19 Februari 2025, saya kembali melayani wawancara dengan seorang mahasiswi Fashion Design. Ia ingin mengkonfirmasi, juga memastikan analisis semiotikanya.
Yang menarik bagi saya adalah (sebelumnya saya sudah melayani sejumlah wawancara jenis ini) para mahasiswa Fashion Design ini merancang sebuah tema yang ingin diaplikasikan ke dalam design.
Kemudian, ia mulai mendesain baju atau celana atau juga setelah (celana-baju) dengan tema yang ada di kepalanya. Tema tersebut sudah ia atur sedemikian rupa agar memuat makna yang ia mau sampaikan.
Tentu saja sebelumnya ia sudah menentukan tokoh semiotika siapa yang akan ia gunakan.
Hasil desain tersebut kemudian ia kembali elaborasi dengan pendekatan semiotik, dengan memastikan agar hasil desainnya cocok dengan pendekatan tokoh semiotika yang ia gunakan.
saya melihat ini sebuah kerja bolak-balik yang cukup menyita waktu. Bisa jadi mudah, bisa jadi juga sulit.
Dalam model kerja seperti ini, dalam bayangan saya sejak awal pemahaman tentang semiotika yang mau digunakan harus benar-benar utuh. Artinya, teori yang mau dipakai itu dikuasi.
Kalau tidak, maka hasil desain bisa jadi malah bertentangan dengan pendekatan semiotika yang digunakan.
Dalam wawancara, saya sering menambah beberapa bagian yang menurut saya penting untuk mereka perhatikan.
Misalnya dalam wawancara kali ini, saya mencoba untuk menegaskan hasil desainnya. Apakah gagasan semiotika itu menyatu seluruhnya dalam pakaian yang ia desain, atau hanya pada ornamen yang ditambahkan.
Mennurut saya, kejelian untuk mendudukan dan melihat hal seperti ini perlu jelas dari awal. Sehingga mahasiswa tidak akan kebingungan saat menghadapi ujian skripsi nanti.
Saya sering melakukan hal serupa. Karena pada akhirnya, mereka harus berdiri di hadapan dosen dan mempertanggungjawabkan hasil kerja mereka.
Dan pastinya, saya juga terus belajar dan menganalisa perkembangan ilmu semiotika ini, termasuk dalam penerapannya dalam berbagai bentuk dan aspek.