.
  10. Cf. Jeff Malpas, Heidegger‟s Topology: Being, Place, World, (Cambridge, MA: Cambridge University Press, 2006), p. 211.
  11. Martin Heidegger, Elucidations of Hölderlin‟s Poetry, trans. Keith Hoeller, (New York: Humanity Books, 2000), p. 27.
  12. Plato, Parmenides, 137a, dalam Plato Complete Works, ed. J. M. Cooper, (Cambridge: Hackett Publishing Company, 1997).
  13. Gaston, Derrida, Literature and War, p. 68.
  14. Cf. Tim Ingold, Being Alive: Essays on Movement, Knowledge and Description, (London: Routledge, 2011); Cf. Tim Ingold, Hunters, Pastoralist, and Ranchers, (Cambridge: Cambridge University Press, 1988).
  15. _Timor‘ dalam bahasa Latin berarti ketakutan.

Sintus Runesi, tinggal di sintusrunesi@gmail.com.

*Ulasan Sintus Runesi (sekarang sudah menjadi Imam Keuskupan Agung Kupang) terhadap buku Parinseja, dipublikasikan di Jurnal Sastra Santarang, Edisi 37, Mei 2015.

The post Dan Kita pun Diundang ke ‘Timor’ appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/dan-kita-pun-diundang-ke-timor/feed/ 0 239
Parinseja https://steveelu.satutenda.com/parinseja-buku-stefanus-poto-elu/ https://steveelu.satutenda.com/parinseja-buku-stefanus-poto-elu/#respond Wed, 19 Apr 2023 11:53:47 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=198 Judul : ParinsejaPenulis : Steve EluPenerbit : Motion PublishingTangggal Terbit : 13 Maret 2015Jumlah Halaman: x + 108 halaman, BWJenis Cover : Soft CoverDimensi (P x L) : 13,5 X 21 cmKategori : Sastra/puisi Kata parinseja disemai sebagai judul kumpulan puisi ini diambil dari cerita dongeng yang penulis terima dari ibu dan neneknya ketika masih […]

The post Parinseja appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Parinseja - Steve Elu

Judul : Parinseja
Penulis : Steve Elu
Penerbit : Motion Publishing
Tangggal Terbit : 13 Maret 2015
Jumlah Halaman: x + 108 halaman, BW
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (P x L) : 13,5 X 21 cm
Kategori : Sastra/puisi

Kata parinseja disemai sebagai judul kumpulan puisi ini diambil dari cerita dongeng yang penulis terima dari ibu dan neneknya ketika masih kecil.

Setiap malam menjelang tidur, ibu atau nenek sering menceritakan cerita-cerita dongeng yang terekam dengan sangat baik dalam ingatan penulis hingga saat ini.

Salah satunya ialah dongeng tentang Parinseja. Parinseja adalah sebutan untuk perempuan atau gadis yang memiliki paras cantik dalam budaya ibu di Suku Kase Metan di NTT.

Secara ringkas, dongeng Parinseja adalah cerita tentang seorang puteri cantik yang kelahirannya tidak diterima oleh sang ayah.

Sebab, ketika istrinya mengandung, yang ia harapkan saat lahir nanti adalah anak laki-laki. Tapi impiannya itu meleset. Yang lahir adalah perempuan, yakni Parinseja.

Karena sang ayah tidak mengizinkan Parinseja tinggal di rumah, maka ibunya menaikkan Parinseja ke atas pohon kapuk yang ada di depan rumah.

Itulah tempat tinggal Parinseja sehari-hari. Setiap pagi atau sore, saat ayahnya tidak berada di rumah, barulah ibunya memanggil Parinseja turun dari pohon itu untuk makan dan minum. Dan, perbincangan sang ibu dan Parinseja selalu dalam bentuk lagu.

The post Parinseja appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/parinseja-buku-stefanus-poto-elu/feed/ 0 198
Mengintip Puitika Masa Depan Steve Elu https://steveelu.satutenda.com/catatan-untuk-buku-puisi-steve-elu/ https://steveelu.satutenda.com/catatan-untuk-buku-puisi-steve-elu/#respond Tue, 18 Apr 2023 11:37:56 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=225 Sebelum membaca naskah kumpulan sajak ini, saya belum pernah mendengar nama Steve Elu diperbincangkan dalam kancah perpuisian Indonesia. Ada banyak sosok pendatang baru dalam dunia kepenyairan yang muncul dan surut dengan cepat, tanpa pernah sempat meraih tempat layak di antara jajaran para penyair yang sudah malang-melintang terlebih dahulu. Namun, saya melihat ada sesuatu yag berbeda […]

The post Mengintip Puitika Masa Depan Steve Elu appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Sebelum membaca naskah kumpulan sajak ini, saya belum pernah mendengar nama Steve Elu diperbincangkan dalam kancah perpuisian Indonesia. Ada banyak sosok pendatang baru dalam dunia kepenyairan yang muncul dan surut dengan cepat, tanpa pernah sempat meraih tempat layak di antara jajaran para penyair yang sudah malang-melintang terlebih dahulu.

Namun, saya melihat ada sesuatu yag berbeda serta istimewa pada sajak-sajak Steve Elu, yang lama baru sempat saya simak sejak ia mengirimkannya kepada saya beberapa bulan sebelumnya. Penyair muda yang relatif baru muncul ini memiliki kekuatannya sendiri, yang segera terlihat sejak awal kumpulan sajaknya.

Ia meramu modernitas dan tradisi dengan ringan dan terampil tanpa memperlihatkan adanya kegamangan. Padahal, menurut saya, inilah tantangan terbesar yang dihadapi para penyair di Indonesia, yang harus bekerja dengan peranti yang disediakan oleh tradisi luar sembari harus mencoba untuk membumikannya sebagai bagian dari yang lokal.

Ia merangkai kata dan gagasan dengan kehalusan perasaan, tetapi kita juga dengan kuat bisa merasakan adanya determinasi. Inilah hal yang pertama kali menyentak pada saat kita mulai menekuni sajak-sajaknya pada awal kumpulan ini.

Kelembutan dalam sajak-sajaknya adalah pengejawantahan kearifan lokal yang dengan setia tetap mengajari kita cara-cara melestarikan kehidupan. Sementara suara lantang dan lugas yang muncul silih-berganti dengan kelembutan itu adalah suara perlawanan terhadap gerusan modernitas yang membawa segerbong permasalahan sosial budaya bersama kedatangannya.

Kendati demikian, itu semua sama-sekali tidak berarti bahwa Steve adalah seorang tradisionalis yang anti-kebaruan. Apabila pada tataran gagasan terkesan kuat bahwa ia adalah seorang pembela pelestarian nilai-nilai tradisional, pada tataran bentuk justru Steve memperlihatkan kesediaannya untuk meninggalkan konvensi persajakan yang mapan.

Ia, antara lain, meniadakan penggunaan huruf kapital dalam sajak-sajaknya, serta tanda hubung yang lazimnya dipakai untuk kata-kata ulang. Semangat pembaruan bentuk ini hadir secara paradoks, namun harmonis dengan kekukuhannya untuk mempertahankan kearifan lama yang oleh modernitas cenderung untuk ditinggalkan.

Tidak banyak penyair yang mampu menciptakan paradoks seperti ini sembari tetap mempertahankan efisiensi penyampaian pesan-pesan utama sajak, terlebih oleh seorang pendatang baru. Namun pada sajak-sajak Steve, semuanya terlihat bagai komposisi sebuah orkestra yang dimainkan dengan ajek dan percaya diri sehingga terasa mengalir begitu saja, tanpa sendatan.

Gaya liris cukup dominan dalam membangun larik dan bait sajaknya. Akan tetapi sajak yang dihasilkan bukanlah sajak-sajak yang hanya sesuai untuk dihayati dalam batin sebagai permenungan-permenungan, melainkan sajak-sajak yang membuka diri mereka untuk dilantunkan. Dalam hal ini pun, Steve sudah memperlihatkan upaya untuk keluar dari arus utama kecenderungan puisi modern, yang kerap mengasosiasikan yang liris dengan yang personal sehingga mewujud dalam sajak-sajak yang sulit untuk dibacakan keras-keras di depan suatu khalayak.

Sebaliknya, nuansa liris yang hadir dalam sajak Steve justru mendukung suatu tindak pembacaan yang ekspresif, sebagaimana yang lazim kita dijumpai dalam tradisi pantun: sarat dengan muatan liris, namun membangun komunikasi dengan khalayaknya.

Pada puisi yang setia dengan tradisi modern barat, unsur liris biasanya digunakan untuk membangun suasana batin yang subtil dengan kandungan subjektivitas tinggi, yang menyebabkan sebuah sajak menjadi tak mudah untuk dipahami, apalagi dilantangkan.

Yang tidak mudah untuk dipolakan adalah impetus utama yang mendorong Steve menorehkan sajak-sajaknya. Jelas tampak adanya kecenderungan romantik untuk merenungi dan merindukan apa yang telah hilang atau sedang berlalu digerus zaman.

Juga ada banyak pelukisan pastoral yang kuat akan alam dan lingkungan rural, diselingi kadang oleh kegusaran dan kepedihan karena ia merasa tak berdaya untuk dapat menyelamatkan apa yang tersisa serba sedikit dari semuanya itu.

Namun, pada sebagian sajaknya yang lain, Steve juga tampil santai dan terkesan bermain-main dengan kata, imajinasi, dan sajak. Jadi, ada suasana batin berbeda-beda yang membuat pembaca mustahil untuk menemukan dengan pasti apa passion dan visi penyair yang sesungguhnya.

Sajak-sajaknya yang berformat prosa lebih banyak memperlihatkan kecenderungan ini, dan dari segi estetik, tak dapat menandingi kehalusan dan keindahan sajak-sajaknya yang merupakan hasil eksplorasi estetik atas bentuk-bentuk lama dan baru.

Saya melihat hal ini sebagai suatu masalah. Akan tetapi sangat boleh jadi ini semua mengindikasikan perjalanan yang belum usai dari seorang penyair muda yang masih mencari tetapi juga telah mulai menunjukkan sebagian identitasnya.

Hal penting lain yang dapat dengan gamblang kita saksikan di dalam sajak-sajaknya adalah elemen musikal. Entah sengaja atau tidak, Steve sepertinya menulis sajak sembari pada saat yang sama menggubah lagu. Sejumlah sajaknya, bila kita baca lamat-lamat di dalam hati, mengundang irama dan melodi. Ini didukung oleh pilihan diksi, yang memang membuka diri bagi suatu musikalisasi.

Bagi saya, ini pun merupakan warisan tradisi bersastra yang tua dan berakar kuat di kepulauan ini, yang dengan setia masih Steve munculkan dalam sajak-sajaknya. Jejak-jejak kelisanan itu, ketika mengalami transformasi menjadi tulisan, tetap setia membawa karakteristik kelisanan yang utama, yang pernah ada masanya menjadi bagian dari jiwa suatu syair, yaitu aspek musikal, yang di atas sudah saya singgung sedikit.

Mungkin saja Steve memang masih sedang dalam tahapan mencari format yang tepat untuk identitas kepenyairannya, yang di masa depan diharapkan akan menjadi “tanda tangan” khas dirinya. Namun, yang jelas, ia telah memperlihatkan kepiawaiannya dalam beragam format, sebagaimana yang kita lihat pada eksperimentasi puitiknya dalam kumpulan ini. Tinggal soalnya adalah bentuk mana yang paling memberi rasa nyaman dan kepercayaan diri kepada penyairnya.

Masalah estetika seperti ini pada ujungnya tidak dapat dilepaskan dari posisi pribadi Steve, yang dibentuk oleh segenap pengetahuan dan segala pengalaman hidupnya yang ia enyam selama ini. Bagaimanapun juga, estetika adalah juga sikap politik pengarang, visi hidupnya, dan sekaligus arena pergulatan penciptaannya.

Ia bukan sekadar pelengkap dandanan diri yang setiap saat bisa diganti seperti berganti baju. Sukses perjalanan hidup kepenyairan seorang pengarang sebagian besar dipengaruhi oleh seberapa serius dan komit ia terhadap pilihan estetiknya.

Alam yang keras di kampung halamannya rupa-rupanya juga mendapat tempat cukup penting dalam sajak-sajak Steve. Ia bercerita tentang sumber air yang mengering, padahal sangat vital sebagai sumber kehidupan. Mengeringnya sumber air ini dilukiskan oleh penyair dengan kata-katanya, “kami baru saja menguburnya / ia meninggal di hari itu, tahun itu” (“kabar air”). Ini sebuah imaji yang kuat dan keras.

Hilangnya air disetarakan dengan sebuah peristiwa kematian, tidak saja matinya sumber penghasil air yang amat penting tetapi juga petaka buruk yang mungkin ditimbulkan oleh matinya sumber tersebut. Air tak hanya menjadi imaji dominan dalam sajak ini, tetapi juga dalam banyak sajak yang lain, dan konotasinya tidak selalu berkenaan dengan kematian.

Di tangan Steve, air bisa menjadi ekspresi cinta, harapan, dan kesejukan jiwa. Air dalam kumpulan puisi ini adalah simbol cairnya pilihan bentuk, gagasan, serta nada yang masih terus bergerak dan belum menemukan muaranya.

Wujud romantisisme lain dalam kumpulan ini adalah tingginya frekuensi kemunculan imaji-imaji universal yang kini sudah kian konvensional, seperti bulan, matahari, malam, fajar, dan hujan. Dalam sajak-sajak yang bernapaskan sentimentalitas dan mengandung imaji-imaji tersebut, Steve tidak tampil secara istimewa.

Kadang ada kesan klise, walaupun iamji-imaji itu berusaha ia gunakan dengan cara yang menyegarkan. Demikian sajak-sajak cintanya yang, menurut saya, tidak menggedor kemapanan pembaca dalam berhadapan dengan puisi, seperti halnya yang mampu dilakukan oleh sajak-sajaknya yang lain.

Kekuatan Steve jelas tidak terletak pada sajak-sajak sentimental, yang secara filosofis nyaris tidak menawarkan pemikian ataupun permenungan apa-apa. Saya yakin bahwa, tidak terlalu lama dalam proses pematangan puitika sajak-sajaknya, Steve akan meninggalkan kecenderungan yang seperti ini dan menemukan kekuatan utamanya, yakni suatu estetika yang ia bangun lewat perpaduan harmonis antara apa yang diwariskan oleh tradisi dan apa yang ditawarkan oleh modernitas.

Di dalam setiap perjumpaan ataupun perbenturan antara yang lama dan yang baru, selalu ada yang hilang, walaupun terkadang juga ada yang lahir dari situ. Sajak-sajak Steve tak luput merekam atmosfir melankolis sebagai wujud sesal atas kehilangan yang terjadi. Desa dikontraskan dengan kota, diberi metafor fajar yang sebentar menyingsing lalu dengan cepat tenggelam oleh hiruk pikuk rutinitas kehidupan urban.

Penyair sampai harus “mengajak sepi” untuk pergi bersamanya karena di kota yang kini ia tinggali, ia merasa sendiri dan bukan siapa-siapa. Taman kota menjadi pelabuhan terakhir tempat ia masih dapat merindukan apa yang telah hilang, walau di tempat itu juga ia harus kembali terjaga dari mimpi masa lalu yang segera pupus (“menuju taman”).

Imaji serupa muncul kembali dalam sajak lainnya, “pulang”, ketika penyair berkata, “aku ingin mengajakmu / pulang ke gubuk sepi / rindu itu kian renta”. Ada sesal, ada ketakberdayaan yang diwujudkan dalam kepasrahan, dan ada kerinduan yang tak mau pergi.

Semuanya adalah simptom melankolia: ketidaksediaan untuk membiarkan yang telah berlalu untuk pergi selamanya. Di sini kita bisa menemukan jejak-jejak estetika Steve yang sedang dibangunnya secara terserak dan masih berbentuk potongan-potongan puzzle yang belum jadi.

Steve tampaknya cukup sadar bahwa ia lahir dalam generasi penyair yang menerima semua warisan dunia dalam perpuisian. Di masa kini, sungguh tidak mudah menemukan sesuatu yang baru, sebuah revolusi persajakan yang mampu menggegerkan dunia, atau suatu bentuk baru yang belum pernah digali sebelumnya.

Ia adalah bagian dari generasi penerima dan pelaku reproduksi, bukan generasi perintis yang menelurkan konsep maupun bentuk baru. Kepiawaiannya akan diukur dari sejauh mana ia mampu meracik dan meramu segenap warisan itu sehingga melahirkan sintesis yang tadinya tak terpikirkan karena belum semua bahan mentahnya tersedia. Seperti dikatakannya dalam sebuah sajaknya, “segala puisi sunyi telah terbaca / semua sajak baik sudah terlafal” (“kisah berguguran”).

Di dalam kancah seperti ini, originalitas barangkali bukan nilai tertinggi yang dilihat orang pada sebuah sajak. Sangat boleh jadi, di dalam sajak itu kita bisa melacak kehadiran alusi-alusi ke mitos yang telah lama mapan, metafor yang pernah mengundang decak kagum ketika pertama kali ditelurkan seorang penyair terdahulu, dan pengaturan metrik serta pemilihan diksi yang cukup dapat kita kenali dalam karya penyair lain sebelumnya.

Kita bisa mendeteksi jejak-jejak para penyair besar dari masa lalu yang turut membentuk sajak-sajak penyair muda ini. Ini sebuah fenomena serta proses yang wajar dan boleh dikata sangat alamiah, khususnya pada masa kini, ketika gagasan-gagasan besar telah nyaris aus dituangkan.

Maka, keistimewaan seorang penyair masa kini lebih dinilai dari kreativitasnya dalam memakai sumber yang ada dan berlimpah itu, sehingga ia boleh menorehkan jejak tangannya di lorong ketenaran bersama nama-nama besar yang telah terlebih dulu menorehkan karya cipta mereka di sana.

Apakah yang diratapi oleh Steve adalah tiada laginya masa ketika seseorang masih bisa menghasilkan sebuah originalitas, di samping zaman yang telah berlalu serta dunia yang telah berubah?

Jika kita menangkap suasana melankolis yang cukup kentara dalam sajak-sajak Steve, kita melihat melankolia itu erat dijajarkan dengan perpisahan sebagai sebuah momen yang menusuk jiwa.

Setidaknya, ada tiga sajak dalam kumpulan ini yang khusus bertutur tentang perpisahan. Ketiga sajak berjudul “perpisahan” ini dikemas dalam intensitas liris yang padat tetapi mengalir dan mengalun, meski kabar yang disampaikannya adalah sebuah berita perih tentang kehilangan—sebuah perpisahan.

Di dalam ketiga sajak ini, waktu menjadi variabel utama pembangun makna dan suasana. Permainan yang dinamis dalam pemaknaan atas senja, malam dan fajar secara efektif membangun atmosfir kehilangan, kerinduan, dan kepergian.

Dalam proses pencarian akan penanda dirinya yang khas lewat berbagai eksperimentasi dengan puitika, Steve pun tampaknya merindukan masa ketika originalitas belum menjadi kemustahilan dan ‘penciptaan’ adalah kata dengan makna yang penuh, bukan sebatas daur ulang atau reproduksi.

Kesadarannya bahwa masa itu sudah berlalu dan yang tinggal cuma mimpi atau ilusi diejawantahkan oleh penyair dengan pilihan kata yang teramat membumi dan sederhana, yang kerapkali dianggap sudah menjadi klise serta kehilangan daya pikatnya sebagai bagian dari diksi puitis, seperti sungai, daun, hujan, kicau burung, pelangi, dan angin.

Namun, Steve menggarap semuanya itu dengan sensibilitas serta kepekaan yang tajam. Kata-kata yang nyaris sudah kering daya magisnya itu seolah memperoleh geliat hidupnya kembali dan tampil dengan kesegaran dan sentilan baru. Sekali lagi, Steve menunjukkan bahwa puitika atau, dalam kerangka lebih luas, estetika tidak selalu membutuhkan originalitas dan revolusi.

Beberapa sajaknya malah memancarkan kekuatan yang cukup mencengangkan karena berhasil mengawinkan yang liris dan yang prosais. Kita seperti melihat kelugasan Chairil Anwar yang berpadu dengan kelembutan Hartoyo Andangjaya, misalnya, dalam sajak “di rumah”:

di sudut rumahnya tergantung
bebunyi yang melengking
kabur dari kamar

saban hari jendela kian kumal
diterjang badai caci yang kian mekar
kelopaknya dibawa angin hingga ke teras
lalu bertualang ke segala penjuru

di belakang rumah
bergelantungan damai yang lesu
menyaksikan jantung rumah berdebu

Steve mampu menangkap sebuah pemandangan sederhana yang sama sekali tidak menarik ataupun penting, dan dengan daya imajinasi yang tinggi, menciptakan kisah, membuat yang sederhana dan diam menjadi kaya dengan gerak dan vitalitas.

Namun, pada saat yang bersamaan, kita pun tahu bahwa apa yang sedang ia lukiskan secara cermat dengan kata ini tak lain dan tak bukan adalah sebuah rumah yang telah kehilangan jiwanya, mati, dan dibiarkan hancur secara perlahan-lahan.

Mengeksploitasi hal-hal sederhana yang sama sekali tidak menarik perhatian serta menyulapnya menjadi sebuah momen puitis yang menawan inilah semestinya yang akan jadi keunggulan Steve di masa akan datang, saat ia menjejakkan namanya di jajaran para penyair terkemuka Indonesia masa depan.

Ini adalah masa depan yang direngkuh dengan kepala tak lupa menengok ke belakang, menatap tradisi yang hilang, namun “tercatat di lorong angin” dan menjadi “sejarah yang selalu kukenang”, kata penyair ini dalam salah satu sajaknya (“mata”).

Maka, gagasan akan “rumah” yang sangat kerap muncul dalam banyak sajak Steve pun mengundang sebuah spekulasi. Apakah rumah yang selalu dirujuknya masih menjadi bagian dari kekinian dirinya atau sudah menjadi sejarah masa lalu?

Jika ini adalah rumah puitis, tempat estetika sajak-sajak Steve menemukan sumber hidupnya, maka kesintasan penyair ini di masa depan adalah sedikit banyak ditentukan oleh apakah ia bisa mengisi rumah masa lampau itu dengan reramuan kata dan pemikiran, sehingga rumah itu tak hanya menjadi sesuatu yang dicatat sebagai kenangan, melainkan tetap menginspirasi sang penyair dengan berbagai imajinasi tentang masa depan.

Pada kumpulan sajak inilah kemungkinan-kemungkinan jawabannya dapat ditelusuri dan ditemukan apabila pembaca cukup jeli dan cermat menangkap sensibilitas serta sensitivitas Steve.

Dimensi baru yang muncul sesudah pembacaan kita mencapai lebih dari separuh kumpulan sajak ini adalah sebuah spiritualitas. Yang Ilahi, yang tadinya senyap dan tak tampak dalam sajak-sajak awal, kini mewujud dalam larik dan bait sejumlah sajak Steve.

Apakah ini gambaran samar dari masa depan yang dilukis saputan demi saputan dalam benak penyair? Kita tak tahu pasti. Yang jelas, kesederhanaan—yang merupakan kekuatan utama Steve—kembali menjadi intens pada tahap ini, dan kegalauan estetis yang sempat menginterupsi dengan sedikit kegenitan untuk menutupi gejolak itu surut secara perlahan.

Steve seperti kembali menemukan formatnya—rumah puitis yang hendak direnovasinya—yang boleh jadi adalah jangkar di penghujung perjalanan yang ditempuhnya untuk mencari bentuk, yakni bentuk yang akan dieraminya “dalam doa / sehingga ia mekar / sebagai anggur di ladang / para penyair”, sebagaimana ia janjikan pada akhir salah satu sajaknya (“kabar darimu”).

Pada akhirnya, ada kesadaran bahwa warisan masa lampau tak bisa ditolak, seberapapun besar keinginan untuk menggali yang sama sekali baru untuk masa depan. Steve menerima beban puitika yang sudah dipahat oleh generasi panjang para penyair dan kini dibebankan di pundaknya untuk dijaga kehidupannya.

Bukannya seluruh kegamangan dan kecemasan kini pupus, namun dalam kebingungan yang masih tersisa, diterimanya amanat itu: “kau lahir dari puisi yang ditanam ayah di pondok”. Dan sang penyair menjawab, “ya sudahlah. mungkin aku / adalah anak dari tuan dan nyonya puisi.” Amin.

Maka, kita berharap, ketika sajak terakhir dalam kumpulan ini habis terbaca, perjalanan merajut masa depan puitika Steve Elu akan terus dapat kita amati, dan pada setiap kelok, semoga kita akan bisa menyaksikan sesuatu yang baru sedang bertunas.

*Manneke Budiman, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Artikel ini diterbikna bersama buku “Sajak Terakhir (untuk Sang ayah).

The post Mengintip Puitika Masa Depan Steve Elu appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/catatan-untuk-buku-puisi-steve-elu/feed/ 0 225
Sekapur Sirih (-Pinang): Pengatar untuk Buku Puisi Sajak Terakhir https://steveelu.satutenda.com/buku-puisi-sajak-terakhir-steve-elu/ https://steveelu.satutenda.com/buku-puisi-sajak-terakhir-steve-elu/#respond Tue, 18 Apr 2023 11:28:11 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=215 Judul: Sajak Terakhir (untuk Sang Ayah)Penulis: Steve EluPenerbit: Teras BudayaTerbit: Juni 2014Jumlah Halaman: xii +92 halaman WBJenis Cover: Soft coverKategori: Sastra/Puisi “tuan puisi selalu membawakan saya puah, manus, dan aob,karena ia telah menganggap saya saudaranya, sesamanya,bahkan dirinya. ia senantiasa membelah tabirnya untuk saya selami,hingga ke sulur-sulurnya.” Dalam budaya Suku Dawan – suku saya – (salah […]

The post Sekapur Sirih (-Pinang): Pengatar untuk Buku Puisi Sajak Terakhir appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Buku Puisi Sajak Terakir Steve Elu

Judul: Sajak Terakhir (untuk Sang Ayah)
Penulis: Steve Elu
Penerbit: Teras Budaya
Terbit: Juni 2014
Jumlah Halaman: xii +92 halaman WB
Jenis Cover: Soft cover
Kategori: Sastra/Puisi

“tuan puisi selalu membawakan saya puah, manus, dan aob,
karena ia telah menganggap saya saudaranya, sesamanya,
bahkan dirinya. ia senantiasa membelah tabirnya untuk saya selami,
hingga ke sulur-sulurnya.”

Dalam budaya Suku Dawan – suku saya – (salah satu suku besar di Pulau Timor), puah (pinang), manus (sirih), dan aob (kapur) adalah materi yang kehadirannya menarasikan keakraban antarkeluarga dan antarsesama. Orang Dawan, juga semua orang Timor, mengenal proses memakan puah, manus, dan aob sebagai makan sirih-pinang.

Biasanya, puah, manus, dan aob diberikan kepada siapa saja yang bertamu ke rumah. Selain sebagai ucapan selamat datang, ia juga melambangkan penerimaan yang tulus dari rumah yang dikunjungi. Dalam acara-acara adat atau upacara besar lainnya, puah, manus, dan aob adalah tiga unsur yang tak terabaikan.

Puisi-puisi dalam sajak terakhir (untuk sang ayah) ini adalah puah, manus, dan aob tuan puisi. Ia mendatangi saya setiap saat, bahkan di saat saya tak siap menerimanya. Ia menjelma sebagai bunyi, tutur, pola laku, dan juga sebagai bisu-sunyi.

Saat ia tiba, ia membuka dirinya dan mengundang saya masuk, mengambil sekeping puah, sepotong manus, dan sedeta aob untuk saya kunyah, selami rasanya, dan akhirnya meludahkannya sebagai kata. Kata-kata yang lahir dari kunyah-selami itulah yang sekarang ada di tangan Anda.

Kumpulan sajak terakhir (untuk sang ayah) tidak lahir dari gelimang prestasi. Ia tidak datang dari pengalaman puncak (peak experience). Ia lahir dari pengalaman jatuh, pengalaman kehilangan, dan pengalaman ketiadaan.

Bahkan, tuan puisi datang dalam keseluruhan dirinya di saat saya kehilangan. Kehilangan yang saya maksud di sini adalah kehilangan ayah saya. Dan tuan puisi itu adalah ayah saya yang hilang dari pandangan, namun selalu datang kepada saya dalam puisi.

Karena itu, sajak terakhir (untuk sang ayah), pertama-tama ingin saya persembahkan kepada tuan puisi, ayah saya, yang telah membuka dirinya kepada saya. Di keningnya saya ingin semburkan sajak terakhir (untuk sang ayah) sebagai puah, manus, dan aob untuk membekali perjalanan pulangnya.

Kepada ibu, ingin saya rapalkan sajak terakhir (untuk sang ayah) sebagai doa. Ia adalah nyonya puisi yang selalu jatuh cinta kepada puah, manus, dan aob sehingga sanggup mengarungi sisa-sisa harinya dengan penuh gigih. Kepada saya telah ia lebarkan rahimnya sehingga saya bisa bermain-main kata di sana.

Untuk tuan dan nyoya puisi, rasanya ucapan terima kasih tak pernah cukup tandingi surya cinta kasih kalian. Tapi biarkanlah ia ada sebagai fatamorgana yang selalu memanggil saya untuk berlari lebih cepat ke pangkuan kalian. Terima kasih pula kepada tiga bidadari saya, Ivon, Ela, dan Edel, yang selalu hadir sebagai petir sekaligus pelangi.

Saya hanya menuliskan kata, namun kalianlah yang mengantarkanya, memilahnya, mengingatkannya, bahkan juga menghentikannya. Kepada ketiga ponakan saya, Rici, Leni, dan Aldo, saya kadokan sajak terakhir (untuk sang ayah) sebagai pinta dari ba‘i agar kalian giat menganyam cita dan karsa demi masa depan kalian.

Beruntai-untai terima kasih ingin saya hidangkan kepada Manneke Budiman yang sudah bersedia memberikan pengantar bagi kumpulan puisi saya yang sangat sederhana ini. Pada sebuah perjumpaan di FIB UI Depok pada 2012, beliau sangat menaruh apresiasi bagi karya-karya yang dipandang “sastra pinggiran”.

Maka, ketika saya hendak menerbitkan antologi ini, beliaulah salah satu orang yang saya mintai kesediaannya untuk memberikan pengantar. Syukur bahwa beliau masih konsisten dengan apa yang pernah ia ucapkan.

Terima kasih yang tak terhingga juga saya haturkan kepada Bung Remmy Novaris DM. Ia adalah sosok dalam media sosial Facebook yang penuh kehangatan. Saya masih ingat di suatu sore, Bung Remmy mengajari saya membuat puisi berdasarkan barang dan suasana yang ada di sekitar saya. Menariknya, tutorial itu disampaikan lewat chating di Facebook. Itu terjadi lantaran setelah membaca beberapa puisi saya, beliau merasa tak puas.

Sejalan dengan itu, terima kasih pula kepada Hans Hayon dan Gusti Fahik. Kemurahan hati kalian untuk membaca kumpulan sederhana ini sebelum terbit adalah kado sekaligus cambuk di kepalaku untuk lebih lihai menelusiri ladang tuan dan nyonya puisi. Biarkan potongan-potongan sajak terakhir (untuk sang ayah) ada sebagai kopi hangat dalam gelas kalian untuk diteguk sebagai rasa cintaku kepada kalian.

Akhirnya, sulaman terima kasih yang tak terhingga batasnya saya meteraikan kepada semua rekan di Majalah HIDUP dan para sahabat pengeja malam: Roy, Aura, dan Rony. Kalian adalah kunang-kunang yang selalu datang, meski kadang tak sanggup menerangi.

Namun, keindahan dan seni berkata-kata kalian tak pernah sanggup saya sebut tiada. Kepada semua kenalan dan hadaitaulan, saya kirimkan sajak terakhir (untuk sang ayah) sebagai petir sekaligus hujan, sebagai es sekaligus seteguk air putih. Semoga ia sanggup gelimangkan makna bagi pewartaan kita.

au nek seon banit neoba ala ki.
(Terima kasihku untuk kalian semua)

The post Sekapur Sirih (-Pinang): Pengatar untuk Buku Puisi Sajak Terakhir appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/buku-puisi-sajak-terakhir-steve-elu/feed/ 0 215