Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda. Secara etimologis, kata semiotika berakar pada kata Yunani, semeion, yang berarti tanda. Tanda di sini dapat saya definisikan sebagai sesuatu yang memiliki pengertian tertentu setelah mendapatkan persetujuan sosial dari sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.
Tanda dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menunjuk pada sesuatu yang lain. Ia mewakili sesuatu yang lain. Misalnya, asap tanda adanya api. Sirene mobil yang meraung-raung menandakan adanya kebakaran.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita banyak sekali menemukan tanda. Di jalan saat berangkat dan pulang kantor, kita menemukan banyak tanda seperti putar bailik, dilarang berhenti, dilarang parkir, dilarang belok kanan dan lain sebagainya. Semitoka mempelajari tanda-tanda seperti itu.
Marcel Danesi, bahkan memberi pengertian tanda yang lebih luas. Katanya, tanda adalah segala sesuatu – warna, isyarat, kedipan manta, objek, rumus matematika dan lain-lain – yang merepresentasikan sesuatu yang lain, selain dirinya. Ia memberi contoh, kata red merupakan bagian dari tanda karena ia bukan merepresentasikan bunyi r-e-d yang membangunnya, melainkan jenis warna dan hal lainnya (Danesi, 2012:6).
Maka secara terminologis, meminjam pengertian yang dikemukakan Indiwan Seto Wahyu Wibowo, semiotika merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan seluruh kebudayaan sebagai tanda (Wibowo,2013:7). Alex Sobur dalam karyanya, Analisis Teks Media, menjelaskan semiotika sebagai sebuah kajian menitikberatkan objek penelitiannya pada tanda yang pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk atau merujuk pada benda lain.
Bila demikian, semiotika menelaah tanda dalam keseharian, maka tanda seperti apakah yang dapat ditelaah ketika kita atau seseorang hendak membuat penelitian semiotika? Apakah hanya sebuah gambar yang memuat tanda-tanda tertentu? Ataukah teks pun dapat menjadi tanda yang bisa dikaji?
Semiotika mengkaji kedunya, baik tanda dalam bentuk gambar maupun tanda dalam bentuk kata-kata. Bahkan, kata Arthur Asa Berger, di antara semua jenis tanda, yang terpenting adalah kata-kata (Berger, 2010:1). Berger bahkan menguraikan bahwa kemampuan aktor atau aktris dalam menggunakan tanda-tanda tertentu dalam mengkomunikasikan perasaan dari tokoh yang ia perankan pun pun merupakan wilayah kajian semiotika.
Lalu bagaimana dengan simbol? Bila tanda dapat dilihat secara kasat mata, atau setidak-tidaknya dapat ditangkap dengan indra manusia, simbol bersifat abstrak. Ia berada dalam pikiran, pun merupakan kesepakantan bersama dalam sebuah masyarakat. Entah itu disepakati sejak awal, atau karena sudah berlangsung dalam waktu yang lama, maka diterima sebagai simbol akan sesuatu.
Dalam perspektif Saussurean, simbol adalah jenis tanda di mana hubungan antara penanda dan petanda seakan-akan bersifat arbitrer (semena-mena). Salah satu karakteristik dari simbol adalah bahwa simbol tak pernah benar-benar arbitrer.
Misalnya, kita sering melihat gambar seorang perempuan dengan mata tertutup sedang memegang timbangan. Ini adalah simbol keadilan. Simbol keadilan yang berupa timbangan ini tidak dapat digantikan dengan simbol lain, misalnya kendaraan. Simbol ini merupakan simbol konvensional keadilan dalam pandangan dunia Yahudi-Kristen Barat.
Karena itu, ada keterkaitan logis antara timbangan dan konsep keadilan. Namun, perlu diingat bahwa hubungan keduanya tidak bersifat keharusan. Tidak semua timbangan atau gambar timbangan serta-merta dipersepsikan sebagai keadilan. Maka, di sinilah konteks menjadi sangat penting (Berger, 2010:27-28).
Dengan demikian, maka terlihat jelas bahwa tanda dan simbol adalah dua hal yang berbeda. Penelitian semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda punya ruang lingkup yang sangat luas untuk mengkaji tanda-tanda yang dipresentasikan dalam rupa gambar, kata-kata, gestur, maupun ekspresi tertentu.
Karena itu, ketika kita hendak membuat sebuah kajian semiotik, maka banyak unsur yang harus diperhatikan. Tanda-tanda yang ada dalam objek kajian kita jangan sampai terlewatkan. Apalagi kata-kata, jangan lupakan. Ia pun adalah tanda yang bermakna. Dengan begitu, kita dapat menangkap secara untuh makna yang terdapat dalam tanda-tanda untuk menangkap korelasi dan konteks pesan yang mau disampaikan.
Rujukan:
- Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Sleman: Penerbit Tiara Wacana.
- Danesi, Marcel. 2012. Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
- Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2013. Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media.
Naskah ini dipublikaiskan di Thecolumnist.id, 4 Maret 2025.