Komunikasi Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/komunikasi/ Buah-Buah Pikiran Fri, 14 Mar 2025 09:29:07 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.2 https://steveelu.satutenda.com/wp-content/uploads/2023/04/cropped-Favicon-1-32x32.png Komunikasi Archives - Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/category/komunikasi/ 32 32 230899615 Tanda dan Simbol dalam Penelitian Semiotika https://steveelu.satutenda.com/tanda-dan-simbol-dalam-penelitian-semiotika/ https://steveelu.satutenda.com/tanda-dan-simbol-dalam-penelitian-semiotika/#respond Fri, 14 Mar 2025 09:21:26 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=537 Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda. Secara etimologis, kata semiotika berakar pada kata Yunani, semeion, yang berarti tanda. Tanda di sini dapat saya definisikan sebagai sesuatu yang memiliki pengertian tertentu setelah mendapatkan persetujuan sosial dari sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu. Tanda dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menunjuk pada sesuatu yang lain. Ia mewakili […]

The post Tanda dan Simbol dalam Penelitian Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda. Secara etimologis, kata semiotika berakar pada kata Yunani, semeion, yang berarti tanda. Tanda di sini dapat saya definisikan sebagai sesuatu yang memiliki pengertian tertentu setelah mendapatkan persetujuan sosial dari sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.

Tanda dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menunjuk pada sesuatu yang lain. Ia mewakili sesuatu yang lain. Misalnya, asap tanda adanya api. Sirene mobil yang meraung-raung menandakan adanya kebakaran.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita banyak sekali menemukan tanda. Di jalan saat berangkat dan pulang kantor, kita menemukan banyak tanda seperti putar bailik, dilarang berhenti, dilarang parkir, dilarang belok kanan dan lain sebagainya. Semitoka mempelajari tanda-tanda seperti itu.

Marcel Danesi, bahkan memberi pengertian tanda yang lebih luas. Katanya, tanda adalah segala sesuatu – warna, isyarat, kedipan manta, objek, rumus matematika dan lain-lain – yang merepresentasikan sesuatu yang lain, selain dirinya. Ia memberi contoh, kata red merupakan bagian dari tanda karena ia bukan merepresentasikan bunyi r-e-d yang membangunnya, melainkan jenis warna dan hal lainnya (Danesi, 2012:6).

Maka secara terminologis, meminjam pengertian yang dikemukakan Indiwan Seto Wahyu Wibowo, semiotika merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan seluruh kebudayaan sebagai tanda (Wibowo,2013:7). Alex Sobur dalam karyanya, Analisis Teks Media, menjelaskan semiotika sebagai sebuah kajian menitikberatkan objek penelitiannya pada tanda yang pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk atau merujuk pada benda lain.

Bila demikian, semiotika menelaah tanda dalam keseharian, maka tanda seperti apakah yang dapat ditelaah ketika kita atau seseorang hendak membuat penelitian semiotika? Apakah hanya sebuah gambar yang memuat tanda-tanda tertentu? Ataukah teks pun dapat menjadi tanda yang bisa dikaji?

Semiotika mengkaji kedunya, baik tanda dalam bentuk gambar maupun tanda dalam bentuk kata-kata. Bahkan, kata Arthur Asa Berger, di antara semua jenis tanda, yang terpenting adalah kata-kata (Berger, 2010:1). Berger bahkan menguraikan bahwa kemampuan aktor atau aktris dalam menggunakan tanda-tanda tertentu dalam mengkomunikasikan perasaan dari tokoh yang ia perankan pun pun merupakan wilayah kajian semiotika.

Lalu bagaimana dengan simbol? Bila tanda dapat dilihat secara kasat mata, atau setidak-tidaknya dapat ditangkap dengan indra manusia, simbol bersifat abstrak. Ia berada dalam pikiran, pun merupakan kesepakantan bersama dalam sebuah masyarakat. Entah itu disepakati sejak awal, atau karena sudah berlangsung dalam waktu yang lama, maka diterima sebagai simbol akan sesuatu.

Dalam perspektif Saussurean, simbol adalah jenis tanda di mana hubungan antara penanda dan petanda seakan-akan bersifat arbitrer (semena-mena). Salah satu karakteristik dari simbol adalah bahwa simbol tak pernah benar-benar arbitrer.

Misalnya, kita sering melihat gambar seorang perempuan dengan mata tertutup sedang memegang timbangan. Ini adalah simbol keadilan. Simbol keadilan yang berupa timbangan ini tidak dapat digantikan dengan simbol lain, misalnya kendaraan. Simbol ini merupakan simbol konvensional keadilan dalam pandangan dunia Yahudi-Kristen Barat.

Karena itu, ada keterkaitan logis antara timbangan dan konsep keadilan. Namun, perlu diingat bahwa hubungan keduanya tidak bersifat keharusan. Tidak semua timbangan atau gambar timbangan serta-merta dipersepsikan sebagai keadilan. Maka, di sinilah konteks menjadi sangat penting (Berger, 2010:27-28).

Dengan demikian, maka terlihat jelas bahwa tanda dan simbol adalah dua hal yang berbeda. Penelitian semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda punya ruang lingkup yang sangat luas untuk mengkaji tanda-tanda yang dipresentasikan dalam rupa gambar, kata-kata, gestur, maupun ekspresi tertentu.

Karena itu, ketika kita hendak membuat sebuah kajian semiotik, maka banyak unsur yang harus diperhatikan. Tanda-tanda yang ada dalam objek kajian kita jangan sampai terlewatkan. Apalagi kata-kata, jangan lupakan. Ia pun adalah tanda yang bermakna. Dengan begitu, kita dapat menangkap secara untuh makna yang terdapat dalam tanda-tanda untuk menangkap korelasi dan konteks pesan yang mau disampaikan.

Rujukan:

  1. Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Sleman: Penerbit Tiara Wacana.
  2. Danesi, Marcel. 2012. Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
  3. Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2013. Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media.

Naskah ini dipublikaiskan di Thecolumnist.id, 4 Maret 2025.

The post Tanda dan Simbol dalam Penelitian Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/tanda-dan-simbol-dalam-penelitian-semiotika/feed/ 0 537
Trianggulasi dalam Penelitian Skripsi Semiotika https://steveelu.satutenda.com/triangulasi-dalam-skripsi-semiotika/ https://steveelu.satutenda.com/triangulasi-dalam-skripsi-semiotika/#respond Mon, 26 Aug 2024 13:47:29 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=451 Sejak Jumat, 23 Agustus 2024, saya berada di Bandung untuk mengikuti Lecturer Gathering Faculty Member BINUS University Bandung. Sehari setelahnya dilajutkan dengan orientasi khusus untuk dosen baru. Kalau kalian mengikuti catatan-catatan yang saya buat di blog ini, kalian akan tahu bagaimana perjalan saya sampai sekarang; tiba-tiba sudah ikut orientasi dosen baru di Bandung. Untuk lebih […]

The post Trianggulasi dalam Penelitian Skripsi Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Sejak Jumat, 23 Agustus 2024, saya berada di Bandung untuk mengikuti Lecturer Gathering Faculty Member BINUS University Bandung. Sehari setelahnya dilajutkan dengan orientasi khusus untuk dosen baru.

Kalau kalian mengikuti catatan-catatan yang saya buat di blog ini, kalian akan tahu bagaimana perjalan saya sampai sekarang; tiba-tiba sudah ikut orientasi dosen baru di Bandung.

Untuk lebih jelas kalian bisa membaca cuplikan singkatnya di sini:

Makin Terang Jalan Menuju BINUS Bandung (2)
Memulai Petualangan Baru di BINUS Bandung (1)

Tapi bukan itu yang ini saya ulas lebih panjang. Yang pengen saya bagikan adalah pagi ini, Senin, 26 Agustus 2024, sebelum berangkat ke kampus untuk lanjut kegiatan, saya masih melayani wawancara.

Sejak minggu lalu, Rachmat, seorang mahasiswa dari Universitas Bakrie sudah menghubungi saya untuk minta waktu wawancara. Katanya, ia sedang mengerjakan skripsinya, dan butuh seorang triangulator untuk skripsinya.

Jadilah ia menghubungi saya untuk minta wawancara. Ia menulis skripsi tentang representasi pesan dalam lirik lagu menurut Roland Barthes.

Tirangulasi dalam Penelitian Semiotika

Ya, tokoh semiotika yang satu ini memang paling banyak digunakan. Banyak penelitian semiotika yang menggunakan pisau analisa semiotika Roland Barthes.

Tampaknya ia sudah memahami apa yang ia tulis dalam skripsinya sehingga wawancara kami tidak terlalu lama. Ia hanya punya empat pertanyaan yang mau ia ajukan.

Sukses selalu untukmu Rachmat. Persiapkan skripsimu dengan baik dan semoga targetmu untuk selesai September ini, bisa terwujud.

Usai menjawab semua pertanyaannya, saya pun segera bersiap untuk berangkat ke kampus, sekalian check out hotel. Karena nanti sore, setelah acara saya langsung naik kereta balik Jakarta.

The post Trianggulasi dalam Penelitian Skripsi Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/triangulasi-dalam-skripsi-semiotika/feed/ 0 451
Mahasiswi Bimbingan Skripsi Ferdinand de Saussure https://steveelu.satutenda.com/konsultasi-skripsi-semiotika-ferdinand-de-saussure/ https://steveelu.satutenda.com/konsultasi-skripsi-semiotika-ferdinand-de-saussure/#respond Fri, 03 May 2024 04:10:00 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=406 2 Mei 2024, saya berdiskusi dengan seorang mahasiswi dari sebuah kampus swasta di Jawa Barat. Ia minta bantuan untuk mendiskusikan skripsinya. Menurutnya, ia sudah selesai seminar proposal, sekarang tinggal menunggu waktu untuk seminar hasil. Tapi dia sendiri belum yakin apakah yang ia tulis tersebut sudah benar apa belum. Dari kampus sendiri memang menyediakan dosen pembimbing […]

The post Mahasiswi Bimbingan Skripsi Ferdinand de Saussure appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
2 Mei 2024, saya berdiskusi dengan seorang mahasiswi dari sebuah kampus swasta di Jawa Barat. Ia minta bantuan untuk mendiskusikan skripsinya.

Menurutnya, ia sudah selesai seminar proposal, sekarang tinggal menunggu waktu untuk seminar hasil. Tapi dia sendiri belum yakin apakah yang ia tulis tersebut sudah benar apa belum.

Dari kampus sendiri memang menyediakan dosen pembimbing untuknya, selama mengerjakan skripsi. Namun, ia mengaku dosennya hanya “bimbingan ebgitu-begitu saja”. Ia tidak mendapatkan penjelasan detail sehingga ia sendiri tidak yakin penelitian skripsnya benar atau salah.

Ia mengalami kesulitan saat ia harus mengulas film yang ia jadikan objek penelitian dengan teori semiotika Ferdinand de Saussure.

Kesulitan seperti ini sudah banyak dikeluhkan ke saya. Selama saya membuat akun @dunia.dosen, mungkin ini keluhan paling banyak yang saya terima.

Banyak mahasiswa yang mau ujian skripsi, tapi ia sendiri belum paham benar apa yang ia tulis. Akhirnya mereka galau sendiri dan cendering menjadi stress karena skripsi.

Solusinya, ada yang lalu mencari “sumber di luar” untuk menyelesaikan ketidaktahuannya. Seperti mahasiswa yang akhir kontak saya untuk minta bimbingan ini.

Konsultasi Skripsi Ferdinan de Saussure -1

Tapi ada juga yang mungkin diam saja. Dia tidak tahu solusinya seperti apa, dan bagaimana harus mencari jalan keluar untuk kebuntuannya. Akhirnya ya maju sidang dengan kondisi apa adanya.

Saat ditanya di ujian barulah kaget sendiri dan keringat dingin. Seharunya, ketika seseorang mempersiapkan ujian skripsinya dengan baik maka ia tidak akan kesulitan.

Saya sendiri memang menyediakan waktu buat teman-teman yang mau bimbingan skripsi dengan saya. Entah itu via online atau tatap muka langsung. Tinggal mengatur waktunya saja.

Dan sekali lagi saya menyediakan bimingan skripsi ini GRATIS. Saya tidak pernah membinta bayaran untuk jasa bimbingan atau konsultasi tersebut.

Saya pernah menceritakan ke teman saya, dan ia menyayangkan kenapa saya menyediakan gratis. Menurutnya, sekecil apa pun harunsya saya tetap memberi tarif jasa di situ. Itu masukan yang bagus tapi untuk sekarang tidak dulu.

The post Mahasiswi Bimbingan Skripsi Ferdinand de Saussure appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/konsultasi-skripsi-semiotika-ferdinand-de-saussure/feed/ 0 406
Bimbingan Tanpa Kamera. Gimana ya… https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-tanpa-kamera/ https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-tanpa-kamera/#respond Mon, 29 Jan 2024 14:29:30 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=392 Senin, 29 Januari 2024, saya sudah ditunggu seorang mahasiswi dari Universitas Gunadarma Jakarta. Tapi kali ini kami bimbingan tanpa kamera. Jadi, sepanjang hampir dua jam bimbingan itu mahasiswi yang minta bimbingan ini tidak mengaktifkan kameranya. Jadi saya seperti bicara dengan layar kosong. Wkwkwkwkw Beruntung ia bisa share artikelnya sehingga saya bisa konsen membaca tulisannya. Ya, […]

The post Bimbingan Tanpa Kamera. Gimana ya… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Senin, 29 Januari 2024, saya sudah ditunggu seorang mahasiswi dari Universitas Gunadarma Jakarta. Tapi kali ini kami bimbingan tanpa kamera.

Jadi, sepanjang hampir dua jam bimbingan itu mahasiswi yang minta bimbingan ini tidak mengaktifkan kameranya. Jadi saya seperti bicara dengan layar kosong. Wkwkwkwkw

Beruntung ia bisa share artikelnya sehingga saya bisa konsen membaca tulisannya. Ya, sedikit menghibur diri.

Alasan bimbingan tanpa kamera ini sederhana. “Kameranya rusak,” katanya. Oke, anggap saja saya terima alasan tersebut sebagai alasan yang logis. Meski di hati ada yang ganjal.

Maksud saya begini…

Anda kan minta bantuan untuk dibimbing. Pengen tahu lebih dalam apakah tulisan yang sudah Anda buat sudah tepat atau masih ada yang kurang. Anda juga ingin menjadikan saya sebagai teman diskusi.

Ya saling menghargai ajalah. Usahakan kameramu dalam kondisi baik sehingga Anda bisa menampilkan wajahmu. Kan, di situ sekaligus kita bisa saling mengenal.

Sejak semula saya membuka kesempatan untuk bimbingan skripsi online ini, sejak detik pertama saya selalu mengaktifkan kamera. Hemat saya, dengan cara itulah saya menghargai lawan bicara saya.

Itulah cara saya mengapresiasi rekan diskusi saya. Walaupun saya baru kenal, tapi kalau saya sudah bersedia untuk berdiskusi maka saya harus siap untuk menunjukan siapa saja.

Dalam kejadian bimbingan tanpa kamera ini, saya jadi berpikir ulang.

Ataukah orang takut menampilkan wajahnya untuk orang yang baru pertama kali mereka kenal? Takut fotonya diambil diam-diam dan disebarkan?

Kalau dasar pertimbangannya adalah ini, bagaimana dengan media sosialmu? Dengan Anda mengunggah video dan foto di media sosialmu, maka dengan sendirinya Anda setuju kapan pun video dan fotomu akan diambil dan bisa saja disebarkan. Lalu bagaimana dongggg….

Jadi, kalau alasannya adalah ingin menjaga privasi, maka itu nonsense.

Saya memang biasa membuat capture dengan teman diskusi saya jelang akhir pertemuan. Tapi saya selalu meminta izin terlebih dahulu untuk mengambil gambar. Dan hampir semua setuju.

Tapi, mari kita kembali. Anggap saja ini hanya kendala teknis. Saya pun menulisnya di sini bukan dalam rangka menyerang atau tidak menghargai teman diskusi saya kali ini.

Hanya ingin mencatat bimbingan tanpa kamera ini agar jadi pelajaran bagi saya sendiri, dan mungkin juga bagi mereka yang akan melakukan diskusi dengan saya di waktu yang akan datang.

Salam dan sukses selalu…

The post Bimbingan Tanpa Kamera. Gimana ya… appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-tanpa-kamera/feed/ 0 392
Semiotika Tzvetan Todorov https://steveelu.satutenda.com/semiotika-tzvetan-todorov/ https://steveelu.satutenda.com/semiotika-tzvetan-todorov/#comments Fri, 01 Dec 2023 11:59:31 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=327 Sekurang-kurangnya, dalam pembacaan dan pencarian saya, dapat saya katakan bahwa Tzvetan Todorov bukanlah tokoh yang familiar dalam kancah analisis semiotika (komunikasi) Indonesia. Tidak banyak penulis artikel atau pengkaji semiotika (komunikasi) yang menggunakan semiotika Todorov sebagai pisau analisisnya. Di kalangan penggelut semiotika komunikasi, Todorov tak populer, bila dibandingkan dengan Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, dan Charles […]

The post Semiotika Tzvetan Todorov appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Sekurang-kurangnya, dalam pembacaan dan pencarian saya, dapat saya katakan bahwa Tzvetan Todorov bukanlah tokoh yang familiar dalam kancah analisis semiotika (komunikasi) Indonesia. Tidak banyak penulis artikel atau pengkaji semiotika (komunikasi) yang menggunakan semiotika Todorov sebagai pisau analisisnya.

Di kalangan penggelut semiotika komunikasi, Todorov tak populer, bila dibandingkan dengan Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, dan Charles Sanders Peirce. Kalau Anda mencari penelitian semiotika komunikasi dengan pendekatan tiga tokoh ini, maka banyak referensi yang bisa Anda temukan. Sementara kalau mencari semiotika Todorov dalam kajian-kajian ilmu komunikasi, tak banyak yang tersedia.

Saya sendiri pun tak mengenal pemikir semiotika yang satu ini, sebelumnya. Saya tahu namanya ketika seorang mahasiswi dari universitas yang berada di sekitar Tangerang Selatan, menghubungi saya via pesan di akun TikTok yang saya kelola, @dunia.dosen. Lewat pesan itu ia minta dibantu untuk memahami semiotika Todorov. Saya pun bertanya dalam hati, siapa takoh semiotika ini? Sejauh saya ingat, saya belum pernah membaca pendekatan semioikanya, atau paling kurang penelitian komunikasi yang menggunakan semiotika Todorov.

Setelah ngobrol-ngobrol ternyata pendekatan semiotika Todorov lebih lazim digunakan dalam penelitian sastra. Pantas saja, di lingkup komunikasi saya jarang jumpa namanya. Tapi tak masalah. Saya kemudian mencari referensi, yang tentu saja cukup terbatas yang tersedia dalam bahasa Indonesia, untuk mendalami semiotika Todorov. Tulisan yang Anda baca ini adalah hasil pembacaan saya atas semiotika Todorov, yang saya sarikan dari jurnal dan artikel lepas.

Biografi Todorov

Tzvetan Todorov lahir di Sofia, Bulgaria, pada 1 Maret 1939. Ia memiliki darah Bulgaria dan Prancis. Gelar M.A di bidang filologi ia peroleh dari Universitas Sofia pada 1963. Lalu, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Paris untuk menyelesaikan pendidikan doktorat de troisième (setara dengan Ph.D.) pada 1966, dan meraih gelar doktorat ès lettres pada 1970.

Todorov datang dari keluarga terpandang di Bulgaria. Ayahnya, Todor Borov adalah seorang ahli bahasa dan intelektual Bulgaria yang terkenal pada awal abad ke-20. Saudaranya, Ivan Todorov, adalah ahli matematika dan fisikawan teoretis Bulgaria.

Todorov menikah dua kali. Istri pertamanya adalah Martine van Woerkens, seorang cendekiawan. Dari pernikahan ini mereka memiliki seorang anak laki-laki, diberi nama Boris. Setelah pisah dengan istri pertamanya, ia menikah lagi dengan istri keduanya, Nancy Huston, seorang Canadian-Prancis, penulis novel dan esai. Pernikahan keduanya ini dikaruniai dua anak yakni seorang perempuan, diberi nama Lea dan seorang laki-laki, diberi nama Sacha. Todorov meninggal di Paris pada 7 Februari 2017, di usia 77 tahun. Putranya Sacha, menjelaskan kalau ayahnya meninggal karena menderita atrofi sistem ganda atau kelainan otak progresif (Shewel Chan, The New York Times).

Nama Tzvetan Todorov melambung di kalangan para akademisi sastra, setelah ia menelurkan sebuah karya yang sangat populer, Introduction à la littérature fantastique pada 1970. Selain itu, ia juga menghasilkan banyak karya seputar sastra. Disebutkan, ia menulis sedikitnya 39 buku. Ia juga menulis tema filsafat, salah satunya adalah Frail Happiness yang berisi pandangannya tentang pendapat Jean-Jacques Rousseau. Ia menanggapi gagasan Rousseau yang membahas tentang bagaimana manusia mencapai kebahagiaan dan bagaimana manusia dapat hidup di zaman modern.

Semasa hidup, Todorov pernah menjabat sebagai direktur penelitian di French Centre National de la Recherche Scientifique pada 1968. Pada 1970, ia ikut mendirikan jurnal Poétique, di mana ia menjadi salah satu editor hingga 1979. Dengan kritikus sastra strukturalis Gérard Genette, ia menjadi editor untuk Collection Poétique, serangkaian buku tentang teori sastra yang diterbitkan oleh Éditions de Seuil, hingga 1987. Todorov juga jadi profesor tamu di beberapa universitas di AS, seperti Harvard University, Yale University, Columbia University, dan University of California, Berkeley.

Semiotika Todorov

Tzvetan Todorov membangun teori semiotikanya dalam tiga aspek. Yang lain menyebutnya sebagai tiga tingkatan. Namun, di sini saya menyebutnya tiga aspek agar seiring dengan terapan penelitian nantinya. Ketiga aspek tersebut adalah aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal.

Hal ini dapat kita temukan dalam buku Qu’est-ce que le Structuralisme 2. Poetique, yang diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, Absanti D., dan Talha Bachmid dengan judul “Tata Sastra”. Buku kecil ini diterbitkan dalam rangka Indonesian Linguistics Development Project, sebuah proyek kerja sama antara Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia dan Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Asia Tenggara dan Oceania, Universitas Negeri Leiden, Belanda.

Aspek Sintaksis

Merujuk buku karya Okke Kusuma Sumantri Zaimar berjudul Semiotika dalam Analisis Karya Sastra, aspek sintaksis dalam semiotika Todorov disebut juga sebagai aspek sintagmatik atau dalam istilah khas Todorov disebut in praesentia. Aspek ini menjelaskan hubungan antara unsur-unsur yang hadir bersama. Unsur-unsur tersebut hadir dalam teks secara bersamaan atau berdampingan.

Aspek sintaksis ini mengkaji alur cerita atau pengaluran yang umumnya terdiri dari peristiwa-peristiwa yang hadir secara bersama, berdampingan, atau pun berurutan. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dikelompokkan dalam sekuen-sekuen. Sekuen sendiri artinya urutan kejadian atau peristiwa dalam sebuah cerita.

Aspek Semantik

Aspek semantik disebut juga dengan istilah aspek paradigmatik, yang dalam bahasa Todorov disebut in absentia. Yang dikaji dalam aspek ini adalah hubungan antara unsur-unsur yang hadir dan unsur-unsur yang tidak hadir. Unsur-unsur yang tidak hadir tersebut adalah unsur- unsur yang hadir dan hidup di dalam pikiran kolektif pembaca teks. Atau dalam bahasa semiotika umum dikenal juga sebagai makna di balik peristiwa atau makna di balik tanda.

Aspek semantik ini mengkaji tokoh, tema, latar tempat, dan latar waktu. Jadi, jika Anda membuat kajian semiotika karya sastra, misalnya sebuah cerpen, maka aspek semantik ini dapat Anda gunakan untuk menganalisa tokoh, tempat, dan latar tempat dan waktu dari karya sastra yang Anda teliti. Demikian pun ketika Anda hendak meneliti karya-karya sastra yang lain.

Aspek Verbal

Aspek ketiga dalam semiotika Todorov adalah aspek verbal. Aspek ini mengkaji hubungan komunikasi yang terjadi, yakni hubungan komunikasi antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya (Teeuw, 1984: 11-12).

Jadi, pada bagian ini Anda menganalisa komunikasi antartokoh dalam cerita. Umumnya, ada dua unsur yang perlu dikaji dalam aspek ini yakni sudut pandang pencerita dalam menyampaikan cerita dan pengujaran yakni promina (kata ganti) yang digunakan oleh pencerita. Misalnya, promina tunggal atau jamak.

Kemiripan dengan Roland Barthes

Shewel Chan dalam artikelnya yang berjudul “Tzvetan Todorov, Literary Theorist and Historian of Evil, Dies at 77”, diterbitkan di The New York Times pada 7 Februari 2017, menyebutkan bahwa Todorov adalah murid Roland Barthes. Dari penjelasan singkat ini, saya lalu mengasumsikan bahwa semiotika Todorov banyak dipengaruhi oleh semiotika Barthes. Ada sejumlah indikator yang menuntun saya untuk berasumsi demikian.

Pertama, Barthes membagi pendekatan semiotikanya ke dalam dua tataran pemaknaan tanda. Sementara pada Todorov menggunakan istilah tiga aspek atau tiga tingkatan pemaknaan terhadap teks (tanda). Kedua, dalam Barthes pemaknaan tingkat pertama disebut pemaknaan denotasi, merujuk pada semiotika Ferdinand de Saussure, yang juga banyak mempengaruhi Barthes awal. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya, yang tampak. Ini memiliki kemiripan dengan aspek sintaksis atau in praesentia-nya Todorov.

Ketiga, Barthes kemudian melanjutkan pemaknaan tandanya ke tataran kedua, yang ia namai pemaknaan konotasi atau makna di balik tanda. In asbenstia-nya Todorov punya kemiripan dengan konotasinya Barthes ini, di mana sama-sama merujuk pada makna atau unsur yang tidak hadir secara lahiriah dalam tanda.

Keempat, dalam tataran pemaknaan konotasi inilah mitos beroperasi atau dalam istilah Barthes disebut metabahasa. Di sini, tampak ada perbedaan. Pata aspek ketiganya, Todorov menyebutnya aspek verbal, dengan mengkaji sudut pandang dan pengujaran tokoh dalam teks.

Kegunaan Semiotika Todorov

Setelah melihat pemikiran semiotika Todorov ini, pertanyaan lanjutan yang biasa saya temukan, atau yang diajukan melalui akun saya @dunia.dosen adalah semiotika Todorov tersebut bisa digunakan untuk penelitian apa saya?

Seperti yang sudah saya utarakan di awal bahwa semiotika Todorov umumnya (di Indonesia) digunakan dalam penelitian-penelitian semiotika sastra, seperti cerpen, novel, prosa, dan lain-lain. Meski demikian, penelitian film juga bisa menggunakan semiotika Todorov ini, dengan alur analisa seperti yang sudah saya uraikan tadi.

Menutup tulisan singkat ini, saya ingin mengutip pernyataan Tzvetan Todorov saat ia dianugerahi Asturias Award untuk Ilmu Sosial pada 2018. Pernyataan tersebut ia sampaikan di Plasencia, Spanyol, 18 Juni 2008 (Fundacion Princesa de Asturias).

“Saya dengan tulus merasa terhormat atas pengakuan ini. Suatu kebetulan yang luar biasa juga, saya dianugerahi penghargaan ini tepat ketika saya berada di Spanyol. Saya merasa tersentuh untuk diakui dengan penghargaan Eropa dari Rumah Tangga Kerajaan Spanyol ini. Sebab, ketika saya di sini, di Spanyol, saya dianggap orang Prancis. Dan ketika saya di Prancis saya dianggap orang Bulgaria. Bagi seseorang seperti saya, yang mencintai Eropa, penghargaan ini membuat saya merasa sangat tersentuh secara mendalam”.

Referensi

  1. Chan, Shewel, “Tzvetan Todorov, Literary Theorist and Historian of Evil, Dies at 77”, The New York Times. https://www.nytimes.com/2017/02/07/world/europe/tzvetan-todorov-dead.html. Diakses pada 1 Desember 2023, pukul 01.20 WIB.
  2. Fundacion Princesa de Asturias. Tzvetan Todorof Prince of Asturias Award for Social Sciences 2008.https://www.fpa.es/en/princess-of-asturias-awards/laureates/2008-tzvetan-todorov.html?texto=declaracion&especifica=0. Diakses pada 1 Desember 2023, pukul 1724 WIB.
  3. Teeuw, A..1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
  4. Todorov, T. (1985). Tata Sastra (Okke K.S. Zaimar, Absanti D., dan Talha Bachmid, Penerjemah). Jakarta: Djambatan. (Karya asli diterbitkan pada 1968).
  5. Zaimar, Okke Kusuma S. 2014. Semiotika dalam Analisis Karya Sastra. Jakarta: Komodo Books.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno. Alumnus Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

The post Semiotika Tzvetan Todorov appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/semiotika-tzvetan-todorov/feed/ 2 327
Memahami Mitos dan Ideologi dalam Semiotika Roland Barthes https://steveelu.satutenda.com/mitos-dan-ideologi-roland-barthes/ https://steveelu.satutenda.com/mitos-dan-ideologi-roland-barthes/#comments Wed, 25 Oct 2023 10:47:24 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=310 Dalam semiotika Roland Barthes, mitos dan ideologi mendapat perhatian cukup penting. Orang lalu bertanya, apa yang dimaksud dengan mitos dan ideologi dalam semiotika Barthes? Apakah keduanya memiliki makna yang sama? Di mana posisi mereka? Dalam tulisan ini kita akan mengulas secara detail bagaimana memahami mitos dan ideologi dalam semiotika Roland Barthes. Di akhir artikel, saya […]

The post Memahami Mitos dan Ideologi dalam Semiotika Roland Barthes appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Dalam semiotika Roland Barthes, mitos dan ideologi mendapat perhatian cukup penting. Orang lalu bertanya, apa yang dimaksud dengan mitos dan ideologi dalam semiotika Barthes? Apakah keduanya memiliki makna yang sama? Di mana posisi mereka? Dalam tulisan ini kita akan mengulas secara detail bagaimana memahami mitos dan ideologi dalam semiotika Roland Barthes. Di akhir artikel, saya akan mengemukakan sebuah contoh singkat analisis mitologi dan ideologi ala semiotika Barthes untuk mempermudah pemahaman.

Perlu diingat bahwa Roland Barthes mengembangkan pemikiran semiotikanya dengan merujuk pada semiotika Ferdinand de Saussure. Dua orang ini adalah tokoh penting yang mengembangkan kajian semiotika di daratan Eropa. Saussure sendiri adalah seorang ahli linguistik dari Swiss, sementara Barthes adalah seorang filsuf dan kritikus sastra asal Prancis. Keduanya menganut paham strukturalme.

Dalam bidang semiotika, banyak sumber menyebutkan Barthes adalah tokoh semiotika yang sangat penting setelah Saussure. Salah satu sumbangan penting Barthes adalah pemaknaan tataran kedua dalam analisa tanda (sign). Ini ia kembangkan dari pemikiran Saussure. Kalau Saussure melihat makna teks atau tanda sebatas makna denotasi, maka Barthes membawa pemaknaan tanda itu ke level yang lebih tinggi. Ia menyebutnya makna konotasi. Karena Barthes yakin bahwa setiap tanda tidak hadir dengan makna tunggal.

Mitos dan Ideologi

Merujuk peta tanda Roland Barthes di atas, tampak tanda denotatif terdiri dari penanda dan petanda. Dan pada tingkat lebih lanjut, tanda denotatif tersebut adalah penanda konotatif, di mana hubungan penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi, dan melahirkan makna konotasi.

Pada peta tanda tersebut, Barthes menempatkan mitos pada level makna konotatif. Budiman (2001:28) menjelaskan bahwa Barthes mengidentikan konotasi dengan operasi ideologi, yang disebutnya mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi yakni penanda, petanda, dan tanda. Namun, sebagai suatu sistem yang unik mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya. Dengan kata lain, mitos adalah sebuah sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2003:71). Mitos bermain dalam tingkat bahasa yang oleh Barthes disebutnya ‘adibahasa’ (meta-language).

BACA: Semiotika John Fiske

Barthes menyatakan bahwa mitos juga merupakan sistem komunikasi karena mitos merupakan sebuah pesan. Ia menyatakan mitos sebagai “modus pertandaan, sebuah bentuk, sebuah “tipe wicara” yang dibawa melalui wacana. Mitos tidak dapat digambarkan melalui objek pesannya, melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan (Piliang, 2003:256).

Bila merujuk pada mitos ala Barthes tersebut, maka ideologi seringkali bersembunyi di balik mitos. Pendapat ini didasarkan pada keyakinan bahwa mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator.

Ketidaksadaran ini merupakan kerja ideologi yang memainkan peran dalam tiap representasi. Mungkin ini bernada paradoks, karena sebuah proses tekstualisasi tentu dilakukan secara sadar, bersamaan dengan ketidaksadaran tentang adanya sebuah dunia lain yang sifatnya lebih imaginer. Mitos itu bermacam-macam (dalam jumlah yang sangat banyak) dan berkembang dalam masyarakat. Usia mitos tidak panjang; sebuah mitos bisa berlalu dengan cepat karena digantikan oleh mitos-mitos lainnya.

Anang Hermawan dalam artikelnya “Mitos dan Bahasa Media: Mengenal Semiotika Roland Barthes” menjelaskan, sebagaimana halnya mitos, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak mitos, ada banyak ideologi.

Mekanisme kerja mitos dalam suatu ideologi adalah apa yang disebut Barthes sebagai naturalisasi sejarah. Suatu mitos akan menampilkan gambaran dunia yang seolah terberi begitu saja alias alamiah. Nilai ideologis dari mitos muncul ketika mitos tersebut menyediakan fungsinya untuk mengungkap dan membenarkan nilai-nilai dominan yang ada dalam masyarakat.

Cara Kerja Mitos dan Ideologi

Cara kerja mitos dan ideologi sebagaimana dimaksudkan oleh Barthes ini dengan mudah dapat kita temukan dalam masyarakat kita. Ia bisa hadir dalam bentuk teks tertulis di media-media online, atau dalam bentuk audio-visual melalui televisi atau konten media sosial, atau juga melalui gambar-gambar yang bertebaran di internet. Hampir setiap hari kita mengkonsumsi mitos dan ideologi tanpa kita sadari.

Saya ingin mengemukakan sebuah contoh untuk mempermudah pemahaman mengenai operasi mitos dan ideologi tersebut. Misalnya, televisi memberitakan sebuah peristiwa kekerasan di Tangerang. Si pembaca berita mengatakan, seorang pria diduga melakukan tindak kekerasan kepada beberapa orang di Tangerang. Pria berkulit gelap itu memukul tiga pria lain sehingga menyebabkan ketiga pria itu cedera parah.” Dari kalimat ini kita bisa menemukan operasi mitos dan ideologi. Mitos kita temukan dalam frasa “berkulit gelap”.

Dalam konteks ini, secara tidak langsung teks tersebut menampilkan mitos kepada pemirsa bahwa kekerasan banyak dilakukan oleh orang (pria) berkulit gelap. Dengan demikian, makna mitos yang timbul adalah kekerasan atau kejahatan diidentikkan dengan orang-orang berwarna kulit gelap.

Ideologi yang muncul di sini adalah ideologi ras. Jadi, ras dari orang-orang berkulit hitam dipandang sebagai pelaku kejahatan atau identik dengan tindak kekerasan. Bayangkan bahwa bila teks seperti ini seringkali tampil kepada pembaca atau didengar oleh pemirsa, maka ideologi itu akan tertanam dalam benak masyarakat kita. Ideologi bisa tumbuh dan berkembang dalam konteks yang lain, misalkan gender, feminisme, patriarki, individualisme, kapitalisme, dan lain sebagainya.

Daftar Rujukan

  1. Anang Hermawan. 2008. “Mitos dan Bahasa Media: Mengenal Semiotika Roland Barthes”, dalam https://www.averroes.or.id/mitos-dan-bahasa-media-mengenal-semiotika-roland-barthes.html, diakses pada 21 April 2023, pukul 20.00 WIB.
  2. Budiman, Manneke. 2001. “Semiotika dalam Tafsir Sastra: Antara Riffaterre dan Barthes” dalam Bahan Pelatihan Semiotika. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya LP-UI.
  3. Piliang, Yasraf Amir.2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.
  4. Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno. Alumnus Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

The post Memahami Mitos dan Ideologi dalam Semiotika Roland Barthes appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/mitos-dan-ideologi-roland-barthes/feed/ 1 310
Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/ https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/#comments Fri, 12 May 2023 05:07:03 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=260 Strukturalisme merupakan sebuah teori umum dalam berbagai kajian disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, filsafat, dan linguistik. Strukturalisme mengkaji budaya dan metodologi yang menekankan bahwa unsur-unsur budaya manusia harus dipahami dalam hubungannya dengan sistem yang lebih luas. Strukturalime bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal dalam masyarakat. Secara etimologis struktur berasal dari kata […]

The post Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Strukturalisme merupakan sebuah teori umum dalam berbagai kajian disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, filsafat, dan linguistik.

Strukturalisme mengkaji budaya dan metodologi yang menekankan bahwa unsur-unsur budaya manusia harus dipahami dalam hubungannya dengan sistem yang lebih luas. Strukturalime bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal dalam masyarakat.

Secara etimologis struktur berasal dari kata bahasa Latin yakni structura, artinya bentuk atau bangunan. Struktur sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lain.

Struktur menjadi aspek utama dalam strukturalisme. Strukturalisme juga beranggapan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia.

Kalau kita lihat latar belakang perkembangannya, strukturalisme mengalami evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis. Dan tercatat, strukturalisme hadir dengan menentang teori mimetic yang berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan, teori ekspresif yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang, dan teori-teori yang menganggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.

Di daratan Eropa, strukturalisme berkembang pada awal 1900-an. Francois Dosse dalam bukunya Histoire du Structuralisme menggambarkan strukturalisme pada tahun 1966 sebagai tahun memancarnya strukturalisme di Eropa, khususnya di Prancis.

Sementara strukuralisme tahun 1967-1978 digambarkan sebagai masa penyebaran gagasan strukturalisme dan penerangan tentang konsep strukturalisme serta perannya dalam ilmu pengetahuan.

Dua tokoh strukturalisme

Pembahasan kita kali ini tentu bukanlah tentang strukturalisme secara umum, atau setidak-tidaknya strukturalisme masyarakat ala Marxisme.

Meski tak dapat dipungkiri bahwa pola berpikir Marxisme tentang struktur sosial masyarakat tetap menjadi frame berpikir atau setidaknya menjadi cantelan ketika kita membahas struktur sosial masyarakat dalam tatanan ilmu komunikasi.

Kita juga tidak membahas secara detail perihal strukturalisme sebagai sebuah teori dalam ilmu sosial. Pembahasan kita fokus pada pandangan strukturalisme dalam ilmu komunikasi.

Untuk membantu kita dalam memahami strukturalisme dalam ilmu komunikasi, saya mengajak kita untuk mengarahkan pandangan pada dua sosok berikut: Ferdinand de Saussure dan Pierre Bourdieu.

Mengapa dua tokoh ini saja, sementara tokoh strukturalisme dalam komunikasi cukup banyak? Saya berpendapat, sebagai langkah awal mengenal strukturalisme, baik kalau menjadikan dua tokoh ini sebagai referensi.

Ferdinand de Saussure sebagai “Bapak Strukturalisme dan Linguistik”, sementara Pierre Bourdieu adalah tokoh komunikasi yang mengkaji dan mengelaborasi struktur dalam tatanan masyarakat universal. Pandangan kedua orang ini penting untuk dipelajari dengan lebih cermat.

Sementara tokoh strukturalime lain, semisal Roland Barthes yang semula mengikuti pandangan Saussure namun pada akhirnya menentang Saussure, saya lebih gemar membahas pemikirannya dalam tema semiotika.

Lalu Claude Levi-Strauss, dalam hemat saya lebih banyak mengelaborasi strukturalisme dari sudut pandang antropologi, sampai ia dijuluki “Bapak Antropologi Modern”. Tokoh-tokoh lain bisa kita pelajari pemikirannya di lain kesempatan.

Ferdinand de Saussure

Ferdinan de Saussure lahir di Jenewa, Swiss, pada 26 November 1857. Keluarganya merupakan keluarga terpandang di Jenewa, sebab kontribusi mereka dalam ilmu pengetahuan sangat besar.

Semula, Saussure menempuh kuliah fisika dan kimia di Universitas Jenewa. Tapi dia hanya bertahan di sana kurang dari satu tahun. Pada 1875, ia pindah ke Universitas Leipzig untuk belajar bahasa.

Lalu, pada usia 21 tahun ia mulai belajar bahasa Sansekerta selama 18 bulan, dan pada saat itulah ia menerbitkan memoirnya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le systeme primitif des voylles dans les langues indo-europeennes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa) (Sobur, 2003:45).

Sekitar tahun 1960, nama Saussure sangat jarang terdengar. Di lingkungan akademik, tidak banyak orang yang mendengar namanya. Tapi sesudah tahun 1968, detak intelektual Eropa dipacu oleh buah pemikiran Saussure melalui karya-karyanya yang mulai beredar dan dibaca luas.

Karyanya, Course in General Lunguistics, kian melambungkan nama Saussure hingga ke luar lingkungan linguistik. Maka tidak heran kemudian Saussure dinobatkan sebagai Bapak Strukturalisme dan Linguistik (Sobur, 2003:45).

Mengapa ia dijuluki demikian? Saussure diyakini sebagai orang pertama yang merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat digunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural.

Saussure berpendapat, linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom.

Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya.

Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistem-sistem ini. Jadi, kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh Saussure sebagai semiologi.

Alex Sobur (2003: 46) menulis, ada lima padangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yakni:

a. Siginifier dan signified

Pandangan Saussure menegaskan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda. Dan setiap tanda tersusun dari dua bagian yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). Penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Sementara petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Kata Saussure penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas.

Contoh, kalau kita mendengar kata “rumah” atau melihat tulisan “rumah”, maka dalam bayangan kita langsung muncul konsep tentang “rumah”.

b. Form dan content

Untuk menjelaskan form (bentuk) dan content (meteri, isi) Saussure menunjuk permainan catur. Dalam permainan catur, papan dan bidak catur tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah fungsinya yang dibatasi dan aturan permainannya. Jadi bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya.

Contoh lain untuk semakin memahami hal ini. Misalnya, kita menumpang KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Cikini. KRL tersedia pada pukul 09.30, 09.42, dan 09.52. Hari Senin kita naik KRL Manggarai – Cikini, pukul 09.30. Selasa kita naik KRL pada jam yang sama, dan kita mengatakan “kita naik KRL yang sama”.

Namun faktanya, nomor keretanya berbeda, masinisnya berbeda, gerbong berbeda, dll. Maka, yang tetap di sini adalah “wadah” KRL tersebut, sementara isinya berbeda-beda.

c. Langue dan parole

Langue adalah sistem bahasa. Sementara parole adalah kegiatan ujaran. Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya dan diterima oleh kalangan masyarakat tertentu. Sementara parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu atau praktik berbahasa setiap individu.

d. Synchronic dan Diachronic

Dua kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni khronos (waktu), dan dua awalan yakni syn artinya bersama dan dia artinya melalui.

Jadi, Synchronic artinya bersama waktu dan diachronic artinya melalui waktu. Yang dimaksud dengan sinkronik sebuah bahasa adalah deskripsi tentang keadaan tertentu bahasa tersebut (pada suatu massa).

Sinkronik mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Perhatian ditujukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara. Misalnya, menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965.

Sementara diakronik adalah menelusuri waktu. Jadi studi diakronik atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan sejarah (melalui waktu). Misalnya, studi diakronik Bahasa Indonesia dari tahun 1965 – 2023. Apa saja perkembangannya, apa perubahannya, dll.

e. Syntagmatic dan Associative

Sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah konsep bahasa yang tersusun secara rapi dan punya makna tertentu. Sementara asosiatif atau paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah bahasa atau konsep di mana belum muncul kalau kita belum melihat keseluruhannya.

Misalnya, secara sintagamtik kata “K-A-T-A” ini sudah tersusun rapi dan punya makna tertentu. Ketika sebuah huruf hilang atau pindah tempat maka ia tidak bermakna lagi. Sementara untuk memahami asosiatif atau paradigmatik, kita bisa menggunakan beberapa kata yang bunyinya hampir sama, seperti RATA – KATA – BATA.

Secara fonemik, kata-kata ini punya hubungan paradigmatik karena huruf terakhir pada setiap kata sama. Memang, huruf awal berbeda tapi ketiganya memiliki kemiripan bunyi.

Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu lahir di Denguin, Prancis, pada 1 Agustus 1930. Dia merupakan salah satu filsuf, sosiolog, dan antropolog penting di paruh abad ke-20; yang berpengaruh besar dalam ilmu sosial seperti kajian filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, ilmu politik, ekonomi politik, teori pendidikan, feminisme, teori sastra, kritik seni, dan teori komunikasi.

Bourdieu mengambil kuliah jurusan filsafat di Ecole Normale Supérieure, yaitu sebuah universitas prestisus bagi calon intelektual di Prancis. Setelah menamatkan kuliahnya, dia bekerja sebagai pengajar di Lycée de Moulins, kemudian menjadi asisten Raymond Aron, sambil mengajar secara paralel di Universitas Lille dan Universitas Paris. Ia meninggal karena kanker paru-paru pada 23 Januari 2002 di Paris.

Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme, dan eksistensialisme, di bawah pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser.

Pada tahun 1960an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori objektivis dan teori subjektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul Outline of A Theory of Practice di mana di dalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.

Dalam karyanya ini ia menyerang kaum strukturalis yang menciptakan objektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial.

Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbagai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.

Ada tiga konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus, Field dan Modal. Mari kita elaborasi satu per satu.

a. Habitus

Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial.

Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan lalu diwujudkan”.

Habitus mencerminkan pembagian objektif dalam struktur kelas seperti umur, jenis kelamin, kelompok dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki.

Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial; tidak setiap orang sama kebiasaannya; orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial, cenderung mempunyai kebiasaan yang sama.

b. Field

Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu.

Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field-lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri.

Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain.

Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, di mana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status.

c. Modal

Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan penting, karena modal-lah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada empat modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial.

Pertama, modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubungan-hubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Keempat, adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu pengetahuan objektif tentang seni dan budaya, cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi, kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelar-gelar universitas), kemampuan-kemampuan budaya dan pengetahuan praktis.

Simpulan

Saussure dan Bourdieu telah memperlihatkan kontribusi mereka dalam strukturalisme. Saussure secara jelas melihat linguistik atau bahasa terdiri dari struktur-struktur yang perlu dikaji.

Struktur-struktur tersebut bisa jadi terbentuk dari kebiasaan, budaya, status sosial, dan lain sebagainya. Lima pandangan Saussure itu secara jelas memperlihatkan bagaimana bahasa terbentuk dari struktur-stuktur yang membawa kesan dan pesan tertentu dalam relasi sosial manusia.

Sementara dari Bourdieu kita melihat bahwa fokus Bourdieu adalah lingkungan masyarakat di mana lingkungan itu turut mempengaruhi komunikasi orang-orang yang berada di lingkungan itu.

Bagi Bourdieu pada akhirnya komunikasi itu memperlihatkan struktur kehidupan sosial, tempat di mana seseorang tumbuh dan berkembang, dan kesanggupan seseorang menguasai modal sehingga bisa menguasai komunikasi.

Rujukan

  1. Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Pustakan Gramedia
  2. Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005. (Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra.
  3. Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Depok: Prenada Media Grup.
  4. Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno; Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Artikel ini dibuat sebagai pegangan dan panduan belajar untuk mahasiswa.

The post Paham Strukturalisme dalam Ilmu Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/paham-strukturalisme-dalam-ilmu-komunikasi/feed/ 1 260
Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/ https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/#respond Sun, 07 May 2023 18:11:12 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=255 Filsafat dipahami sebagai jalan mencari kebenaran. Sebuah ilmu yang menuntun kita untuk mencintai kebijaksanaan. Kebenaran yang menjadi kajian utama filsafat adalah “kebenaran akal”. Uraian dalam artikel ini akan membahas mengenai tiga aspek fundamental dalam ilmu komunikasi yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Harapannya, kajian ketiga aspek ini dapat mengantar kita untuk semakin memahami hakikat filsafat komunikasi. […]

The post Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Filsafat dipahami sebagai jalan mencari kebenaran. Sebuah ilmu yang menuntun kita untuk mencintai kebijaksanaan. Kebenaran yang menjadi kajian utama filsafat adalah “kebenaran akal”.

Uraian dalam artikel ini akan membahas mengenai tiga aspek fundamental dalam ilmu komunikasi yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Harapannya, kajian ketiga aspek ini dapat mengantar kita untuk semakin memahami hakikat filsafat komunikasi.

Pada intinya, filsafat komunikasi merefleksikan aktivitas komunikasi manusia yang melibatkan komunikator, komunikasi, isi pesan, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decoding dan encoding.

Muhamad Mufid (2009:83) menulis, dari komunikasi yang begitu kompleks dan tidak sederhana tersebut, refleksi komunikasi diperlukan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan komprehensif. Dan refleksi proses komunikasi tersebut merupakan bagian penting dalam disiplin filsafat komunikasi.

Ketika aspek fundamental komunikasi dalam pembahasan ini membantu kita untuk kian memahami apa itu filsafat komunikasi dan nilai gunanya bagi manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan komunikasi dalam membangun dan menata relasi sosialnya.

Pembahasan mengenai ontologi, epistemologi, dan aksiologi ini merujuk pada dua pemikir komunikasi yakni Richard L. Lanigan dan Stephen W. Littlejohn.

Kita akan melihat bagaimana mereka menguraikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pembahasan akan setiap tokoh akan dimulai dari penjelasan singkat siapa tokoh tersebut dan bagaimana kontribusinya bagi perkembangan ilmu komunikasi.

Richard L. Lanigan

Richard Leo Lanigan lahir di Santa Fe, New Mexico, AS, pada 31 Desember 1943. Bisa dikatakan, pendidikan intelektual Lanigan secara keseluruhan selalu bersinggungan dengan filsafat dan komunikasi.

Ia meraih gelar Bachelor of Arts (B.A) pada Communicology and Philosophy dari University of New Mexico, Amerika Serikat, pada 1967. Hanya setahun berselang, ia meraih gelar Master of Arts (M.A) pada Communicology dengan peminatan filsafat dari University of New Mexico, Amerika Serikat, 1968.

Tak berhenti di situ, tahun 1969, ia memperoleh gelar Doktor bidang Filsafat (Ph.D) Jurusan Communicology, School of Communication, Southern Illinois University, Amerika Serikat. Gelar ini ia raih di usianya yang sangat muda, yakni 25 tahun.

Sementara Postdoctoral-nya, di bidang filsafat dari University of Dundee, Skotlandia (1970-1972) dan juga tentang filsafat dari University of California, Amerika Serikat (1982). Dan gelar profesornya ia peroleh pada umur 35 tahun.

Dengan demikian, jenjang akademik dan pencapaian Lanigan di bidang filsafat dan komunikasi sangat lengkap.

Kontribusi signifikan Lanigan pada perkembangan ilmu komunikasi dapat kita temukan dalam bukunya, “Communication Models in Philosopy Review and Commentary”.

Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

a. What do I know? (Apa yang aku ketahui?)
b. How do I know it? (Bagaimana aku mengetahuinya?)
c. Am I sure? (Apakah aku yakin?)
d. Am I Right? (Apakah aku benar?)

Selain itu, ia juga menulis buku yang membahas tentang fenomena komunikasi. Beberapa buku yang telah ia publikasikan antara lain: The Human Science of Communicology (1992), Phenomenology of Communication (1988), Semiotic Phenomenology of Rhetoric (1984), Speech Act Phenomenology (1977), dan Speaking and Semiology (1972).

Sekarang, mari kita lihat penjelasan Richard L. Lanigan tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang sebagian besar saya sarikan dari buku Etika dan Filsafat Komunikasi karya Muhammad Mufid (2009).

  1. Metafisika (ontologi)

Lanigan menjelaskan bahwa aspek ontologi sama dengan metafisika yang berakar pada pertanyaan ‘apa yang aku ketahui?’. Menurutnya, metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas.

Dalam metafisika, kata Lanigan, kita merefleksikan hubungan manusia dengan alam, sifat dan fakta kehidupan manusia, problem pilihan manusia, dan soal kebebasan pilihan tindakan manusia.

Berkaitan dengan teori komunikasi, metafisika bertalian dengan hal-hal seperti sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam semesta, sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan, dan problem pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia.

  1. Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih mendasar lagi berkaitan dengan kriteria penilaian atas kebenaran.

Dalam epistemologi terdapat beberapa teori kebenaran berdasarkan koherensi, korespondensi, pragmatisme, dan legalisme.

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah.

Metode ilmiah pada dasarnya dilandasi oleh kerangka pemikiran yang logis, penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran, dan verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

Lanigan mengatakan, dalam prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran.

  1. Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filasafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika, estetika, dan agama. Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan. Bagi Lanigan, aksiologi merupakan studi tenang etika dan estetika.

Hal ini mengartikan bahwa aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya.

Masalah ini sangat penting bagi komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai lambang. Jadi perlu bagi komunikator mempertimbangkan nilai (value judgement) dari pesan yang akan disampaikan apakah etis atau tidak.

  1. Logika

Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar. Karena itulah dalam komunikasi, logika amatlah penting karena pemikiran yang akan dikomunikasikan kepada orang lain haruslah merupakan keputusan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis.

Secara ringkas (Mufid, 2009:89), ontologi berkaitan dengan asumsi-asumsi mengenai objek atau realitas yang diteliti. Sementara epistemologi dapat dipahami sebagai proses untuk mendapatkan ilmu. Ini terkait cara, teknik, dan sarana apa yang membantu dalam memperoleh ilmu.

Dan, aksiologi berkaitan dengan posisi value judgment, etika, dan pilihan moral peneliti dalam sebuah penelitian. Ini terkait kegunaan dan manfaat ilmu dalam kehidupan masyarakat.

Stephen W. Littlejohn

Bagi mahasiswa komunikasi Stephen W. Littlejohn bukan sosok baru. Namanya menjadi refren wajib tiap kita membicarakan pengertian komunikasi dan teori-teori komunikasi. Kontribusinya terhadap ilmu komunikasi amat besar, dengan berbagai buku yang sudah ia tulis dan publikasikan.

Salah satu buku yang umum kita kenal dan gunakan adalah buku Teori Komunikasi yang ia tulis bersama Karen A. Foss.

Littlejohn adalah seorang konsultan managemen, mediator, fasilitator, dan trainer. Dia adalah seorang konsultan pada Public Dialogue Consortium dan partner pada Domenici Littlejohn, Inc.

Ia adalah seorang professor komunikasi di Humboldt State University di California, Amerika Serikat, dan Adjunct Professor (sebuah gelar kehormatan) Komunikasi dan Jurnalisme pada the University of New Mexico (us.sagepub.com, diakses 11 April 2023, pukul 20.00 WIB).

Terkait ontologi, epistemologi, dan aksiologi, Littlejohn punya penjelasan sebagai berikut.

  1. Ontologi

Menurutnya, ontologi adalah cabang filsafat yang berhubungan dengan alam, lebih sempitnya alam benda-benda di mana kita berupaya untuk mengetahuinya.

Pada hakitanya, ontologi berkaitan dengan usumsi kita terhadap objek atau realitas sosial yang diteliti.

  1. Epistemologi

Littlejohn menjelaskan bahwa epistemologi berkaitan dengan pengetahuan, atau bagaimana seseorang mengetahui apa yang mereka klaim sebagai pengetahuan.

Epistemologi pada hakikatnya menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan apa yang diteliti dalam proses untuk memeperoleh pengetahuan.

Berdasarkan keragaman cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, dan berakar pada standar epistemologi, maka kita mengenal setidaknya ada tiga kategori perspektif atau paradigma dalam ilmu komunikasi.

Ketiga paragima tersebut adalah paradigma klasik (positivisme dan post-positivisme), paradigma kritis, dan paradigma konstruktivis. Perbedaan fokus dan landasan pikiran pada ketiga paradigma tersebut sebagai akibat adanya perbedaan perspektif tentang cara memperoleh ilmu pengetahuan.

  1. Aksiologi

Menurut Littlejohn, aspek aksiologi berhubungan dengan nilai-nilai. Di bidang komunikasi, ada tiga persoalan askiologi, yakni:

a. Apakah teori bebas nilai?

Para penganut perspektif klasik berpendapat bahwa teori dan penelitian bebas nilai. Ia bersifat netral karena berusaha memperoleh fakta sebagaimana tampak dalam realitas.

Sementara di sisi yang lain, sebagian ilmuwan komunikasi (terutama yang berpadangan kritis) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai.

Itu karena setiap peneliti dipandu oleh suatu kepentingan dalam cara-cara tertentu dalam melaksanakan penelitian.

b. Pengaruh praktik penelitian terhadap objek yang diteliti?

Persoalan kedua ini berkutat pada pertanyaan apakah para ilmuwan ikut mempengaruhi proses yang sedang diteliti?

Pandangan ini secara tradisional menunjukkan bahwa para ilmuwan melakukan pengamatan secara berhati-hati, tetapi tanpa interpretasi dengan tetap memelihara kemurnian pengamatan.

c. Sejauhmana ilmu berupaya mencapai perubahan sosial?

Banyak ilmuwan berpendapat bahwa peranan yang sesuai untuk ilmuwan adalah menghasilkan ilmu. Meski ilmuwan lain menentang pendapat ini. Kata mereka, kaum intelektual bertanggung jawab untuk mengembangkan perubahan sosial yang postif.

Simpulan

Merujuk pada pendapat Lanigan dan Littlejohn yang sudah kita bahas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aspek ontologi selalu berkaitan dengan apa yang kita ketahui tentang sesuatu. Atau apa asumsi dasar kita terhadap sebuah realitas tertentu.

Sementara epistemolgi berakitan dengan cara, metode, atau langkah yang kita tempuh untuk memperoleh pengetahuan. Dalam sebuah penelitian, cara tersebut berkaitan dengan perspektif yang kita gunakan dan teori yang kita jadikan rujukan.

Lantas, aspek kemanfaatan dari sebuah pengetahuan merupakan bagian dari aksiologi. Ini berkaitan dengan nilai-nilai yang hendak ditawarkan oleh sebuah ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.

Littlejohn juga menjelaskan, sebagai seorang intelektual kita bertanggung jawab dalam menginisiasi perubahan sosial ke arah yang positif.

Rujukan

  1. Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Depok: Prenada Media Grup.
  2. Suriasumantri, Jujun S.. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  3. Biografi Richard L. Lanigan, https://richardlanigan.academia.edu/. Diakses pada Selasa, 11 April 2023, pukul 13.58 WIB.
  4. Heru. “Ontologi, Epeistemologi, dan Askiologi dalam Filsafat Ilmu”. https://pakarkomunikasi.com/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi. Diakses pada Selasa 11 April 2023, pukul 14.20 WIB.
  5. Littlejohn, Stephen Ward. https://us.sagepub.com/en-us/nam/author/stephen-ward-littlejohn. Diakses pada 11 April 2023, pukul 20.00 WIB.

* Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas FISIP Universitas Bung Karno; Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Artikel ini dibuat sebagai pegangan dan panduan belajar untuk mahasiswa.

The post Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Filsafat Komunikasi appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/aspek-ontologi-epistemologi-dan-aksiologi-dalam-komunikasi/feed/ 0 255
Semiotika John Fiske https://steveelu.satutenda.com/pengantar-semiotika-john-fiske/ https://steveelu.satutenda.com/pengantar-semiotika-john-fiske/#comments Fri, 21 Apr 2023 13:23:52 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=227 PENDAHULUAN Awalnya, tak ada rencana mengulik semiotika John Fiske. Malah, saya belum pernah dengar atau baca namanya, kala di bangku S2 dulu. Lagipula, saat dosen membahas tema semiotika, nama Roland Barthes dan Ferdinand de Saussure lebih dominan disebut dibanding yang lain. Bahkan, nama tokoh semiotika lain seperti Julia Kristeva dan Umberto Eco baru saya ketahui […]

The post Semiotika John Fiske appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
PENDAHULUAN

Awalnya, tak ada rencana mengulik semiotika John Fiske. Malah, saya belum pernah dengar atau baca namanya, kala di bangku S2 dulu. Lagipula, saat dosen membahas tema semiotika, nama Roland Barthes dan Ferdinand de Saussure lebih dominan disebut dibanding yang lain. Bahkan, nama tokoh semiotika lain seperti Julia Kristeva dan Umberto Eco baru saya ketahui ketika menelusuri literatur tambahan perihal semiotika ini.

Maka, sudah pasti nama John Fiske luput. Memang, kalau mundur jauh ke belakang, nama orang ini pernah saya dengar. Tapi itu berpuluh tahun silam. Mungkin 2008, ketika saya mengambil mata kuliah “Filsafat Modern” di STF Driyarkara; diampu Dr. F. Budi Hardiman, yang sekarang bergelar Profesor. Setelah itu, saya tak pernah lagi dengar nama Fiske.

Dan baru-baru ini, tetiba ada permintaan masuk via kolom komentar TikTok saya, @dunia-dosen. Dengan setengah memohon, si penanya minta dijelaskan tentang semiotika John Fiske. Sebentar lagi mau sempro, katanya. Wah, ini urgen betul, pikir saya. Jujur, saya tak punya koleksi buku tentang semiotika Fiske. Jangankan buku, Fiske disebut ikut omong tentang semiotika saja baru saya dengar.

Tapi tak masalah. Sebagai pengasuh konten yang baik, saya tetap berniat untuk menjawab pertanyaan si pemohon. Googling adalah cara awal memperoleh informasi pengantar. Betul, ada dua buku yang menjelaskan tentang pemikiran Fiske di bidang ilmu komunikasi.

Pertama, “Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif”, dan kedua, “Pengantar Ilmu Komunikasi”. Saya belum tahu juga apakah dua buku ini membahas secara komprehensif semiotika Fiske.

Jalan satu-satunya untuk memastikan adalah pergi ke perpustakaan. Selama ini, saya sering mencuri kesempatan baca di perpustakaan kampus S2 saya dulu, Universitas Mercu Buana Meruya. Maka, saya pun singgah ke sana. Meski kenyataannya, hanya buku pertama yang saya temukan.

Sembari itu, beberapa jurnal hasil googling, saya baca dengan cermat. Setidaknya, potongan-potongan informasi itu sedikit memberi gambaran tentang semiotika John Fiske.

Artikel yang ada di hadapan Anda sekarang adalah hasil pembacaan saya atas sejumlah penjelasan tentang semiotika John Fiske. Semoga sedikit membantu si pemohon untuk menjawab kegundahannya, atau mungkin Anda selanjutnya yang bakal terjerumus dalam gundah serupa. Jika belum puas dengan uraian ini, silakan kunjungi dua buku yang sudah saya sebutkan di atas.

PEMBAHASAN

Seperti bisa, mari kita awali dengan mengenal Fiske. John Fiske adalah seorang tokoh komunikasi yang datang dari Inggris. Ia lahir di Bristol, Inggris, pada 12 Sepembter 1939, dan meninggal pada 12 Juli 2021.

Ia meraih gelar BA dan MA di bidang Literatur Inggris dari Cambridge University, di mana pemikirannya banyak dipengaruhi oleh aktivis Raymond Williams. Beberapa bidang keilmuan yang dapat kita sebut sebagai keahlian Fiske adalah cultural studies, analisis kritis atas budaya populer, semiotika media, dan kajian televisi.

Perlu dicatat di muka bahwa Fiske adalah seorang penganut perspektif post-strukturalisme. Aliran ini lahir sebagai reaksi atas strukturalisme yang digawangi oleh Ferdinand de Saussure. Fiske menentang pandangan Saussure yang mengatakan bahwa tanda dalam semiotika adalah sesuatu yang mengikat, dan tidak memberi kemungkinan akan terciptanya kreativitas tanda-tanda baru.

Bagi Fiske dan post-strukuralisme, (Piliang, 2010: 259), tanda dalam semiotika justru membuka ruang bagi model-model bahasa dan pertandaaan yang kreatif, produktif, subversif, transformatif, bahkan terkadang anarkis. Dalam bukunya, Culture and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Kompehenresif, Fiske menjelaskan bahwa komunikasi adalah berbicara satu sama lain.

Pada tataran ini, komunikasi bisa dipahami dalam konteks dari pesan yang disampaikan melalui televisi, sebagai penyebaran informasi; atau bisa juga dalam bentuk komunikasi non verbal seperti gaya rambut, dll. Fiske yakin semua komunikasi melibatkan tanda (sign) dan kode (codes).

Tanda adalah artefak atau tindakan yang merujuk pada sesuatu yang lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menandakan construct. Sementara kode adalah sistem di mana tanda-tanda diorganisasikan dan yang menentukan bagaimana tanda-tanda itu mungkin berhubungan satu sama lain.

Asumsi lainnya adalah bahwa tanda-tanda dan kode-kode itu ditrasmisikan atau dibuat tersedia pada yang lain dan penerimaan tanda/kode/komunikasi adalah praktik hubungan sosial.

Bagi Fiske, penonton TV atau pemirsa bukanlah subjek pasif, melainkan subjek aktif. Ia menolak asumsi bahwa pemirsa hanya pasif menerima makna yang ditawarkan oleh sebuah tayangan. Fiske menolak anggapan bahwa di hadapan sebuah tayangan penonton tidak berpikir dan hanya menerima begitu saja apa yang ditampilkan.

Menurutnya, justru pemirsa yang punya latar belakang berbeda-beda mencoba menangkap makna teks yang ada dalam sebuah tayangan. Karena Fiske menganggap tayangan televisi sebagai teks. Dan dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda itulah, pemirsa berusaha menangkap makna yang terdapat dalam tayangan.

Untuk mengungkap makna dari sebuah tayangan televisi, Fiske mengusulkan tiga tahapan atau level yang harus dilalui. Ketiga level tersebut adalah level realitas, level representasi, dan level ideologi.

Pada level realitas, kata Fiske, acara televisi menampilkan realitas peristiwa dalam tampilan pakaian, lingkungan, perilaku, percakapan, gestur, ekspresi, suara, gaya bicara, dan sebagainya. Semua bentuk tayangan televisi benar-benar menampilkan sesuatu yang nyata atau sesuai fakta yang ada di masyarkat.

Sebagai contoh, apabila sedang memberitakan peristiwa banjir bandang, maka televisi menampilkan gambar banjir yang melanda rumah penduduk, rumah-rumah yang tergenang banjir, tempat pengungsian, dan sebagainya. Itulah realitas. Apa yang nyata, yang terjadi di lapangan.

Level representasi adalah tindakan menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu melalui sesuatu yang di luar dirinya (realitas), biasanya berupa tanda atau simbol (Piliang, 2010:19). Representasi dalam tayangan televisi berkaitan dengan teknik pengambilan gamar, lighting, editing, musik, dan suara.

Dalam teks tertulis berupa kata, kalimat, proposisi, dan lain-lain. Di sini termasuk juga narasi, konflik, karakter, aksi, dialog, latar, dan pemeran. Elemen-elemen inilah yang kemudian ditransmisikan ke dalam kode representasional yang dapat mengaktualisasikan realitas.

Level terakhir adalah level ideologi yakni sistem kepercayaan dan sistem nilai yang direpresentasikan dalam berbagai media dan tindakan sosial (Piliang, 2010:16). Dalam level ini, semua elemen diorganisasikan dan dikategorikan dalam kode-kode ideologis, seperti patriaki, individualisme, ras, kelas, materialisme, kapitalisme, dan sebagainya.

Maka, buat Anda yang hendak melakukan penelitian semiotika dengan pisau analisa semiotika John Fiske, yang harus Anda lakukan adalah menganalisa tayangan atau film yang hendak Anda teliti ke dalam tiga tahapan ini. Anda perlu mengelaborasi secara lengkap unsur-unsur apa saja yang muncul pada level realitas dan ketengahkan unsur-unsur yang dikategorikan dalam level representasi.

Dari penelitian dua level ini akan tertangkap dengan jelas level ideologi yang diusung dalam sebuah tayangan. Level ideologi bisa kian menguatkan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah tayangan atau film atau bisa juga hadir untuk melegitimasi praktik-praktik ideologis yang tengah berkembang dalam masyarakat.

SIMPULAN

John Fiske memberikan opsi yang cukup menarik dalam kajian semiotika. Penelitian-penelitian semiotika bisa merujuk semiotika Fiske ini sebagai pisau analisa terhadap sebuah tayangan televisi atau teks. Dan, teks bagi Fiske bukan saja apa yang tertulis, namun sebuah tayangan pun adalah teks. Umumnya, semiotika Fiske ini digunakan untuk menganalisa film atau program tayangan dalam televisi.

Namun, perlu saya tegaskan di sini bahwa dalam sebuah penelitian, bukan teori mana yang cocok dan teori mana yang tidak cocok. Tapi apa yang hendak dicari oleh seorang peneliti dalam sebuah penelitian. Apa tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah penelitian. Ketika tujuan penelitian ini jelas, maka pilihan teori atau pisau analisa mana yang cocok akan jadi lebih mudah.

DAFTAR PUSTAKA

Piliang, Yasraf A..2003. Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.
Fiske, John. 2010. Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
Trivosa Pah dan Rini Darmastuti. “Analisis Semiotika John Fiske dalam Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus Bangsa di Kepulauan Sula”, dalam Communicare, Vol. 6, No.1.

*Ditulis oleh Stefanus Poto Elu, S.S, M.I.Kom: Dosen Ilmu Komunikasi pada FISIP Universitas Bung Karno; alumnus Universitas Mercu Buana Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

The post Semiotika John Fiske appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/pengantar-semiotika-john-fiske/feed/ 2 227