Catatan Pinggir Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/catatan-pinggir/ Buah-Buah Pikiran Wed, 02 Apr 2025 15:21:54 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.2 https://steveelu.satutenda.com/wp-content/uploads/2023/04/cropped-Favicon-1-32x32.png Catatan Pinggir Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/catatan-pinggir/ 32 32 230899615 Akhirnya, Penantian Itu Berbuah… https://steveelu.satutenda.com/akhirnya-dapat-nuptk-dosen/ https://steveelu.satutenda.com/akhirnya-dapat-nuptk-dosen/#respond Wed, 15 Jan 2025 09:47:26 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=490 Membuka tahun 2025 dengan rasa syukur tak terhingga. Mungkin itu yang bisa saya katakan saat ini. Saya bersyukur bahwa tahun ini bisa saya awali dengan hal yang menggembirakan. Itu karena NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidik) keluar/jadi. Dan ini hal yang sangat menggembirakan bagi saya. Sebab hal ini sudah saya nantikan dengan penuh harap. […]

The post Akhirnya, Penantian Itu Berbuah… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Membuka tahun 2025 dengan rasa syukur tak terhingga. Mungkin itu yang bisa saya katakan saat ini. Saya bersyukur bahwa tahun ini bisa saya awali dengan hal yang menggembirakan.

Itu karena NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidik) keluar/jadi. Dan ini hal yang sangat menggembirakan bagi saya. Sebab hal ini sudah saya nantikan dengan penuh harap.

Sejak terjun ke dunia akademik pada semester kedua tahun 2022, saya baru tahu bahwa salah satu hal yang diperjuangkan oleh seorang dosen pemula adalah Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Setiap dosen pemula, target utama adalah mendapatkan NIDN ini.

Ketika saya memulai karir sebagai dosen, dan bertanya-tanya tentang hal ini, saya mulai menjadikan NIDN sebagai salah satu target.

Sebab, dengan nomor identitas dosen inilah seorang dosen bisa mengakses berbagai layanan yang disediakan oleh kampus dan pemerintah.

NIDN ini diperutukan bagi dosen PNS maupun dosen non PNS atau dosen-dosen di perguruan tinggi swasta.

Siapkan persyaratan

Perjuangan saya untuk mendapatkan NIDN ini cukup menguras tenaga dan memakan waktu yang panjang. Tentu saja ada berbagai hal yang harus saya tempuh.

Sejak bergabung dengan Universitas Bina Nusantara (BINUS) pada September 2024, mendapatkan nomor identitas ini pun jadi target saya.

Semua persyaratan saya siapkan. Surat-surat yang dibutuhkan untuk urusan ini saya siapkan segera. Tes kesehatan, narkoba, dan psikologi, juga saya jalani. Semua saya penuhi.

Saya ingat, konfirmasi berkas terakhir yang saya kirimkan ke pihak kampus terjadi pada 20 November 2024. Setelah itu, saya tinggal menunggu informasi lanjutan.

Tentu saja dengan harapan agar kampus bersedia mengurusnya.

Jadinya NUPTK

Tanggal 3 Januari 2025, ada email yang masuk ke akun outlook saya. Email tersebut menginformasikan bahwa NUPTK saya sudah keluar.

Namun, karena saya kelewat mengecek email ini, baru saya cek 10 hari kemudian.

Dan saya kaget sekali, ada update pemberitahuan tentang terbitnya NUPTK saya, dan diminta segera membuat akun di Sister.

Dengan sedikit bingung, saya mengikuti instruksi yang tersedia di sana. Dan akhirnya semua selesai juga. Ini berita yang sangat menggembirakan untuk saya di awal tahun 2025 ini.

Meski dalam hati kecil ada yang masih mengganjal. Yang saya usahakan dan nantikan adalah NIDN. Kenapa yang datang malah NUPTK? Saya kemudian mencari informasi lanjut.

Ternyata, dalam peraturan terbaru disebutkan bahwa NUPTK sudah menggantikan NIDN. Ke depan, semua pendidik dan tenaga kependidikan (guru) dan juga dosen, menggunakan hanya satu identitas yakni NUPTK.

Barulah rasa bahagia, senang, dan syukur saya jadi lebih lengkap karena yang saya nantikan penuh harap itu ternyata datang juga. Ah, tahun 2025 yang penuh berkat.

Terima kasih keluarga, terima kasih teman-teman, dan terima kasih Universitas BINUS, yang sudah bersedia membantu dan memfasilitas hingga NUPTK saya keluar.

Sekali lagi terima kasih, dan mari kita bekerja!

The post Akhirnya, Penantian Itu Berbuah… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/akhirnya-dapat-nuptk-dosen/feed/ 0 490
Makin Terang Jalan Menuju BINUS Bandung (2) https://steveelu.satutenda.com/jadi-dosen-binus-bandung/ https://steveelu.satutenda.com/jadi-dosen-binus-bandung/#comments Thu, 08 Aug 2024 05:49:29 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=440 Penantian akan kabar lanjut soal menjadi Dosen di Universitas Binus Bandung akhirnya terjawab. Jumat, 26 Juli 2024, saya kembali diundang oleh Binus Bandung untuk mengikuti sosialisasi. Kali ini sosialisasi mengenai Surat Keputusan (SK) pengangkatan saya menjadi Dosen Tetap Universitas Binus Bandung. Semula, kegiatan ini mau dilaksanakan offline. Hanya karena posisi saya di Jakarta, akhirnya digelar […]

The post Makin Terang Jalan Menuju BINUS Bandung (2) appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Penantian akan kabar lanjut soal menjadi Dosen di Universitas Binus Bandung akhirnya terjawab. Jumat, 26 Juli 2024, saya kembali diundang oleh Binus Bandung untuk mengikuti sosialisasi.

Kali ini sosialisasi mengenai Surat Keputusan (SK) pengangkatan saya menjadi Dosen Tetap Universitas Binus Bandung. Semula, kegiatan ini mau dilaksanakan offline. Hanya karena posisi saya di Jakarta, akhirnya digelar secara online.

Dalam sosialisasi tersebut, saya mendapatkan penjelasan mengenai Hak dan Kewajiban menjadi Faculty Member (Dosen Tetap) pada Universitas Binus Bandung.

Setelah sosialisasi, saya ditanya sekali lagi apakah betul tertarik untuk bergabung ke Binus Bandung?

Tentu saja saya menjawab dengan penuh semangat bahwa saya dengan senang hati, penuh kesadaran, dan tanpa paksaan-tekanan, mau bergabung menjadi Faculty Member Universitas Binus Bandung.

Kenapa Bandung?

Teman-teman saya bertanya, kenapa saya mimilih Binus Bandung? Bukannya di Jakarta dan Tangerang Selatan juga ada?

Betul sekali. Universitas Binus punya beberapa kampus di beberapa kota. Ada Binus Jakarta, Binus Bumi Serpong Damai (BSD), Binus Bandung, Binus Semarang, dan Binus Malang.

Bahkan, ia juga membuat kampus versi “murah” di Bandung. Namanya Satu University.

Dan saya memilih untuk bergabung ke Binus Bandung, meski saya tinggal di Jakarta, karena peluang saat ini untuk jurusan yang saya tuju tersedia di Bandung.

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bergabung dan membangun karir akademik saya bersama Universitas Binus. Kalau ke depan ada kemungkinan untuk bergeser posisi (kota), bisa saya pertimbangkan lagi.

Yang terpenting bagi saya saat ini adalah bergabung dulu melalui Binus Bandung. Di sana saya ingin banyak belajar menjadi pribadi yang andal dan meningkatkan kapasitas. Sehingga ketika Binus membutuhkan di tempat lain dan itu memungkinkan, saya bisa bergeser.

Dua pekan setelah sosialisasi SK, saya pun makin mendapat kejelasan soal proses saya bergabung ke Binus Bandung. ID Dosen saya keluar, akun akses untuk mengajar mengikuti.

Saat ini saya tinggal menunggu waktu untuk bergabung secara penuh dengan memulai perkualian di Universitas Binus Bandung.

Saya berterima kasih kepada alam semesta yang membukakan ruang, melambungkan doa penuh khusyuk, dan mencarikan jalan menuju harapan baru.

Mari kita bersiap untuk memulai…

BACA: Memulai Petualangan Baru di BINUS Bandung (1)

The post Makin Terang Jalan Menuju BINUS Bandung (2) appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/jadi-dosen-binus-bandung/feed/ 1 440
Saya Ingin Mencatatnya Di Sini… https://steveelu.satutenda.com/saya-ingin-mencatatnya-di-sini/ https://steveelu.satutenda.com/saya-ingin-mencatatnya-di-sini/#respond Tue, 04 Jun 2024 09:14:46 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=425 Saya kira ini tidak penting-peting amat buat kalian. Tapi tak masalah. Izinkan saya menuliskannya di sini sebagai catatan untuk saya. Siapa tahu, suatu ketika di hari depan, saya bisa mengenangnya. Keluarga kecil saya baru saja akad sebuah rumah subsidi di Grand Maja Residence, Blok D5/19. Saya sengaja memilih nomor ini agar sesuai dengan tanggal lahir […]

The post Saya Ingin Mencatatnya Di Sini… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Saya kira ini tidak penting-peting amat buat kalian. Tapi tak masalah. Izinkan saya menuliskannya di sini sebagai catatan untuk saya. Siapa tahu, suatu ketika di hari depan, saya bisa mengenangnya.

Keluarga kecil saya baru saja akad sebuah rumah subsidi di Grand Maja Residence, Blok D5/19. Saya sengaja memilih nomor ini agar sesuai dengan tanggal lahir istri saya.

Waktu Survei awal

Sudah lama kami memendam cita-cita untuk memiliki rumah, dan sekarang impian itu menjadi kenyataan. Kami sudah melewati perjalanan panjang, dengan segala baik-buruknya.

Semoga rumah kecil dan seherhana ini bisa menjadi berkat buat keluarga kecil kami.

Pesan saya buat teman-teman yang mungkin sedang memupuk mimpi seperti saya, jangan pernah menyerah.

Lebih dari lima tahun kami membicarakan soal bagaimana caranya punya rumah. Tampak sulit namun impian itu tetap kami jaga dengan penuh semangat.

Akhirnya, sekarang tercapai. Meski tiga hari setelah akad pada 29 Mei 2022, langsung pusing karena harus menyediakan semua keperluan sebelum ditempati, namun rumah kecil ini tetap membuat kami bangga.

“Semoga rumah ini tetap menjadi tempat terindah untuk telanjang, tanpa rasa takut,” demikian kata teman saya, Roy.

The post Saya Ingin Mencatatnya Di Sini… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/saya-ingin-mencatatnya-di-sini/feed/ 0 425
Ikut Instruktur Nasional Moderasi Beragama https://steveelu.satutenda.com/instruktur-nasional-moderasi-beragama/ https://steveelu.satutenda.com/instruktur-nasional-moderasi-beragama/#respond Sun, 02 Jun 2024 17:38:39 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=420 Awal April, saya juga mendaftar untuk ikut seleksi Instruktur Nasional Moderasi Beragama. Proses seleksinya dimulai dari unggah berkas. Dan salah satu yang dilengkapi dalam submit berkas adalah esai tentang moderasi beragama. Beruntung, akhir 2023 saya mengikuti sosialisasi Moderasi Beragama yang digelar oleh Bimbingan Masyarakat Katolik untuk Wartawan Katolik. Jadi, pengalaman itu memudahkan saya untuk membuat […]

The post Ikut Instruktur Nasional Moderasi Beragama appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Awal April, saya juga mendaftar untuk ikut seleksi Instruktur Nasional Moderasi Beragama. Proses seleksinya dimulai dari unggah berkas. Dan salah satu yang dilengkapi dalam submit berkas adalah esai tentang moderasi beragama.

Beruntung, akhir 2023 saya mengikuti sosialisasi Moderasi Beragama yang digelar oleh Bimbingan Masyarakat Katolik untuk Wartawan Katolik. Jadi, pengalaman itu memudahkan saya untuk membuat esai tersebut.

Syukur bahwa saya lulus seleksi berkas, dan lanjut ke tahap berikut yakni wawancara.

Minggu, 5 Mei 2024, saya pun ikut tahap berikut yakni wawancara. Isi wawancara tidak panjang. Hanya seputar esai yang sudah saya tulis sebelumnya. Lalu, kesediaan untuk mengikuti pelatihan secara full. Dan lagi, bersedia untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Tanggal 7 Mei 2024, keluar pengumuman. Saya dinyatakan lolos untuk mengikuti pelatihan Instruktur Nasional Moderasi Beragama.

Pelatihan sendiri dilaksanakan dua termin. Termin pertama 11-16 Mei di Pusdiklat Kementerian Agama Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu, 16-20 Mei 2024, pindah tempat ke Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat.

Ternyata lumayan padat pelatihan ini. Mulai jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Kadang-kadang bisa molor sampai jam 11an. Istirahat hanya untuk makan dan snack.

Lumayan puyeng juga tiap hari harus ikut pelatihan sembari belajar modul untuk mempersiapkan diri menjalani micro training di hari terakhir, sebagai ujian kelulusan.

Dan benar saja. Hari terakhir di Hotel Mercure Kemayoran, kami dibagi dalam kelompok dan harus mempraktikan cara membawakan materi Moderasi Beragama sesuai dengan modul.

Walau terasa berat, akhirnya pelatihan tersebut bisa saya selesaikan. Sekarang tinggal menunggu hasil, kemudian penugasan ke depan.

Ya… semoga berkah…

The post Ikut Instruktur Nasional Moderasi Beragama appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/instruktur-nasional-moderasi-beragama/feed/ 0 420
Memulai Petualangan Baru di BINUS Bandung (1) https://steveelu.satutenda.com/proses-jadi-dosen-bandung/ https://steveelu.satutenda.com/proses-jadi-dosen-bandung/#comments Sun, 02 Jun 2024 15:51:03 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=417 Suatu hari menjelang kepergian April, saya dapat informasi dari Kakak saya bahwa lagi beredar di grup angkatan mereka, seorang alumni STF Driyarkara yang sedang mencari calon dosen untuk BINUS Bandung. Kakak saya minta agar saya bisa menghubungi Meitty, adik kelas tersebut. Sewaktu di Driyarkara dulu, saya setahun di atas Meitty. Namun, kami saling kenal. Beberapa […]

The post Memulai Petualangan Baru di BINUS Bandung (1) appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Suatu hari menjelang kepergian April, saya dapat informasi dari Kakak saya bahwa lagi beredar di grup angkatan mereka, seorang alumni STF Driyarkara yang sedang mencari calon dosen untuk BINUS Bandung.

Kakak saya minta agar saya bisa menghubungi Meitty, adik kelas tersebut. Sewaktu di Driyarkara dulu, saya setahun di atas Meitty. Namun, kami saling kenal.

Beberapa hari setelah dapat informasi tersebut, saya memutuskan mengirim email ke Meitty, mengkonfirmasi kebenaran pesan berantai di aplikasi pesan-biru itu.

Sehari setelahnya, ia membalas dan minta saya untuk mengirimkan CV. Proses pun dimulai.

Seminggu setelahnya, saya dihubungi untuk memulai proses menjadi dosen BINUS Bandung. Saya diberi topik “Mulitkulturalisme dan Ketahanan Nasional” untuk menyiapkan bahan presentasi untuk Demo Teaching, dilanjutkan dengan wawancara.

Hari itu tiba, Jumat, 3 Mei 2024. Saya menghadapi lima (5) orang untuk mempresentasikan bahan yang sudah saya siapkan. Sekaligus mendengarkan pertanyaan dan wawancara detail.

Serasa seperti sedang ujian tesis, karena ternyata pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup menegangkan, mulai dari konten yang saya presentasikan tentang konsep nasionalisme dan multikulturalisme, hinga hal-hal teknis dalam pengajaran.

Selesai itu, saya menunggu kabar selanjutnya. Ya, pastinya berharap bisa lolos….

Kurang lebih tiga minggu tak ada kabar soal kelanjutan proses masuk BINUS Bandung ini. Saya pun masih bersabar sembari menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Selasa, 28 Mei 2024, ada pesan masuk ke email. Saya diundang lagi untuk mengikuti sosialisasi tentang Dosen Faculty Member (FM) BINUS Bandung dan Jakarta. Kegiatan ini berlangsung Kamis, 30 Mei 2024.

Sembari itu, saya harus mengirimkann berkas-berkas saya (Ijazah dan kawan-kawan), yang ternyata lumayan banyak. Termasuk, berkas terkait istri, anak, dan vaksin covid-19. Repot juga nyari vaksin covid ini. Hehehehe.

Dan, satu hal yang perlu saya catata di sini juga, saya diminta untuk menandatangani surat persetujuan untuk nantinya melanjutkan studi. Waduh, masuk saja belum tapi sudah wajib untuk studi lanjut nih…. pusing pala kite… Hahahahahaha

Ternyata, belum sampai di situ saja. Setelah mengikuti sosialisasi yang lumayan padat hampir 2,5 jam, saya harus menunggu kabar lanjutan.

Dan saat menuliskan catatan ini, saya sedang dalam posisi menunggu….

The post Memulai Petualangan Baru di BINUS Bandung (1) appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/proses-jadi-dosen-bandung/feed/ 2 417
Konsultasi Skripsi Online: Semiotika Roland Barthes https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-semiotika-roland-barthes/ https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-semiotika-roland-barthes/#respond Thu, 18 Jan 2024 15:40:32 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=360 Minggu, 14 Januari 2024 saya “kedatangan” seorang teman untuk mendiskusikan semiotika Roland Barthes. Kali ini adalah seorang mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Wah, jadinya jumpa sesama alumni Mercu nih. Oh ya, saya juga alumni Universitas Mercu Buana (Magister), tapi yang di Meruya, Jakarta. Mulanya, teman ini bertanya lewat kolom komentar di VT @dunia.dosen. Ia bertanya […]

The post Konsultasi Skripsi Online: Semiotika Roland Barthes appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Minggu, 14 Januari 2024 saya “kedatangan” seorang teman untuk mendiskusikan semiotika Roland Barthes. Kali ini adalah seorang mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wah, jadinya jumpa sesama alumni Mercu nih. Oh ya, saya juga alumni Universitas Mercu Buana (Magister), tapi yang di Meruya, Jakarta.

Mulanya, teman ini bertanya lewat kolom komentar di VT @dunia.dosen. Ia bertanya soal bagaimana menempatkan dan menyusun mitos dalam sebuah penelitian dengan pendekatan semiotika Barthes.

Ia juga mengatakan kalau hari Senin nanti ia akan mengikuti ujian, dan dia masih bingung. Ia minta kesediaan saya untuk membantunya.

Padahal, pas weekend itu saya sedang camping bersama teman-teman motor di Padarincang, Banten. Saya tidak bisa menjanjikan apakah bisa membantu atau tidak, karena saya tidak tahu apakah akan tiba di rumah sebelum malam.

Ternyata, semua bisa diatur. Saya tiba di rumah Minggu menjelang magrib. Maka saya kabari, kalau tidak keberatan, malam nanti kami bisa gelar zoom.

Akhirnya, kami baru bisa bimbingan skripsi online sekitar jam 10 malam. Saya sih tidak masalah. Yang penting partner diskusi saya menyanggupi.

BACA JUGA: Konsultasi Skripsi Online: Mitos dalam Roland Barthes

Dari obrolan ini saya lalu paham bahwa ada banyak dosen yang minta mahasiswanya untuk membuat skripsi semiotika, namun mahasiswa tidak dikasih penjelasan detail tentang tokoh semiotika yang mereka rekomendasikan.

Salah satunya adalah semiotika Roland Barthes ini. Padahal, penjelasan tentang semiotika Barthes ini butuh detail agar bisa dipahami dengan baik.

Akhirnya, mahasiswa harus cari “bimbingan” tambahan dari tempat lain. Ya nggak masalah juga kalau akhirnya bisa berjumpa dengan saya. Saya sih siap-siap aja untuk jadi teman diskusi untuk tema semiotika.

Senin, sore saya dapat kabar kalau teman diskusi saya ini sudah lulus. Hasil ujian sesuai dengan yang ia harapkan. Saya ikut bangga.

Saya doakan, semoga di masa depanmu nanti kesuksesan selalu berpihak padamu.

The post Konsultasi Skripsi Online: Semiotika Roland Barthes appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-semiotika-roland-barthes/feed/ 0 360
Narasumber Semiotika untuk Skripsi https://steveelu.satutenda.com/wawancara-narasumber-semiotika/ https://steveelu.satutenda.com/wawancara-narasumber-semiotika/#respond Sun, 03 Dec 2023 10:22:00 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=338 Kalau biasanya saya meladeni diskusi teman-teman mahasiswa seputar penelitian semiotika, kali ini berbeda. Saya diminta menjadi narasumber semiotika. Permintaan ini datang dari seorang penonton konten saya asal Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat. Ceritanya, ia sedang menyelesaikan skripsi tentang semiotika Roland Barthes. Dan, dosen pembimbing mewajibkannya untuk menambahkan wawancara. Ia diminta untuk mencari seseorang sebagai narasumber […]

The post Narasumber Semiotika untuk Skripsi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Kalau biasanya saya meladeni diskusi teman-teman mahasiswa seputar penelitian semiotika, kali ini berbeda. Saya diminta menjadi narasumber semiotika.

Permintaan ini datang dari seorang penonton konten saya asal Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat.

Ceritanya, ia sedang menyelesaikan skripsi tentang semiotika Roland Barthes. Dan, dosen pembimbing mewajibkannya untuk menambahkan wawancara.

Ia diminta untuk mencari seseorang sebagai narasumber semiotika untuk memperkuat penelitiannya. Setelah ia scrolling di media sosial, jumpalah ia dengan konten-konten saya.

Lalu ia menghubungi saya dan meminta kesediaan untuk menjadi narasumber atau ahli semiotika yang memperkuat penelitiannya.

BACA: Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi

Awalnya saya meminta dia untuk mengajukan profil saya ke dosen pembimbing, apakah saya sudah layak ia posisikan sebagai “ahli semiotika”, dan layak untuk diwawancarai.

Ia menjelaskan bahwa ia sudah memperlihatkan konten-konten saya kepada dosen pembimbingnya, dan dosen tersebut setuju untuk ia wawancarai saya.

Jadilah kami melakukan sesi wawancara untuk kepentingan memenuhi kebutuhan datanya dalam kajian semiotika.

Perihal saya menjadi narasumber semiotika ini bukan baru pertama. Sebelumnya, sudah ada seorang mahasiswa dari Universitas “Veteran” Jakarta.

Ia juga menghubungi saya untuk wawancara terkait tema semiotika. Waktu itu saya sedang tidak bisa karena kesibukan, maka saya anjurkan ia untuk menonton konten-konten saya. Bila ada hal yang belum jelas, bisa dikonfirmasi melalui pesan.

Juga pernah ada mahasiswa dari Universitas Pelita Harapan dan Universitas Negeri Semarang. Mereka juga menghubungi saya untuk kepentingan serupa.

Demikianlah saya diminta “bantu” untuk para mahasiswa yang sangat membutuhkan narasumber untuk tema-tema semiotika.

BACA JUGA: Semiotika Tzvetan Todorov

Di kolom komentar konten yang saya bikin di @dunia.dosen, banyak pertanyaan seputar: apakah penelitian semiotika perlu wawancara?

Dan saya selalu menjelaskan bahwa sifat wawancara dalam penelitian semiotika adalah fakultatif. Bisa dibutuhkan, bisa juga tidak.

Yang menentukan perlu wawancara atau tidak adalah si mahasiswa dan dosen pembimbingnya. Bila dirasa perlu wawancara untuk semakin mempertegas pembahasan, maka wawancara itu perlu dilakukan.

Jadi, silakan dipertimbangkan dan konsultasikan sejak awal, apakah penelitian semiotika Anda perlu seseorang untuk Anda wawancarai?

Bila Anda punya pertanyaan atau ingin konsultasikan skripsi Anda, silakan menghubungi saya melalui kontak yang ada di blog saya ini atau via massage di akun TikTok: @dunia.dosen.

The post Narasumber Semiotika untuk Skripsi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/wawancara-narasumber-semiotika/feed/ 0 338
Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/ https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/#respond Thu, 09 Nov 2023 09:57:48 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=318 Belakangan minat terhadap filsafat meningkat. Orang-orang, terutama di kalangan Gen Z, filsafat banyak dirujuk dalam obrolan di tongkrongan. Dan, tak sedikit yang mulai melirik peluang untuk belajar filsafat. Obrolan di warung kopi pun sering nyerempet tokoh-tokoh filsafat. Aroma kopi jadi lebih bernilai kalau ada bau-bau filsafatnya. Di media sosial, apalagi. Konten-konten seputar filsafat menjamur, dengan […]

The post Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Belakangan minat terhadap filsafat meningkat. Orang-orang, terutama di kalangan Gen Z, filsafat banyak dirujuk dalam obrolan di tongkrongan. Dan, tak sedikit yang mulai melirik peluang untuk belajar filsafat. Obrolan di warung kopi pun sering nyerempet tokoh-tokoh filsafat. Aroma kopi jadi lebih bernilai kalau ada bau-bau filsafatnya.

Di media sosial, apalagi. Konten-konten seputar filsafat menjamur, dengan kolom diskusi penuh dengan tanggapan, atau sekadar kiriman jempol. Quotes dan potongan video obrolan filsafat tersebar di berbagai kanal media sosial.

Melihat fenomena filsafat jadi obrolan masyarakat maya tersebut, saya jadi tertarik bikin asumsi. Setidaknya saya berpendapat bahwa ada dua kelompok yang terlibat dalam hiruk-pikuk obrolan filosofis ini. Yang pertama adalah kelompok yang memang memutuskan secara sadar, dalam pikiran dan tindakan, untuk belajar filsafat melalui lembaga pendidikan formal. Sementara yang kedua diisi oleh mereka yang mau belajar filsafat hanya lewat konten-konten yang berseliweran di media sosial.

Buat mereka yang pilih jalur akademis buat menekuni filsafat, saya kategorikan sebagai orang-orang yang memang serius mau mencicip ilmu paling tua di muka bumi ini. Tidak mungkin kan seseorang mau kuliah filsafat karena iseng. Selain ada nominal yang harus ia korbankan, waktu tempuhnya pun panjang. Buat yang ambil S1 ya harus delapan semester atau empat tahun minimal. Dan buat yang ambil S2 filsafat, waktunya mungkin lebih singkat, hanya dua tahun. Tapi jangan lupa, beban belajar filsafat itu berat. Bisa bikin kepala pusing tujuh keliling. Ancaman rambut uban atau kepala botak mengintai di halaman terakhir literatur-literatur filsafat.

Sementara buat mereka yang belajar filsafat hanya karena melihat konten keren di media sosial dan obrolan filsafat yang sedang tren, sebaiknya periksa ulang motivasimu. Menurut saya, kamu harus berpikir lebih matang, apakah betul kamu pengen belajar filsafat? Atau, mungkin juga kamu kepengen belajar filsafat karena di TikTok sedang banyak potongan omongan seputar filsafat? Atau mungkin ada quotes filsafat yang kebetulan nyambung dengan suasana hatimu? Atau karena tokoh idolamu sering muncul di YouTube atau TV dan bicara seputar filsafat?

Apa pun motivasimu, pesan saya coba pikir baik-baik. Karena kalau salah jalur nanti bukan tambah bijaksana tapi malah berisik sana – berisik sini. Ingat, filsafat tidak segenit yang kamu banyangkan. Filsafat bukan alat buat menyerang pribadi tertentu. Filsafat bukan untuk membantumu tampil makin keren, dapat tepuk tangan meriah saat manggung di kampus. Kualitas filsafat tidak ditentukan oleh jumlah viewers dan banyaknya like. Jangan reduksi filsafat untuk alasan humanis rendahan.

Lihat Mereka

Lihat tuh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, Profesor Emeritus STF Driyarkara dan salah satu filsuf paling dihormati di Indonesia. Dia dapat banyak apresiasi karena konsisten dalam mengajarkan dan menerapkan prinsip dan ajaran filsafat. Sejumlah penghargaan tanah air, ia sabet. Misalnya, Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, menganugerahinya penghargaan Philosophy Award sebagai Filsuf Terkemuka Indonesia 2017.

Saat penganugerahan tersebut, Dekan Fakultas Filsafat, Dr. Arqom Kuswanjono mengatakan, “Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan atas dedikasi, kontribusi, dan pengaruh positif Romo Magnis terhadap pengenalan dan perkembangan studi filsafat”.

Katanya lagi, Prof. Magnis-Suseno terima penghargaan ini setelah dilakukan proses verifikasi empiris atas karya-karyanya dalam bidang kefilsafatan Indonesia dan pengaruhnya dalam perkembangan keilmuan filsafat di Indonesia.

Karyanya dalam bentuk buku filsafat pun mudah kita temukan. Misalnya, “Keagamaan Masa Depan – Modernitas – Filsafat: Harkat Kemanusiaan Indonesia Dalam Tantangan” (Kompas, 2021), “Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern” (Gramedia Pustaka Utama, 2016), “Menalar Tuhan” (Kanisius, 2006), “Etika Jawa. Sebuah Analisa Falsafi” (Gramedia, 1984), dan masih banyak lagi.

Atau, coba tengok Prof. Dr. Francisco Budi Hardiman. Ia adalah filsuf sekaligus pengajar di Universtias Pelita Harapan. Ia banyak melahirkan buku-buku filsafat dengan kualitas mumpuni, yang banyak digunakan di fakultas atau jurusan filsafat. Beberapa bukunya yang bisa saya sebut adalah “Aku Klik Maka Aku Ada. Manusia dalam Revolusi Digital” (Kanisius 2021), “Demokrasi Deliberatif” (Kanisius, 2016), “Alam Moncong Oligarki” (Kanisius, 2013), dan masih banyak lagi.

Dan ada juga Dr. Budhy Munawar Rahman, dosen Islamologi dan Filsafat Islam yang mengajar di kelas saya di STF Driyarkara. Sebagai seorang tokoh dan pemikir Islam progresif, ia adalah sosok yang punya nama besar lewat kontribusi dan karya-karyanya. Jabatan akademisnya pun seabrek, yang bisa saya klasifikasikan sebagai salah satu pemikir Islam yang patut diperhitungkan.

Di luar tiga nama yang saya sebut ini, masih banyak filsuf dan tokoh pemikir di Indonesia yang secara akademis sangat mumpuni. Namun, lihatlah. Mereka tidak menjadikan filsafat sebagai alat untuk gaya-gayaan di ruang publik. Mereka tidak sekadar bicara kutip sana-kutip sini biar terlihat keren. Mereka bahkan melahirkan karya-karya terbaiknya dalam ruang-ruang senyap. Mereka mengajarkan kebijaksaan kepada generasi penerus tanpa justifikasi. Mereka berkontribusi mendidik generasi milenial dan Gen Z untuk tetap menjaga tradisi kritis dan kuat dalam berargumentasi, bukan dengan kata-kata profokatif, tapi dengan suara lantang penuh adab.

Filsafat yang sesungguhnya

Saya sepakat. Di satu sisi, filsafat tidak boleh lari dari dunia. Filsafat jangan sampai hanya bertengger di menara gading. Filsafat jangan mengawang-ngawang. Namun, di lain sisi, filsafat juga tidak perlu datang ke pasar lalu mengobrak-abrik pasar supaya jadi pusat perhatian. Filsafat tidak perlu bikin gaduh dengan dalih membangkitkan kesadaran.

Justru filsafat mengajarkan agar mereka yang mempelajarinya tetap berjarak dengan realitas sehingga punya point of view yang lebih luas. Ia harus suka masuk ke ruang-ruang reflektif yang intens. Karena dari ruang-ruang seperti itulah ia akan keluar menjangkau realitas sosial, mengoreksi dengan nalar kritis, dan mengajak peminatnya untuk mengambil keputusan yang solutif-humanis. Filsafat berada di dunia, berjalan-jalan di pasar, namun menjaga ritme bicara agar tidak menimbulkan kegaduhan.

Kalau merujuk pada muasalnya yakni filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan, maka mengutip Boni Hargens, filsafat bukan alat untuk bergenit ria. Filsafat adalah ilmu yang merapikan pikiran dan menjernihkan hati sehingga sanggup melahirkan tindakan dan perkataan yang bijaksana dan menyejukkan. Inilah level filosifis yang mumpuni dan dapat kamu jadikan acuan.

*Pernah dipublikasikan di Geotimes.id, pada 22 Oktober 2023

The post Filsafat Tak Segenit yang Kamu Cita-citakan appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/filsafat-tak-segenit-yang-kamu-bayangkan/feed/ 0 318
Seandainya Saya Wartawan Tempo https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/ https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/#respond Fri, 13 Oct 2023 08:20:55 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=294 Coba deh baca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”. Begitu kata seorang kawan, menganjurkan. Kala itu, tahun 2013, tahun ketiga saya aktif jadi wartawan di sebuah majalah kecil di Jakarta Barat. Namun, karena tak punya cukup uang untuk beli buku itu, juga tak pernah saya jumpai, jadilah saya belum dapat kesempatan untuk membacanya. Baru sekarang, saat […]

The post Seandainya Saya Wartawan Tempo appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Coba deh baca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”. Begitu kata seorang kawan, menganjurkan. Kala itu, tahun 2013, tahun ketiga saya aktif jadi wartawan di sebuah majalah kecil di Jakarta Barat.

Namun, karena tak punya cukup uang untuk beli buku itu, juga tak pernah saya jumpai, jadilah saya belum dapat kesempatan untuk membacanya.

Baru sekarang, saat saya sudah tidak lagi jadi wartawan aktif, saya dipertemukan dengan buku anjuran kawan, sepuluh tahun silam. Buku itu ada di meja seorang dosen senior di kampus. Si senior tak ada saat saya menengok sejumlah tumpukan buku di mejanya. Dan “Seandainya Saya Wartawan Tempo” ada di antara tumpukan buku itu.

Saya mengambilnya. Lalu saya kirim pesan kepada si senior, izin untuk meminjam dan membaca. Sebetulnya sih waktu mengirim pesan, saya sudah di jalan pulang. Jadi kalau pun ia tidak mengizinkan, saya sudah terlanjur mambawanya. Hehehehe.

Seminggu setelah buku itu di tangan, saya tiba di halaman terakhir. Saya mambacanya saat pagi sebelum ke kampus, di kereta dalam perjalanan, atau saat jeda mengajar. Saya niatkan betul untuk menyelesaikan buku ini secepatnya. Itu karena saya menikmati betul buku terbitan tahun 90-an ini.

Ya. Buku ini memang sudah lama beredar. Dan, hampir setiap wartawan tulis yang mulai karir di tahun 90-an, menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib. Referensi buat mereka yang baru mulai mau menapaki jalan panjang menjadi wartawan.

Panduan menulis

Setelah membaca buku ini, apa pendapat saya? Sebagai pembaca aktif majalah Tempo lebih dari delapan tahun, kalimat dan diksi yang ada di buku ini langsung saya kenali. Ya, ini memang ciri khas dan gaya menulis Tempo. Kalimatnya saya kenali betul. Pilihan diksinya tidak asing. Sangat khas.

Perihal isi, buku ini tak banyak bercerita tentang impian seorang yang ingin jadi wartawan Tempo. Atau, bukan juga berisi curhatan seseorang karena gagal gabung jadi awak redaksi Tempo. Isinya lebih kepada panduan menulis. Utamanya menulis berita feature.

Teknik menulis feature dijelaskan panjang lebar. Pun ada contoh yang menyertai. Entah feature gaya biasa atau wartawan pemula maupun feature ala Tempo. Dan itu membuat saya sangat menikmati isi dalam buku ini.

Delapan tahun saya jadi pembaca setia majalah Tempo. Beberapa rubrik punya tempat khusus di hati. Salah satunya adalah rubrik Catatan Pinggir. Rubrik ini diasuh oleh wartawan senior, juga salah satu sastrawan ternama Indonesia, Goenawan Muhammad. Saya menikmati betul tulisan dia.

Selain itu, salah satu tulisan favorit saya di majalah yang pernah dibredel di era Orde Baru ini adalah liputan investigatif. Tiap kali membaca liputan investigatif Tempo, serasa waktu berjalan terlalu cepat dari biasanya. Dan saya lupa akan yang lain. Selain terus bergerak dari halaman satu ke halaman lain.

Saya ingat, suatu hari di kantor, saya membaca liputan investigatif Tempo soal kasus Bank Century. Saya tersadar hari sudah sore ketika saya tiba di halaman terakhir. Artinya, sejak tiba di kantor menjelang sing, saya tidak mengerjakan apa pun selain membaca liputan itu.

Dan kejadian seperti ini berulang kalau saya sudah baca Tempo. Saya jatuh cinta betul dengan tulisan-tulisan di Tempo. Sihir yang sama kembali saya cicipi saat membaca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”.

Di Kelas

Semester Ganjil 2023 ini, di Universitas Bung Karno, kebetulan saya mengasuh dua kelas terkait jurnalistik, yakni Etika Jurnalistik dan Penulisan Karya Jurnalistik. Dua mata kuliah ini diambil oleh para mahasiswa yang pilih konsentrasi Jurnalistik.

Di kelas, saya ajurkan kepada para mahasiswa untuk membaca buku ini. Seandainya Saya Wartawan Tempo. Saya minta mereka untuk membacanya dengan cermat. Siapa tahu mereka pun merasakan sihir yang sama, seperti yang saya alami sepekan terakhir. Mungkin, mereka tidak lagi tertarik membaca majalah Tempo. Tapi, melalui buku ini, saya yakin, daya tarik itu tetap ada dan hidup dalam tiap halamannya.

Kepada mereka juga saya berpesan untuk tidak hanya bercita-cita wartawan yang biasa-biasa saja. Jadilah wartawan yang punya karakter. Jadilan penulis berita yang bermimpi, sepuluh tahun yang akan datang tulisannya akan menyihir pembacanya. Tulisan mereka diminati. Nama mereka disebut, sekaligus dikagumi.

Hari ini, terutama setelah menjamurnya media online, juga muncul Jurnalisme Warga, pekerjaan wartawan sepertinya tak lagi istimewa. Yang dikerjakan para wartawan, bisa juga dikerjakan masyarakat biasa. Yang diliput anak S satu, disiarkan langsung oleh tukang sayur depan gang.

Lantas apa yang akan kamu banggakan? Yang akan membuatmu bangga adalah karakter tulisanmu. Dan pembacamu jatuh cinta kepadanya. Seperti saya, jatuh cinta pada tulisan di majalah Tempo. Seperti saya yang terpukau di hadapan buku ini: Seandainya Saya Wartawan Tempo.

*Pernah dipublikasikan di Thecolumnist.id, pada 8 Oktober 2023.

The post Seandainya Saya Wartawan Tempo appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/seandainya-saya-wartawan-tempo/feed/ 0 294