Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/ Buah-Buah Pikiran Thu, 18 Jun 2026 23:57:19 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://steveelu.satutenda.com/wp-content/uploads/2023/04/cropped-Favicon-1-32x32.png Stefanus Poto Elu https://steveelu.satutenda.com/ 32 32 230899615 Jangan Mudah percaya Siapapun https://steveelu.satutenda.com/jangan-mudah-percaya-siapapun/ https://steveelu.satutenda.com/jangan-mudah-percaya-siapapun/#respond Thu, 18 Jun 2026 23:42:45 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=653 Descartes, Keraguan Radikal, dan Masa Depan Nalar Kritis Pendahuluan Ironi terbesar peradaban digital adalah bahwa kita semua hidup dalam lautan informasi, tapi sulit menemukan kebenaran. Setiap hari jutaan pesan, berita, video, opini, dan narasi lalu-lalang di gawai kita. Sebagian datang dari media resmi, sebagian dari tokoh publik, sebagian lagi dari akun anonim, yang tak kita […]

The post Jangan Mudah percaya Siapapun appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Descartes, Keraguan Radikal, dan Masa Depan Nalar Kritis

Pendahuluan

Ironi terbesar peradaban digital adalah bahwa kita semua hidup dalam lautan informasi, tapi sulit menemukan kebenaran. Setiap hari jutaan pesan, berita, video, opini, dan narasi lalu-lalang di gawai kita. Sebagian datang dari media resmi, sebagian dari tokoh publik, sebagian lagi dari akun anonim, yang tak kita kenal. Informasi beredar sangat cepat, jauh melampaui kemampuan kita untuk memeriksanya. Akibatnya, kita mudah jatuh hati dan cepat percaya daripada memahami (Nichols, 2017).

Kita hidup dalam budaya yang menjadikan kecepatan sebagai nilai utama. Orang cenderung hanya baca judul tanpa membaca isi. Orang langsung share informasi tanpa memeriksa sumber. Orang menyebar opini tanpa terlebih dahulu menguji dasar argumentasinya. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan berpikir kritis tergeser oleh dorongan emosional dan impulsif. Yang viral dianggap benar. Yang populer dianggap valid. Yang banyak dibagikan dianggap faktual. Padahal banyak fakta menunjukan bahwa mayoritas tidak selalu benar (Wijaya, 2025). Kekuasaan tidak selalu jujur. Tradisi tidak selalu rasional. Bahkan apa yang tampak nyata di hadapan mata sekalipun belum tentu benar adanya.

Di tengah kondisi tersebut, dengan merujuk pada filsafat René Descartes, kita coba membunyikan alarm peringatan, yang terdengar provokatif sekaligus relevan: jangan mudah percaya kepada siapa pun.

Pernyataan ini tentu bukan ajakan untuk hidup dalam kecurigaan yang patologis. Descartes tidak mengajarkan manusia untuk membenci otoritas atau menolak seluruh pengetahuan yang ada. Yang ia ajarkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni keberanian untuk menggunakan akal budi, sebelum menerima suatu klaim sebagai kebenaran.

Bagi Descartes, manusia yang berpikir adalah manusia yang merdeka. Sebaliknya, manusia yang menerima segala sesuatu tanpa memeriksanya di bawah terang rasionlaitas, sesungguhnya ia sedang menyerahkan kebebasan intelektualnya kepada orang lain (Descartes, 1996). Dengan demikian, keraguan bukan musuh kebenaran. Keraguan adalah pintu akses menuju kebenaran.

Dalam konteks Indonesia (digital), ketika ruang publik dipenuhi kontestasi politik, pertarungan narasi media, manipulasi opini digital, dan ketidakpastian sosial, filsafat Descartes menawarkan perangkat intelektual yang sangat penting untuk membangun warga negara yang kritis, rasional, dan reflektif.

Sang Arsitek Rasionalitas Modern

René Descartes lahir pada 31 Maret 1596 di La Haye en Touraine, Prancis. Ia hidup pada masa Eropa sedang mengalami perubahan besar dalam ilmu pengetahuan, politik, dan agama (Hardiman, 2004). Masa hidupnya ditandai oleh krisis intelektual yang mendalam. Otoritas Gereja mulai dipertanyakan. Penemuan ilmiah mengguncang pandangan dunia lama. Manusia mulai mencari fondasi baru untuk memperoleh kepastian pengetahuan.

Dalam situasi itulah Descartes mengembangkan proyek filsafat yang kelak mengubah sejarah pemikiran Barat. Ia coba menjawab pertanyaan sederhana tetapi sangat mendasar: Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu secara pasti? Jawaban atas pertanyaan tersebut melahirkan dua karya monumental seperti Discourse on the Method dan Meditations on First Philosophy. Melalui karya-karya ini, Descartes memperkenalkan metode keraguan sistematis yang kemudian menjadi fondasi filsafat modern (Hardiman, 2004).

Pengaruh Descartes pada pintu masuk modernism sangat besar sehingga ia sering disebut sebagai Bapak Filsafat Modern. Jika filsafat abad pertengahan berpusat pada otoritas agama dan tradisi, maka filsafat modern yang dirintis Descartes menempatkan rasio manusia sebagai titik tolak pencarian kebenaran. Warisan terbesar Descartes bukan sekadar teori filosofis tertentu, melainkan sebuah sikap intelektual: keberanian untuk mempertanyakan segala sesuatu demi menemukan dasar yang tidak dapat diragukan lagi (Jati, 2025).

Dunia Digital dan Krisis Kepercayaan

Masyarakat abad ke-21 menghadapi situasi yang dalam banyak hal mengingatkan kita pada krisis yang dihadapi Descartes empat abad lalu. Perbedaan hanya pada bentuknya saja. Kalau Descartes berhadapan dengan ketidakpastian pengetahuan akibat konflik antara tradisi lama dan ilmu pengetahuan baru, maka kita hari ini berhadapan dengan ketidakpastian akibat ledakan informasi digital.

Hari ini, setiap individu dapat memproduksi informasi. Teknologi memungkinkan siapapun menjadi penyebar berita, pencipta opini, bahkan pencipta realitas alternatif. Akibatnya, batas antara fakta dan manipulasi setipis kertas (Sekarhati, 2024). Fenomena deepfake, propaganda digital, buzzer politik, manipulasi statistik, hingga penyebaran hoaks menunjukkan bahwa dunia digital telah menciptakan lingkungan epistemologis yang sangat rumit. Kita tidak lagi hidup dalam kekurangan informasi. Kita hidup dalam tzunami informasi (Tukina, et.al. 2020). Maka soal utamanya bukan pada bagaimana memperoleh informasi, tapi bagaimana memastikan bahwa informasi yang diterima layak dipercaya.

Dalam kotenks inilah filsafat Descartes harus diletakan. Descartes mengajarkan bahwa kepercayaan harus didahului oleh pemeriksaan. Tidak ada klaim yang boleh diterima hanya karena terdengar meyakinkan. Tidak ada pendapat yang boleh diterima hanya karena disampaikan oleh tokoh terkenal (Nichols, 2017). Tidak ada informasi yang boleh diterima hanya karena didukung banyak orang. Dalam dunia digital, prinsip Cartesian sederahana: Jangan percaya sebelum memeriksa.

Keraguan Radikal: Jalan Menuju Kepastian

Gagasan paling terkenal dalam filsafat Descartes adalah apa yang disebut sebagai methodic doubt atau keraguan metodis (Descartes, 2006). Ia memulai filsafatnya dengan tindakan yang tampak ekstrem: meragukan segala sesuatu yang masih mungkin untuk diragukan. Asumsi Descartes, banyak keyakinan manusia dibangun di atas fondasi yang rapuh. Indra dapat menipu. Kebiasaan dapat menyesatkan (Jati, 2025). Tradisi dapat salah. Otoritas bisa saja keliru. Karena itu, seluruh bangunan pengetahuan harus diuji kembali dari dasarnya.

Namun penting dipahami bahwa keraguan Descartes bukanlah skeptisisme absolut. Sebagaimana dijelaskan (Yogiswari, 2020), Descartes tidak berhenti pada keraguan. Ia menggunakan keraguan sebagai alat untuk menemukan sesuatu yang benar-benar pasti. Keraguan berfungsi seperti api yang membakar seluruh keyakinan yang rapuh sehingga hanya menyisakan kebenaran yang mampu bertahan (Yudan, 2025).

Dalam konteks kita hari ini, keraguan metodis merupakan vaksin intelektual terhadap manipulasi informasi. Ia melindungi manusia dari kecenderungan menerima klaim tanpa pemeriksaan. Masyarakat yang kehilangan kemampuan meragukan adalah masyarakat yang mudah dikendalikan. Sebaliknya, masyarakat yang mampu meragukan secara rasional adalah masyarakat yang sulit dimanipulasi.

Cogito Ergo Sum: Kelahiran Subjek yang Merdeka

Setelah meragukan segala sesuatu, Descartes menemukan satu kepastian yang tidak dapat dihancurkan oleh keraguan apa pun. Cogito Ergo Sum: Aku berpikir, maka aku ada. Pernyataan ini bukan sekadar slogan filosofis. Ia merupakan revolusi besar dalam sejarah pemikiran manusia.

Descartes menyadari bahwa ketika ia meragukan segala sesuatu, tindakan meragukan itu sendiri membuktikan keberadaan dirinya sebagai subjek yang berpikir. Bahkan jika seluruh dunia ternyata ilusi, fakta bahwa ia sedang berpikir tetap tidak dapat disangkal.

Melalui gagasan ini, Descartes menempatkan manusia sebagai pusat aktivitas rasional. Kebenaran tidak lagi bergantung pada tradisi atau otoritas semata, melainkan pada kemampuan manusia menggunakan akal budinya sendiri.

Dalam dunia digital, makna Cogito Ergo Sum menjadi semakin penting. Banyak orang hidup dalam banjir informasi tetapi jarang benar-benar berpikir. Mereka mengonsumsi opini orang lain tanpa refleksi. Mereka mengadopsi kemarahan orang lain tanpa analisis. Mereka mengulangi narasi yang dibentuk algoritma tanpa kesadaran kritis. Padahal kebebasan intelektual hanya mungkin lahir ketika manusia berpikir secara mandiri. Dengan demikian, pesan Descartes bagi generasi digital dapat dirumuskan ulang: Saya berpikir kritis, maka saya merdeka.

Salah satu penerapan paling menarik dari filsafat Descartes adalah dalam membaca praktik kekuasaan. Kekuasaan modern tidak lagi bekerja hanya melalui aparat negara atau instrumen koersif. Kekuasaan bekerja melalui bahasa, citra, simbol, data, dan narasi.

Di Indonesia, masyarakat setiap hari disuguhi berbagai klaim mengenai keberhasilan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, pemberantasan korupsi, kesejahteraan rakyat, atau stabilitas politik. Sebagian klaim tersebut mungkin benar. Sebagian lainnya mungkin memerlukan verifikasi lebih lanjut. Pendekatan Cartesian tidak mengajarkan kita untuk langsung percaya ataupun langsung menolak. Ia mengajarkan kita untuk bertanya: Apa evidensinya? Mana datanya? Bagaimana metode pengukurannya? Apakah terdapat sumber pembanding yang independen?

Sikap semacam ini sangat penting dalam demokrasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang mampu berpikir kritis, bukan massa yang mudah terpesona oleh slogan.

Penegakan Hukum dan Tuntutan Rasionalitas

Prinsip Cartesian juga memiliki relevansi yang mendalam dalam bidang hukum. Hukum pada dasarnya adalah upaya mencari kebenaran melalui prosedur rasional. Seorang hakim yang baik tidak boleh memutus perkara berdasarkan desas-desus, tekanan publik, atau persepsi media (Santosa, et.al. 2026). Ia harus memeriksa fakta, bukti, dan argumentasi secara objektif. Di Indonesia, tantangan terbesar penegakan hukum hari ini ladah ketika opini publik berkembang lebih cepat daripada proses pembuktian hukum. Media sosial memetakan arena sidangnya sendiri dan membentuk “vonis sosial” jauh sebelum pengadilan menjatuhkan putusan.

Di sinilah pelajaran Descartes menjadi penting. Keadilan memerlukan keraguan metodis. Setiap tuduhan harus diuji. Setiap bukti harus diverifikasi. Setiap kesimpulan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Tanpa sikap tersebut, hukum berisiko berubah menjadi arena persepsi, bukan arena pencarian kebenaran. Jika hukum mendasarkan diri pada rasionalitas, maka keadilan sosial menemukan jalan untuk menampakkan diri.

Keadilan tidak boleh dipahami hanya sebagai slogan politik. Ia harus diuji melalui realitas konkret. Ketika kemiskinan masih terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi, ketika akses pendidikan berkualitas masih timpang, ketika pelayanan hukum tidak dirasakan setara oleh seluruh warga negara, maka filsafat Descartes mengajarkan kita untuk mengajukan pertanyaan kritis: Apakah yang tampak sebagai kemajuan benar-benar mencerminkan keadilan?

Pertanyaan semacam ini bukan bentuk pesimisme. Justru sebaliknya, ia merupakan bentuk tanggung jawab intelektual terhadap kehidupan bersama. Mahasiswa, dengan nalar kritis dan kemampuan analisisnya harus tampil bersuara melalui medium diskursus maupun medium digital untuk membasuh pesimisme dengan keadilan.

Penutup

Abad ke-17 melahirkan Descartes karena manusia membutuhkan fondasi baru bagi kebenaran. Abad ke-21, dalam terang pemikiran Descartes, kita diharapkan untuk terus membukakan jalan bagi hidupnya nalar kritis. Di tengah dominasi algoritma, kecerdasan buatan, manipulasi informasi, dan pertarungan narasi politik, kemampuan paling berharga bukanlah kemampuan mengakses informasi. Kemampuan paling berharga adalah kemampuan mempertanyakan informasi. Kemampuan memetakan dan memilah informasi ((Hardiman, 2023).

Karena itu, pesan filsafat Descartes sesungguhnya sangat sederhana sekaligus revolusioner: Jangan mudah percaya siapa pun. Bukan karena semua orang berbohong, melainkan karena kebenaran menuntut pemeriksaan. Bukan karena dunia dipenuhi musuh, melainkan karena akal budi manusia memiliki tanggung jawab untuk bekerja. Masa depan demokrasi, hukum, dan keadilan sosial tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang tersedia. Masa depan akan ditentukan oleh seberapa banyak warga negara yang masih berpikir.

Dan di tengah kebisingan dunia digital, suara Descartes masih terdengar jelas: “Untuk mencapai kebenaran, sekali dalam hidup seseorang harus meragukan sejauh mungkin segala sesuatu.” (Descartes, Meditations on First Philosophy). Kalimat tersebut bukan sekadar ajaran filsafat. Ia adalah panggilan untuk membangun masyarakat yang rasional, reflektif, dan merdeka secara intelektual.

Sumber Buku:

[1] Descartes, R. (1996). Meditations on First Philosophy. Cambridge University Press.
[2] Descartes, R. (2006). Discourse on the Method. Oxford University Press.
[3] Hardiman, F. Budi (2023). Kebenaran dan Para Kritikusnya. Mengulik Idea Besar yang Memandu Zaman Kita. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
[4] Hardiman, F. Budi. (2004). Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
[5] Nichols, Tom. (2017). Matinya Kepakaran. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Sumber Jurnal:

[6] Adi Wijaya. (2025). Digitalisasi Kebohongan: Mitigasi Hoaks di Media Sosial, Perspektif Filsafat Komunikasi. Journal of Communication Sciences.
[7] Jati, A. S. D. (2025). Perjalanan Batin Descartes dan Ignatius Loyola dalam Pencarian Kebenaran: Descartes’ and Ignatius’ Inner Journey in Search for Truth. DISKURSUS – JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, 21(2), 121-163. https://doi.org/10.36383/diskursus.v21i2.800
[8] Santosa, D. G. G., Dewi, E., & Fardiansyah, A. I. (2026). The Formation of Judicial Conviction in Indonesia: Convergence of Legal Norms and Empirical Reasoning in Criminal Proof.
[9] Sekarhati, D. K. S. (2024). Combating Hoax and Misinformation in Indonesia Using Machine Learning: What is Missing and Future Directions. EMACS Journal.
[10] Tukina, Mozin, A. R. M., & Sanjaya, M. (2020). Disruptive Innovation: A Case of Solving Hoax Information in Indonesia. Humaniora, 11(1), 35–42.
[11] Yogiswari, K. S. (2020). Keraguan Kritis; Descartes. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 10(1), 45–54. https://doi.org/10.25078/sjf.v10i1.1631
[12] Yudan, F. F., & Naupal. (2025). Evil Spirit dalam Metode Keraguan Rene Descartes. Jurnal Filsafat Indonesia, 8(1), 102–109.

Silkan download teksnya di sini: Filsafat Rene Descartes

The post Jangan Mudah percaya Siapapun appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/jangan-mudah-percaya-siapapun/feed/ 0 653
Menulis di Majalah LLDIKTI 3 https://steveelu.satutenda.com/menulis-di-majalah-lldikti-3/ https://steveelu.satutenda.com/menulis-di-majalah-lldikti-3/#respond Thu, 19 Mar 2026 10:10:06 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=646 Menuju akhir tahun 2025, saat scrolling instagram, saya nemu pengumunan kesempatan menulis di Majalah LLDIKTI 3. Saya langsung tertarik untuk menulis di sana. Temanya sudah ditentukan, tinggal memilih mau menulis tema yang mana. Tulisannya berupa artikel populer. Kebetulan, saat itu saya sedang gemar membaca pemikiran Emmanuel Levinas, terutama pemikirannya tentang moral. Saya pun mengembangkan ide […]

The post Menulis di Majalah LLDIKTI 3 appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Menuju akhir tahun 2025, saat scrolling instagram, saya nemu pengumunan kesempatan menulis di Majalah LLDIKTI 3. Saya langsung tertarik untuk menulis di sana.

Temanya sudah ditentukan, tinggal memilih mau menulis tema yang mana. Tulisannya berupa artikel populer.

Kebetulan, saat itu saya sedang gemar membaca pemikiran Emmanuel Levinas, terutama pemikirannya tentang moral. Saya pun mengembangkan ide dengan hal tersebut jadi tulisan.

Beberapa minggu setelahnya, saya dihubungi oleh pengelola Majalah LLDIKTI 3 kalau naskah saya lolos kurasi. Proses penerbitan sedang dilakukan dan mungkin akan terbit di Januari 2026.

Untuk kebutuhan administrasi, saya diminta untuk mengisi data personal. Dan pada akhirnya, saya dibayar untuk artikel saya yang publikasi itu. Kalau tidak salah sekitar 200ribu.

Menulis di Majalah LLDIKTI 3

Nominalnya memang kecil. Tapi saya kira saya yang sedang belajar di dunia akademik, tetap butuh publikasi seperti ini. Karena di situlah saya belajar untuk menulis.

Judul tulisan saya yang terbit adalah Wajah Yang Lain sebagai Panggilan Moral. Untuk lebih lengkap, silakan download di link di bawah ini.

Link: Wajah Yang Lain sebagai Panggilan Moral

The post Menulis di Majalah LLDIKTI 3 appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/menulis-di-majalah-lldikti-3/feed/ 0 646
Kesempatan Mengajar di UTarki https://steveelu.satutenda.com/mengajar-sebagai-dosen-utarki/ https://steveelu.satutenda.com/mengajar-sebagai-dosen-utarki/#respond Wed, 18 Mar 2026 17:23:13 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=639 Kesempatan mengajar di UTarki itu datang tanpa saya duga. Saya akan menuliskan ceritanya di sini dengan terang-benderang. Tujuannya supaya siapa pun yang tahu tentang cerita ini, paham cerita yang sebenarnya. Konektivitas saya dengan Universitas Tarakinta atau yang umum dikenal sebagai UTarki dimulai dari keterlibatan saya di Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI). IKDKI sendiri adalah sebuah […]

The post Kesempatan Mengajar di UTarki appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Kesempatan mengajar di UTarki itu datang tanpa saya duga. Saya akan menuliskan ceritanya di sini dengan terang-benderang. Tujuannya supaya siapa pun yang tahu tentang cerita ini, paham cerita yang sebenarnya.

Konektivitas saya dengan Universitas Tarakinta atau yang umum dikenal sebagai UTarki dimulai dari keterlibatan saya di Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI).

IKDKI sendiri adalah sebuah organisasi profesi dosen, yang beranggotakan dosen-dosen Katolik, tenaga pendidik Katolik, dan mahasiswa-mahasiswi Katolik. IKDKI berdiri pada 2019. Untuk lebih jelas, silakan baca di website IKDKI.

Saya resmi bergabung ke organisasi ini, tahun 2023. Waktu itu saya datang di Misa ulang tahun IKDKI. Setahun setelahnya, ketika izin pendiriannya resmi, saya masuk di jajaran Pengurus Pusat.

Ketua Umum IKDKI Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan. Kami memanggilanya, Prof. Api. Beliau adalah Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Tinggi Tarakanita. UTarki yang sebelumnya dikenal dengan nama STARKI, sejak 2025, sudah ditingkatkan statusnya menjadi universitas.

Februari 2026

Suatu malam pada medio Februari 2026, Prof. Api kirim pesan. Pada intinya adalah meminta kesediaan saya untuk membantu di UTarki. Selain mengajar, saya juga membantu dengan mengisi dan mengembangkan website UTarki.

Kontak awal itu berlanjut. Saya kemudian melanjutkan komunikasi dengan Rektor UTarki, yakni Bapak Antonius Singgih Setiawan. Lalu, mengurusi teknis jam mengajar dengan Ketua Prodi Komunikasi, Ibu Elsie Oktivera.

Jadilah saya mulai mengajar di UTarki terhitung sejak semester genap 2025/2026. Kelas pertama saya di UTarki dimulai pada 13 Februari 2026.

Di UTarki, semester genap 2025/2026, saya mengampuh satu mata kuliah sebagai dosen tunggal, dan satu mata kuliah sebagai dosen rekanan.

Untuk mata kuliah sebagai dosen tunggal saya mengajar Komunikasi Massa untuk mahasiswa semester 2. Sementara untuk mata kuliah dosen rekanan, saya mengajar mata kuliah Media Relation untuk mahasiswa semester 6.

The post Kesempatan Mengajar di UTarki appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/mengajar-sebagai-dosen-utarki/feed/ 0 639
Apa Untungnya Ikut Organisasi? https://steveelu.satutenda.com/apa-untungnya-ikut-organisasi/ https://steveelu.satutenda.com/apa-untungnya-ikut-organisasi/#respond Wed, 10 Sep 2025 08:51:00 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=642 Orang sering bertanya, apa sih untungnya ikut organisasi? Waktu SMA ikut organisasi. Kuliah nimbrung di organisai kampus. Ketika sudah kerja pun masih sempatkan waktu gabung lagi ke organisasi. Kalau sudah begitu, wajar kalau akhirnya orang bertanya-tanya apa keuntungan yang bisa diperoleh dengan bergabung ke organisasi tertentu. Ini saya share pengalaman pribadi saya. Dulu, sewaktu kuliah, […]

The post Apa Untungnya Ikut Organisasi? appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Orang sering bertanya, apa sih untungnya ikut organisasi? Waktu SMA ikut organisasi. Kuliah nimbrung di organisai kampus. Ketika sudah kerja pun masih sempatkan waktu gabung lagi ke organisasi.

Kalau sudah begitu, wajar kalau akhirnya orang bertanya-tanya apa keuntungan yang bisa diperoleh dengan bergabung ke organisasi tertentu.

Ini saya share pengalaman pribadi saya. Dulu, sewaktu kuliah, saya tidak banyak ikut organisasi. Kalau pun gabung ya paling di organisasi kampus.

Waktu mulai kerja, saya ikut organisasi hobi. Ya buat senang-senang saja, tanpa melihat lebih jauh apa manfaat yang bisa saya peroleh dengan gabung organisasi tertentu.

Saya justru baru intens ngikut organisasi macam-macam pasca 2022. Itu saya sudah menikah. Saya harus berbagi waktu antara keluarga, kerja dan organisasi.

Namun, ada hal yang ingin saya tegaskan di sini. Organisasi yang saya ikuti justru membuat saya berkembang dengan sangat baik. Juga, networking yang memberi saya dampak luar biasa.

Saat ini saya gabung di sejumlah organisasi seperti Pemuda Katolik, Ikatan Dosen Katolik Indonesia, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional. Selain itu, ada sejumlah organisasi kedaerahan, tapi saya tidak terlalu aktif.

Lewat organisasi kedosenan seperti Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI), saya dapat akses untuk mengembangkan karir di bidang akademik.

Mengajar di UMN

Contoh konkret, melalui IKDKI saya berkenalan dengan Bapak Simon Wenehenubun, seorang yang bertanggung jawab untuk mata kuliah Humaniora di Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Dan semester ganjil ini, saya berkesempatan untuk mengisi kelas Religiositas di UMN. Saya ampun empat kelas, semuanya Religiositas.

Tentu, saya tidak mengatakan bahwa ini karenga “orang dalam”. Tapi ini karena networking yang saya bangun melalui organisasi. Artinya, saya menunjukan kualitas baik dalam organisasi sehingga orang melihat dan percaya bahwa ia bisa bekerja sama dengan saya.

Karena harus diakui, banyak orang yang ikut organisasi tapi pada akhirnya tidak dapat apa-apa juga…

The post Apa Untungnya Ikut Organisasi? appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/apa-untungnya-ikut-organisasi/feed/ 0 642
Anak SMA Gonzaga Bikin Riset Semiotika https://steveelu.satutenda.com/anak-sma-gonzaga-bikin-riset-semiotika/ https://steveelu.satutenda.com/anak-sma-gonzaga-bikin-riset-semiotika/#respond Fri, 22 Aug 2025 01:25:12 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=618 18 Agustus 2025. Bikin riset dengan pendekatan semiotika, mungkin sudah biasa. Anak skripsi S1 sudah biasa. Tapi bagaimana kalau yang bikini riset itu anak SMA? Inilah yang dilakukan oleh anak SMA Gonzaga Jakarta. Di sela-sela ikut membantu kepanitiaan turnamen mini soccer lintas iman yang digagas Pengurus Pusat Pemuda Katolik, saya melayani wawancara untuk tema semiotika. […]

The post Anak SMA Gonzaga Bikin Riset Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
18 Agustus 2025. Bikin riset dengan pendekatan semiotika, mungkin sudah biasa. Anak skripsi S1 sudah biasa. Tapi bagaimana kalau yang bikini riset itu anak SMA? Inilah yang dilakukan oleh anak SMA Gonzaga Jakarta.

Di sela-sela ikut membantu kepanitiaan turnamen mini soccer lintas iman yang digagas Pengurus Pusat Pemuda Katolik, saya melayani wawancara untuk tema semiotika.

Hillary dan Calista. Dua anak SMA Gonzaga tersebut lagi menyiapkan riset semiotika untuk sebuah event perlombaan.

Katanya, kami sudah sampai tahap semifinal Pak. Kalau ini kami lolos maka kami akan masuk final.

Dua siswi SMA Gonzaga Jakarta ini menulis tentang microtargeting kampanye Pemilu 2024, dengan pendekatan semiotika. Tokoh semiotik yang dipilih adalah Semiotika Roland Barthes.

Yang sangat menarik bagi saya adalah keduanya ini baru duduk di bangku SMA. Tapi mereka sudah berani untuk menulis dengan teori dan pendekatan yang umum dilakukan anak kuliahan semester akhir.

Dan lebih lagi, tema politik yang mereka bahas. Umumnya, orang selalu berpadangan anak Gen Z tidak suka politik. Mereka elergi kalau ngomong politik.

Tapi dua anak Gen Z ini berbeda. Mereka sangat tertarik untuk menulis tentang semiotika politik. Bahkan, mereka coba untuk memprediksi bagaimana nanti rupa kampanye politik 2029?

Kalau dari pasangan Probowo-Gibran pada 2024 lalu pakai AI untuk desain alat peraga kampanyenya, bagaimana nanti 2029? Apakah masih akan sama atau malah harus lebih lagi?

Ini yang sangat menarik. Mulai memprediksi sisi komunikasi politik pada 2029 mendatang.

Hampir 2 jam kami bicara. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang kritis dan lugas. Dalam hati, keren juga kalau punya murid atau mahasiswa seperti ini.

Adrenali untuk belajar banyak jadi terpacu karena bisa saja pertanyaan yang datang di luar bayangan saya sebelumnya.

The post Anak SMA Gonzaga Bikin Riset Semiotika appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/anak-sma-gonzaga-bikin-riset-semiotika/feed/ 0 618
Dua Hari, Tiga Kali Bimbingan Skripsi dan Wawancara https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-dan-wawancara-secara-online/ https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-dan-wawancara-secara-online/#respond Fri, 08 Aug 2025 02:59:13 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=611 7 Agustus 2025. Pagi ini saya mulai dengan melayani seorang mahasiswi dari Universitas Serang Raya. Ia ingin wawancara tentang skripsinya. Dalam skripsinya, ia membahas tentang unsur kebudayaan dan citra perempuan yang ada dalam iklan Citra. Wawancara ini lumayan panjang. Sebab pertanyaan yang ia ajukan pun mendalam dan kompleks. Selalu menarik bahwa saya bisa belajar juga […]

The post Dua Hari, Tiga Kali Bimbingan Skripsi dan Wawancara appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
7 Agustus 2025. Pagi ini saya mulai dengan melayani seorang mahasiswi dari Universitas Serang Raya. Ia ingin wawancara tentang skripsinya.

Dalam skripsinya, ia membahas tentang unsur kebudayaan dan citra perempuan yang ada dalam iklan Citra. Wawancara ini lumayan panjang. Sebab pertanyaan yang ia ajukan pun mendalam dan kompleks.

Selalu menarik bahwa saya bisa belajar juga dari para mahasiswa-mahasiswi yang sedang mengerjakan skripsi.

Kalau lagi wawancara seperti ini, terkadang muncul pertanyaan yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya. Karena itu saya harus “memeras otak” cukup keras untuk menjawab.

Namun, ini selalu menjadi motivasi lebih. Bahwa saya bisa belajar dari mana saja, terutama dalam mengembangkan pemahaman saya tentang semiotika.

Semiotika merupakan sebuah area yang ketika saya terus dalami, ia semakin luas. Bahkan kadang saya masih butuh membaca berulang-ulang untuk memahami kedalaman semiotika ini.

Kesempatan belajar hal baru juga akhirnya saya dapatkan dari mahasiswi kedua. Kalau yang kedua ini berbeda. Ia adalah mahasiswi yang mengambil paket bimbingan yang saya sediakan (berbayar).

Dan ia datang dengan satu pendekatan baru. Ia menjelaskan kalau ia direkomendasikan oleh dosen pembimbingnya untuk membahas isu resepsi khlayak terhadap film.

Awalnya saya nggak percaya. Yang dia maksud persepsi atau resepsi? Dan ia mati-matian bahwa yang ia maksud adalah resepsi.

Saya pun penasaran. Kami cari sama-sama. Ternyata dalam riset ilmu komunikasi ada juga pendekatan resepsi. Misalnya, resepsi Stuart Hall, dan lain-lain.

Jujur, ini pengetahuan baru bagi saya. Akhirnya saya harus banyak membaca lagi tentang pendekatan ini. Dan saya bersyukur akhirnya bisa tahu tentang hal ini juga.

8 Agustus 2025. Saya melanjutkan bimbingan dengan seraong mahasiswi saya. Selama ini ia mengambil paket bimbingan berbayar.

Ia sedang mempersiapkan ujian, sehingga ia minta untuk pada sesi bimbingan kali ini adalah me-review PowerPoint yang akan ia tampilkan saat ujian.

Selalu menarik membimbing atau melayani wawancara teman-teman mahasiswa terkait semiotika. Saya mendapatkan banyak pengetahuan dari mereka.

The post Dua Hari, Tiga Kali Bimbingan Skripsi dan Wawancara appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/bimbingan-skripsi-dan-wawancara-secara-online/feed/ 0 611
Sempurna. Dua Mahasiswa Bimbingan LULUS https://steveelu.satutenda.com/mahasiswa-bimbingan-skripsi-lulus/ https://steveelu.satutenda.com/mahasiswa-bimbingan-skripsi-lulus/#respond Tue, 22 Jul 2025 14:58:17 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=606 Rasanya senang sekali. Dua mahasiswa bimbingan online saya, lulus dalam satu pekan terakhir. Keduanya mengambil paket bimbingan online. Kami rutin mendiskusikan skripsi mereka dari waktu ke waktu, secara intensif. Termasuk bagaimana menyiapkan strategi menghadapi ujian skripsi. Dan yang paling bikin hati saya senang adalah keduanya lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Mahasiswa pertama lulus dengan […]

The post Sempurna. Dua Mahasiswa Bimbingan LULUS appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Rasanya senang sekali. Dua mahasiswa bimbingan online saya, lulus dalam satu pekan terakhir. Keduanya mengambil paket bimbingan online.

Kami rutin mendiskusikan skripsi mereka dari waktu ke waktu, secara intensif. Termasuk bagaimana menyiapkan strategi menghadapi ujian skripsi.

Dan yang paling bikin hati saya senang adalah keduanya lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.

Mahasiswa pertama lulus dengan revisi minor. Saat ujian pun pertanyaan dari penguji hanya bersifat informatif dan penegasan. Juga, ada beberapa bagian yang terlewatkan saat menjelaskan saja.

BACA: Semiotika Tzvetan Todorov

Jadi, secara umum ujian berlangsung sangat lancar. Katanya, hanya kurang lebih 27 menit. Jadi saya bisa membayangkan bahwa betapa senangnya mengikuti ujian dengan sangat singkat.

Sebelumnya, kami menyiapkan ujian dengan sangat intens. Kami bahkan membuat simulasi pertanyaan dan bagaimana menjawab. Strategi-strategi taktis, bahkan sejak dari cara menjelaskan poin-poin utama dalam PowerPoint.

Terakhir berkabar, ia sedang merevisi dan langsung minta tanda tangan dosen penguji dan pembimbing.

Mahasiswa kedua, agak sedikit berbeda. Ada beberapa pertanyaan saat ujian yang justru menyasar hal-hal yang sebelumnya sudah dianggap selesai oleh dosen pembimbing.

Setelah ujian, ia mengabari dengan sedikit kurang semangat. Namun, saat menjelang sore ia kembali berkabar. Ternyata ia lulus dengan hasil ujian yang sangat memuaskan, alias poin A.

BACA: List Mahasiswa Bimbingan Saya

Sebagai dosen pembimbing saya pasti ikut senang. Ada mahasiswa bimbingan saya lulus dengan hasil memuaskan. Dengan hal seperti ini saya juga belajar untuk menyusun strategi yang lebih baik dan efektif cara menghadapi ujian.

Setidaknya, teman-teman yang percaya pada saya untuk saya dampingi bisa menikmati hasil sesuai harapan. Tetap semangat untuk teman-teman semuanya.

Ada satu teman lagi yang mengambil paket bimbingan juga. Ia sudah menyelesaikan bimbingan, sudah mendaftar ujian. Tinggal menunggu jadwal.

Jika, jadwal tidak bisa terkejar di semester ini, mudah-mudahan semester depan bisa selesai.

The post Sempurna. Dua Mahasiswa Bimbingan LULUS appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/mahasiswa-bimbingan-skripsi-lulus/feed/ 0 606
Wawancara Skripsi tentang Film https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-tentang-film/ https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-tentang-film/#respond Fri, 11 Jul 2025 02:23:59 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=600 10 Juli 2025. Saya melayani seorang mahasiswa saya yang ingin wawancara terkait skripsinya. Ia diminta dosennya untuk menambahkan wawancara ahli untuk semakin memperkuat argumentasi dan analisisnya. Jadi ceritanya begini. Erwin adalah mahasiswa bimbingan saya. Ia mengambil paket bimbingan skripsi intensif yang saya sediakan. Ia memilih tiga pertemuan. Pertemuan pertama sudah kami jalankan beberapa waktu lalu. […]

The post Wawancara Skripsi tentang Film appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
10 Juli 2025. Saya melayani seorang mahasiswa saya yang ingin wawancara terkait skripsinya. Ia diminta dosennya untuk menambahkan wawancara ahli untuk semakin memperkuat argumentasi dan analisisnya.

Jadi ceritanya begini. Erwin adalah mahasiswa bimbingan saya. Ia mengambil paket bimbingan skripsi intensif yang saya sediakan. Ia memilih tiga pertemuan.

Pertemuan pertama sudah kami jalankan beberapa waktu lalu. Kami membahas teori dan juga model analisis yang harus ia lakukan terhadap film yang ia teliti.

Oh ya, Erwin tidak meneliti konten film. Ia hanya meneliti posternya saja. State of Art dari penelitiannya ini adalah poster film ini pernah meraih juara dalam ajang lomba poster film.

Jadi, setelah ia melakukan analisis di Bab IV, ia diminta oleh dosen pembimbingnya untuk melakukan wawancara ahli semiotika. Jadilah wawancara skripsi tentang film ini kami realisasikan.

Kebetulan saja, saya adalah pembimbing eksternalnya, yang banyak mengakrabi semiotika. Saya juga rutin membuat konten tentang semiotika dan filsafat di akun TikTok saya, @dunia.dosen.

Jadilah ia menghubungi saya untuk melakukan wawancara, sekaligus bimbingan. Kalau pada pertemuan pertama kami lakukan bimbingan secara online, maka sekarang offline. Biar sekalian ngobrol.

Kamis kemarin itu, saya lumayan padat. Ada kerjaan bareng dua teman dosen di Universitas Bung Karno, hingga malam.

Dan di sela-sela itu, saya menjamu Erwin untuk wawancara skripsi tentang film, sekaligus bimbingan.

Hampir dua jam kami ngobrol dan wawancara tentang skripsinya. Saya memberikan banyak masukan agar ia bisa mengerjakan skripsinya dengan baik, terutama strategi dalam membuat pembahasan di Bab IV.

Selain itu, kami juga ngobrol tentang keseharian, pekerjaan, dan juga bayangan tentang masa depan.

Inilah salah satu hal yang saya suka. Banyak cerita dengan teman-teman mahasiswa tentang keseharian dan bayangan masa depan mereka, membuat saya banyak mendapatkan ide-ide baru.

Pada prinsipnya, jalani apa yang ada sekarang dengan penuh semangat. Hal-hal baik akan membukakan jalan di depan.

The post Wawancara Skripsi tentang Film appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-tentang-film/feed/ 0 600
Wawancara Skripsi Semiotika Peirce https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-semiotika-peirce/ https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-semiotika-peirce/#respond Fri, 13 Jun 2025 05:09:48 +0000 https://steveelu.satutenda.com/?p=589 Hari ini, 11 Juni 2025, saat kembali dari kampus, saya singgah Bintaro. Saya sudah membuat janji dengan seorang mahasiswa UIN Jakarta. Ia ingin wawancara saya sebagai narasumber untuk penelitiannya. Rudi, nama mahasiswa tersebut, sedang menyelesaikan skripsinya. Ia mengkaji cover majalah Tempo berjudul “Ugal-Uagalan Paman Gibran”. Ia mengulas cover tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotika Peirce. Secara […]

The post Wawancara Skripsi Semiotika Peirce appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
Hari ini, 11 Juni 2025, saat kembali dari kampus, saya singgah Bintaro. Saya sudah membuat janji dengan seorang mahasiswa UIN Jakarta. Ia ingin wawancara saya sebagai narasumber untuk penelitiannya.

Rudi, nama mahasiswa tersebut, sedang menyelesaikan skripsinya. Ia mengkaji cover majalah Tempo berjudul “Ugal-Uagalan Paman Gibran”. Ia mengulas cover tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotika Peirce.

Secara umum, ia sudah mengerjakan skripsinya hingga selesai. Namun, saat bimbingan, oleh dosen pembimbingnya disarankan untuk menambah referensi dengan wawancara tiga narasumber.

Pertama, seorang dosen yang menekuni semiotika, seorang lagi yang bergelut di bidang ilustrasi atau desain komunikasi visual, dan seorang lagi dari Tempo, media yang ia kaji halaman depannya.

Lumayan juga tambahan rekomendasi untuk wawancara. Tapi karena ia memang niat untuk lekas menyelesaikan skripsinya, jadilah ia tetap jalani.

“Saya beberapa kali lihat akun Bapak, @dunia.dosen, saat scrolling TikTok. Waktu saya cari dengan kata kunci ‘dosen semiotika’ itu isinya konten bapak semua. Jadilah saya berani kontak Bapak,” ujarnya menjelaskan.

Di akun @dunia.dosen, saya memang banyak mengulas konten terkait semiotika dan filsafat. Juga, saya sering melayani wawancara dan bimbingan teknis skripsi tentang semiotika.

Sudah sekitar tiga tahun terakhir, saya selalu menyediakan bimbingan untuk mahasiswa yang membuat skripsi dengan pendekatan semiotika.

Awalnya, jasa tersebut saya sediakan free alias gratis. Namun, sejak setahun terkahir, saya juga menyediakan paket bimbingan berbayar bagi mereka yang memang membutuhkan bimbingan intens.

BACA: Bimbingan Skripsi Gratis dan Berbayar

Seperti kemarin, 10 Juni 2025, saat selesai kelas, saya menemui juga seorang mahasiswi dari Universitas Telkom Bandung.

Ia pun sama, menulis skripsi tentang alisis lirik lagi dengan pendekatan semiotika Peirce. Namun, ia adalah mahasiswa bimbingan intens alias berbayar.

Kami banyak mengulas tentang skripsi yang ia kerjalan. Ia memang masih butuh usaha dan konsentrasi untuk menulis analisis dan pembahasan di Bab IV.

Semoga mereka semua berhasil. Dan itu pasti membawa kegembiraan bagi saya juga.

The post Wawancara Skripsi Semiotika Peirce appeared first on Stefanus Poto Elu.

]]>
https://steveelu.satutenda.com/wawancara-skripsi-semiotika-peirce/feed/ 0 589